Jumat, 16 November 2018

Radikalisme Bukan Melulu Terkait Motif Anti-Barat

Pada 7 November 2018 yang lalu, Badan Litbang dan Diklat menyelenggarakan  International Symposium on Religious Life di Yogyakarta. Kepala Balitbang Diklat, H Abdurrahman Mas'ud dalam simposium yang bekerjasama dengan The Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) ini, menegaskan bahwa radikalisme bukan hanya terkait mtif anti-Barat. 

Kaban juga meyampaikan hasil beberapa studi mengenai sikap keagamaan masyarakat menggambarkan adanya jarak sosial antara kelompok-kelompok etnik dan umat antaragama, menguatnya penggunaan politik identitas, dan meningkatnya intoleransi dan konservatisme.

Potensi radikalisme di kalangan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) berdasarkan temuan penelitian Badan Litbang dan Diklat berkategori mengkhawatirkan, di mana terdapat kecenderungan radikalisme meningkat dari waktu ke waktu. Hal itu terjadi di semua agama. Namun, perkembangan radikalisme di Indonesia menunjukkan ada perbedaan pola dengan kesimpulan dan teori-teori besar arus utama radikalisme yang ada.

Menurut Mas’ud, sementara studi-studi konvensional menunjukkan potensi radikalisme acap kali dimotivasi dan didasarkan pada konteks sosio-politik gerakan anti-Barat, penelitian Badan Litbang dan Diklat menggunakan gabungan pendekatan kuantitatif dan kualitatif menunjukkan temuan berbeda.

Pertama, potensi radikalisme muncul di kalangan siswa karena faktor internalisasi pemahaman agama yang cenderung ideologis dan tertutup serta tidak melulu  terkait dengan gerakan radikalisme yang secara politis didasarkan pada motif anti-Barat. Kedua, potensi radikalisme yang didasarkan pada pemahaman ideologis yang cenderung kaku dan hitam putih terjadi di semua agama, baik di kalangan Muslim, Katolik, Kristen, Hindu maupun Budha.

Untuk itu, Mas’ud merekomendasikan beberapa hal. Pertama, perlu merumuskan konsep dan perspektif teoritis tentang Islam moderat yang bisa dipahami dan memperkuat masyarakat. Kedua, perlu menyebarkan seluruh sumber daya arus utama Islam moderat. Ketiga, menginternalisasikan dan menebarkan pendidikan Islam yang santun, toleran, dan rahmatan lil’alamin. Keempat, pembentukan karakter siswa bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat. (Kendi Setiawan)

Source NU online

#muslimsejati 

Kamis, 15 November 2018

Sekjen PBNU: Dakwah Menebar Kebencian Bukan Ajaran Nabi Muhammad

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faisal Zaini menyinggung orang-orang yang berdakwah tetapi diselipi ujaran kebencian. Menurutnya, pendakwah demikian jauh dari ajaran Nabi Muhammad.

"Jadi kalau sekarang bertebaran ada orang-orang yang mengatasnamakan syiar Islam, tapi dalam dakwahnya hobinya hanya menebar kebencian menebar teror menebar permusuhan hampir kita pastikan ini jauh dari tuntunan nabi besar Muhammad," katanya di kediaman cawapres Ma'ruf Amin, Jalan Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (14/11).
Dia menjelaskan, Nabi Muhammad mengajarkan Islam sebagai agama yang ramah, tidak marah. "Islam adalah agama yang merangkul bukan memukul. Islam adalah agama yang mengajak bukan mengejek," jelasnya.

Helmy menambahkan, dakwah Islam di Indonesia adalah yang ramah. Hal itu menjadi bukti kebesaran bangsa sebagai negara muslim terbesar.

Dia menjelaskan, dari keseluruhan umat Islam di Indonesia, ada 10 persen yang tidak melakukan Maulid Nabi. Dia berharap jika Ma'ruf Amin menjadi wakil presiden, 10 persen ini bakal mengikuti Maulid Nabi.

"InsyaAllah nanti Kiai Ma'ruf Amin jadi wakil presiden yang 10 persen ini menjadi 100 persen umat Islam ini cinta terhadap Nabi Muhammad," tutupnya. [fik]


Sumber : http://www.muslimoderat.net/2018/11/sekjen-pbnu-dakwah-menebar-kebencian.html#ixzz5WwCWSuq3

Rabu, 14 November 2018

Abdurrahman Mas’ud: Islam Wasathiyah Mampu Bendung Gerakan Keagamaan Menyimpang

Abdurrahman Mas’ud: Islam Wasathiyah Mampu Bendung Gerakan Keagamaan Menyimpang
Senior Official Meeting (SOM) Menteri-menteri Agama, Selasa (13/11)
Kendi, NU Online | Rabu, 14 November 2018 15:30
Bandar Seri Begawan, NU Online
Di tengah gencarnya wacana keagamaan yang beragam di Indonesia, kita tetap optimis akan peran sentral Islam Wasathiyah. Pasalnya, kelompok utama di Indonesia ini akan mampu membendung berbagai gerakan yang berseberangan atau menyimpang dari kultur dan tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Balitbang Diklat Kemenag RI, H Abdurrahman Mas'ud, dalam Pertemuan Tahunan Tidak Resmi Senior Official Meeting (SOM) Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) di Brunei Darussalam, Selasa (13/11). 

“Segencar apa pun wacana keagamaan yang dipandang menyimpang, Indonesia akan tetap kokoh dengan semangat moderasi Islam. Sebab, kapal tidak akan karam karena ombak yang tinggi. Melainkan karena ada air yang masuk ke dalamnya,” ujar Mas’ud berfilosofi.

“Apalagi dalam konteks hubungan antaragama, di mana Indonesia memiliki anutan yang beragam, telah ada tali-ikat yang kuat dalam bentuk Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945 sebagai kesepakan yang final,” tambahnya.

Guru Besar UIN Walisongo ini mencontohkan dinamika wacana Islam Liberal (Islib) di Indonesia. Islib memiliki unsur maslahat dan mudaratnya sekaligus. Manfaatnya, gagasan ini mendorong umat Islam untuk melakukan kontekstualisasi dan fungsionalisasi nilai-nilai ajaran Islam sesuai dengan kebutuhan dan tantangan zaman.

“Untuk konteks Indonesia, pengusung gagasan Islam Liberal sangat akrab dengan sumber-sumber keagamaan klasik dalam bentuk kitab kuning. Bahkan, sang pengusung, Ulil Abshar Abdalla, belakangan ini mendirikan pesantren online yang mengkaji naskah-naskah klasik karya ulama abad pertengahan, seperti Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali, Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rushd, dan lain-lain,” ujar Mas’ud.

Sementara mudaratnya, lanjut dia, gerakan Islam Liberal merupakan pemikiran yang acap kali berseberangan dengan paham keagamaan mainstream di Indonesia. Hal ini bahkan sampai pada pengembangan wacana keagamaan terkait dengan masalah sosial moderen seperti LGBT, liberalisme agama, dan sebagainya.

Kasus Islam Liberal untuk konteks Indonesia, kata Mas'ud, agak berbeda, karena lebih bernuansa gerakan pemikiran, bukan aksi dan praktik sosial. Bahwa ada pemikiran tentang perkawinan sejenis, perkawinan antar-agama, dan lain-lain di kalangan jaringan ini, hal itu lebih merupakan respons atas fenomena yang muncul di masyarakat. "Sayangnya, respons kelompok ini dipandang sebagai sikap akomodatif terhadap praktik sosial yang menyimpang tersebut,” paparnya.

Doktor jebolan UCLA Amerika Serikat ini menambahkan, selain gerakan Islam Liberal, juga muncul kelompok lain yang berseberangan dalam bentuk pemikiran tekstual dan skriptural. Kelompok tersebut sangat semangat menjalankan ajaran Islam secara murni dan konsekuen sesuai dengan Quran dan Hadits.

“Kelompok ini mengusung gagasan khilafah, Islam politik, dan semangat keagamaan yang mengabaikan pluralitas anutan keagamaan. Mereka menolak perbedaan tradisi dan khazanah lokal. Berbagai hal yang dipandangnya bertentangan dengan ajaran Islam juga ditolak,” tandas Mas’ud.

Menurut pria asal Kudus ini, mencermati kedua wacana yang saling berhadapan tersebut, negara kemudian mengusung pemikiran jalan tengah dalam bentuk Islam Wasathiyah, Islam Moderat, dan Moderasi Agama. “Semangat ini didasarkan atas pemahaman keagamaan mainstream di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama yang mengusung spirit Islam Nusantara dan Muhammadiyah dengan semangat Islam Berkemajuan,” tuturnya.

Pada sesi awal, Kepala Balitbang Diklat Kemenag Abdurrahman Mas'ud sebagai perwakilan Indonesia mempresentasikan makalah dalam bentuk panel bersama perwakilan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Hadir juga pada pertemuan tersebut, Sekjen Kemenag Nurcholis Setiawan, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, dan sejumlah pejabat eselon II.

Dalam agenda tahunan tidak resmi Menteri-Menteri Agama empat negara yang berlangsung di Ibu Kota Brunei Darussalam selama sepekan, 12-16 Nopember 2018 ini, Kepala Balitbang Diklat didampingi dua kepala bidang (kabid) dari Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, yakni Kabid Litbang Pendidikan Keagamaan, Muhammad Murtadlo; dan Kabid Litbang Pendidikan Agama dan Pendidikan Tinggi Keagamaan, Huriyudin. (Musthofa Asrori/Kendi Setiawan)

#muslimsejati
  • http://www.nu.or.id/post/read/98927/abdurrahman-masud-islam-wasathiyah-mampu-bendung-gerakan-keagamaan-menyimpang

Selasa, 13 November 2018

Wapres JK Mendorong Masjid Kampus Dapat Tangkal Paham Radikalisme

Selasa, 13 November 2018 | 15:29 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka Rapat Kerja Nasional Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) di Auditorium Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta (10/9/2018).

KOMPAS.com - Dalam Rapat Kerja Nasional Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) di Auditorium Gedung D Kemenristekdikti, Jakarta (10/9/2018), Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir berharap kepengurusan masjid kampus berasal dari pihak kampus dan tidak oleh pihak luar kampus.
Mohamad Nasir menambahkan hal ini bertujuan agar masjid kampus tidak disisipi paham-paham radikalisme dan intoleransi.
Menristek juga meminta para pengurus masjid kampus saling berkoordinasi dan berkolaborasi. Menteri Nasir berharap masjid dengan pengelolaan baik dapat menjadi contoh bagi masjid kampus lain.

Masjid tempat pendidikan karakter

“Keberadaan Asosiasi Masjid Kampus ini sangat penting bagi penguatan pengelolaan masjid di perguruan tinggi. Dengan adanya asosiasi ini masjid-masjid kampus dapat bersinergi. Masjid kampus juga dapat melakukan inovasi seperti membuat sistem informasi jadwal pengajian, siapa yang menjadi penceramah,” ujar Menteri Nasir seperti dikutip dari rilis Kemenristekdikti.
Baca juga: Menristekdikti: Mana Capres yang ke Kampus? Saya Panggil Rektornya!
Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang membuka rapat kerja ini juga berharap masjid kampus selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga sebagai pusat aktivitas berdiskusi dan mengembangkan keilmuan.
JK ingin masjid dijadikan sebagai tempat pengembangan karakter mahasiswa, salah satunya dalam hal kedisiplinan.
“Kalau rajin ke masjid pasti disiplin waktu dia pasti lebih baik. Kita butuhkan para mahasiswa, bagaimana ilmunya makin baik, tingkat pengetahuannya makin baik,” ujar Wapres JK saat membuka rapat kerja.

Masjid tangkal paham radikal

Pada kesempatan ini Wapres JK mendorong masjid terus menjadi tempat pembentukan karakter masyarakat Indonesia yang moderat (wasatiyyah). Masjid kampus hendaknya dapat menangkal penyebaran paham radikal di perguruan tinggi.
Wapres mengingatkan kepada para pengurus masjid kampus untuk dapat mengelola masjid kampus dengan baik sehingga dapat menjadi teladan bagi masjid-masjid di sekitar kampus.
“Kalau masjid kampus baik, akan jadi contoh untuk masjid yang lain dan sekitarnya. Maka dari itu harapan kita mudah-mudahan semuanya berjalan dengan baik, dan juga bagaimana saling membantu,” ujar Wapres JK.
Rakernas Asosiasi Masjid Kampus Indonesia (AMKI) tahun ini mengusung "Tema Penguatan Fungsi Masjid Kampus dalam Pembangunan Karakter Mahasiswa".
Menteri Nasir mengatakan tidak ada regulasi khusus soal kepengurusan masjid kampus. Ia menyerahkan soal regulasi tersebut kepada asosiasi masjid kampus dan pimpinan perguruan tinggi masing-masing.
Rakernas ini dihadiri oleh Ketua Umum AMKI Kresno Dipojono, Pengurus Pusat AMKI dan perwakilan Pengurus wilayah AMKI seluruh Indonesia. Turut hadir dalam acara ini Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Intan Ahmad dan tamu undangan lainnya.

#muslimsejati
Sumber:https://edukasi.kompas.com/read/2018/11/13/15291301/wapres-jk-mendorong-masjid-kampus-dapat-tangkal-paham-radikalisme

Senin, 12 November 2018

Islam Agama Cinta dan Kasih Sayang Bukan Agama Radikal dan Kekerasa
ARN00120040015161_Islam_Agama_Cinta“Kita mempunyai beberapa ayat yang menjelaskan bahwa ISLAM harus disampaikan dengan benar, bukan pemaksaan. Hal ini membuktikan bahwa islam tidak menggunakan kekerasan terhadap seseorang dengan mengatakan, menerima islam atau mati”.
Salah satu embrio konflik yang mengancam kehidupan beragama dan bermasyarakat adalah adanya teori keharusan dan paksaan dalam memilih suatu agama atau mazhab tertentu. Sebuah masyarakat mungkin saja bisa hidup damai berdampingan dengan menjaga konsep ajaran-ajaran agamanya dari beberapa pengikut agama dan golongan yang bermacam-macam.
Adanya teori keharusan dan paksaan dalam suatu ajaran agama dapat mengancam keberagamaan dan toleransi terhadap golongan-golongan masyarakat tertentu. Karena ketika suatu agama solid dan kuat serta mempunyai faham dan konsepsi demikian, maka ia akan memaksa pengikut agama lainnya untuk meninggalkan keyakinan mereka. Hal ini tidak hanya mengancam problem kehidupan sosial pengikut agama-agama lainnya, bahkan mengancam nyawa seseorang dan harta-harta mereka. Sebagaimana sejarah mencatat perlakuan diskriminatif dan penderitaan golongan minoritas.
Indonesia adalah negara dengan jumlah muslim terbanyak di dunia, tentu indonesia harus memperhatikan skala prioritas dalam berpikir dan bertindak. Para ulama dan para intelektual Islam sudah semestinya tahu betul bahwa ada sesuatu yang harus didahulukan dari pada yang lain.
Islam adalah kata kunci bagi sebuah persatuan. Setiap muslim berkewajiban untuk membela Islam, umat Islam harus sadar bahwa mazhab-mazhab yang ada, hanyalah cabang-cabang saja. Karena itu seorang muslim tidak boleh terperangkap oleh isu kemazhaban. Sunni-Syiah laksana gelombang-gelombang kecil dalam kehidupan alam semesta ini, ada induknya gelombang dan itu adalah Islam. Persatuan adalah kata kunci untuk kemajuan umat Islam, jangan hanya karena sentimen mazhab kita mengabaikan nasib sesama kaum muslimin. Agama Islam memerintahkan penganutnya untuk memberikan pembelaan. Karena menganiaya atau membunuh satu manusia sama dengan menganiaya atau membunuh seluruh manusia.

Para ulama saat ini harus melihat kemuliaan Islam, membela kemuliaan Islam. Karena itu setiap umat Islam wajib memiliki keyakinan bahwa Islam adalah agama yang mulia dan agama yang mulia adalah agama yang menolak kekerasan, menolak radikalisme, menolak tindakan intoleran. Karena kekerasan, radikalisme, terorisme sesungguhnya mencoreng wajah Rasulullah SAW, menodai wajah umat Islam dan menghancurkan Islam itu sendiri. A
Apa yang terjadi di Irak, Suriah dan beberapa negara lain di dunia terjadi pembunuhan manusia yang tak berdosa atas nama agama, menghancurkan sejumlah peninggalan sejarah umat manusia dan itu semua telah menghancurkan kemuliaan Islam.Karena itu, para ulama, para intelektual Islam, wajib memperhatikan untuk menjaga kemuliaan Islam.

Islam yang masuk ke Indonesia dan Asia tidak dengan jalan kekerasan, bukan dengan pedang tapi masuk dengan ilmu dan peradaban. Karena Islam adalah agama cinta, Islam adalah kasih sayang, Islam adalah agama yang membangun peradaban, Islam dibangun atas ilmu dan akhlak. Kemudian dia memberikan contoh bagaimana Rasulullah SAW ketika ke Madinah membawa Islam, Rasulullah SAW tidak mengusir orang Yahudi, tidak mengusir orang Nasrani, tidak mengusir orang musyrik bahkan tidak mengusir para munafik.
Rasulullah Saw menunjukkan bahwa Islam bisa hidup bersama dengan non-Muslim, bahkan Islam bisa memberikan perlindungan terhadap penganut agama lain. Sedangkan para musuh Islam atau kelompok-kelompok yang anti Islam, kini tengah berusaha untuk  menyebar kebohongan dengan mengatakan bahwa Islam adalah agama kekerasan, Islam adalah agama radikal, Islam adalah agama teroris. Oleh karena itu, kita wajib melawan setiap kelompok yang membawa Islam dengan cara-cara yang radikal dan cara terorisme, karena hal itu akan merusak wajah Rasulullah dan Islam.

Islam adalah agama peradaban, agama ilmu yang menghidupkan jiwa dan akal manusia. Islam membangun manusia dengan cinta dan kesucian. Cita-cita ajaran Islam yang dijadikan warisan oleh Allah untuk membangun peradaban, hanya akan mengalami kemajuan jika ditegakkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka jihad dalam Islam bukan dengan pedang tapi dengan logika. Islam memerintahkan untuk menjaga tempat-tempat ibadah, baik milik Nasrani ataupun Yahudi. 
Tugas para ulama dan cendekiawan yang paling penting adalah mewariskan Islam ini kepada generasi-generasi muda, Islam yang damai, Islam yang penuh dengan cinta  dan kasih sayang. Generasi muda Islam harus menerima Islam yang siap membangun manusia dan kemanusiaan dan tidak boleh tercemari oleh pikiran-pikiran yang bisa merusak tatanan dunia oleh pikiran takfiri radikal dan tidak toleran

Minggu, 11 November 2018

Menag: Tidak Ada Kesepakatan tentang Bendera Tauhid

Menag: Tidak Ada Kesepakatan tentang Bendera Tauhid
Foto: Kemenag.go.id
Abdullah, NU Online | Ahad, 11 November 2018 05:12
Bandung, NU Online 
Viral di media sosial adanya kesepakatan pada pertemuan antara pemerintah dengan sejumlah tokoh umat Islam di Kemenko Polhukam, Jumat, 9 November 2018, bahwa bendera tauhid bukan bendera terlarang. Pertemuan ini dihadiri, Menko Polhukam Wiranto, Menag Lukman Hakim Saifuddin, serta perwakilan PBNU, MUI, FPI, dan sejumlah ormas Islam lainnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memastikan tidak ada kesepakatan tentang apa itu "bendera tauhid". Ia menegaskan bahwa yang disepakati dalam pertemuan itu adalah semua pihak memuliakan "kalimat tauhid". 

Selanjutnya Menag secara eksplisit menyatakan bahwa persoalan saat ini adalah bagaimana cara memuliakan "kalimat tauhid" tersebut. Sebab, seiring kebebasan berekspresi, orang melakukan bermacam-macam tindakan dengan menggunakan tulisan "kalimat tauhid".

"Ini tentu domain ulama untuk memberikan arahannya," jelas Menag usai upacara Peringatan Hari Pahlawan di Bandung, sebagaimana diberitakan Kemenag.go.id, Sabtu (10/11).

"Jadi, yang disepakati adalah bahwa kalimat tauhid harus dimuliakan. Tapi bagaimana cara kita memuliakannya, di sini masih beragam pandangan," tandasnya. 

Menurut Menag, banyak pertanyaan muncul di masyarakat. Bolehkah kalimat tauhid dipasang di jaket, kaos, topi, stiker, bendera, dan lainnya yang saat digunakan justru berpotensi terhinakan karena dikenakan tidak pada tempatnya? 

Menag menilai bahwa hal itu menjadi domain para ulama, pimpinan MUI, dan tokoh ormas Islam untuk merumuskan ketentuannya. 

"Ketentuan tersebut diperlukan agar didapat cara pandang yang sama di kalangan umat dalam memuliakan kalimat tauhid,"  jelasnya. (Red: Abdullah Alawi)



Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/98749/menag-tidak-ada-kesepakatan-tentang-bendera-tauhid

Sabtu, 10 November 2018

HARI PAHLAWAN, MOMENTUM BERSYUKUR ATAS NIKMAT KEMERDEKAAN

Pringsewu, NU Online10 November 1945 menjadi momentum bersejarah dan berharga bagi bangsa Indonesia dalam mewujudkan kemerdekaan yang saat ini bisa dirasakan nikmatnya oleh para generasi penerus bangsa. Sudah menjadi keharusan bagi generasi yang tidak ikut berjuang mengangkat senjata merebut kemerdekaan dengan darah dan nyawa, untuk bersyukur kepada Allah SWT dengan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini.

Penegasan ini dikatakan Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung KH Sujadi dalam suasana memperingati Hari Pahlawan, Sabtu (10/11). Bupati Pringsewu ini juga mengingatkan pentingnya mendoakan para pahlawan dan syuhada agar diterima amal perjuangannya dan ditempatkan oleh Allah SWT di sisiNya yang mulia.

"Semoga Allah SWT memberi kekuatan lahir dan bathin kepada kita untuk meneruskan perjuangan para pahlawan dan syuhada dengan membangun Pringsewu menuju daerah yang Baldatun Thoyyobatun wa Rabbun Ghafur dengan ridho Allah SWT. Semoga kita mendapatkan rahmat dan berkah. Selamat Hari Pahlawan," ungkapnya kepada NU Online.

Di tempat terpisah, Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Kabupaten Pringsewu Ahmad Rifai mengungkapkan bahwa hari pahlawan harus menjadi momentum untuk menanamkan nasionalisme sekaligus menjaga persatuan dan kesatuan khususnya kepada para generasi muda.

"Generasi muda, para pelajar harus terus dididik untuk menghargai jasa para leluhur bangsa dan para syuhada. Mereka juga harus diberi pemahaman tentang keberagaman untuk meningkatkan rasa solidaritas kepada sesama," anjurnya.

Para generasi muda juga harus terus didorong untuk aktif mengisi kemerdekaan melalui aktif dalam segala kegiatan yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

"Jika setiap elemen bangsa khususnya pemuda mampu mengisi dengan aktif kemerdekaan, maka insya Allah akan tercipta masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera," ungkap pria yang juga Kepala MTs Ma'arif NU Pajaresuk ini.

Apalagi generasi saat ini yang sering disebut generasi milenial, merupakan segmen mayoritas yang mencapai 40 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Jumlah persentase ini akan melonjak pada 2025 sebanyak 60 persen di mana Indonesia akan mendapatkan masa bonus demografi. Dan ini tentunya para generasi muda saat nanti akan menjadi salah satu penentu utama keberlangsungan bangsa ini.

"Mereka harus mewarisi spirit perjuangan para pejuang bangsa yang berasal dari berbagai kelompok agama dan suku. Di tengah perbedaan, mereka bisa bersatu merebut kemerdekaan. Saatnya sekarang di tengah kebhinekaan dan kemajuan ilmu serta teknologi generasi muda harus lebih semangat mempertahankan NKRI dengan mengisi kemerdekaan ini," pungkasnya. (Muhammad Faizin)

Link: http://www.nu.or.id/post/read/98720/hari-pahlawan-momentum-bersyukur-atas-nikmat-kemerdekaan