Selasa, 16 Oktober 2018

Ilmu Tangkal Radikalisme Kepada Penyuluh Agama


MANADO, TRIBUNMANADO.CO.ID - Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bekerjasama dengan Forum Koordinasi Pencegahan Teroris (FKPT) Sulut, membekali ratusan penyuluh agama dari Kota Manado dan  Kabupaten Minahasa, dengan ilmu pengetahuan tentang  upaya memangkal dan menghadapi pahamradikalisme.
Kegiatan yang bertajuk ‘’Penguatan Kapasitas Penuyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme’’ dihadiri Kepala Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Dr, Hj Andi Intang Dulung, Ketua FKPT Sulut James Tulangouw, SE, dan Kepala Bidang Agama FKPT Sulut, Dr Nasrudin Yusuf juga sebagai Sekretaris MUI Sulut di Hotel Mercure Tateli, Kabupaten Minahasa, baru-baru ini.
‘’BNPT  mengimbau kepada guru-guruagama dan penyuluh agama untuk terus mengsosialisasikan ke anak didik, keluarga dan teman-teman mengantisipasi paham readikalisme dan teroris,’’ kata Kepala Sub Direktorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Dr Hj Andi Intang Dulung dihadapi ratusan peserta.
Andi menegaskan, kewaspadaan terhadap terorisme dan radikalisme yang dilakukan kelompok jaringan terorisme bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah, tetapi semua pihak termasuk penyuluh agama harus ikut berperan aktif.
‘’Aparat harus bersinergi dengan instansi terkait, penyuluh agama dan masyarakat dalam penyeleksi setiap tamu yang datang dan keluar. Penyuluh agama harus bisa membimbing masyarakat agar menghindari bahaya laten radikalisme dan teroris,’’ ujarnya.
Sementara itu, Ketua FKPT Sulawesi Utara James Tulangow, SE mengatakan, FKPT mendukung pemerintah dalam rangka pencegahan penyusupan pahamradikalisme, apalagi massukknya teroris di wilayah Sulawesi Utara.  Budaya hidup kearifan local yang menjaga kerukunan dan kedamaian masyarakat  Sulawesi Utara selama ini harus dipertahankan.
 ‘’Itu sebagai salah satu upaya menangkal masuknya paham radikalisme yang dapat merusak kehidupan kerukunan antarumat beragama. FKPT Sulut mengajak seluruh komponen masysrakat terlebih khusus para penyuluh agama agar terus mengantisipasi masuknya paham radikalisme dan terorisme serta memberi pemahaman kepada anak didik tidak mudah yerpancing dan terhasut,’’ ujarnya.
Pada acara yang berlangsung sehari ini dihadiri Kepala satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Minahasa, Maeidy Rengkuan mewakili Bupati Minahasa, Royke O Roring, Kasat Intel Polresta Manado, Kompol Adri Latela, dan  Dr Moh Monib sebagai nara sumber BNPT.    
#muslimsejati
Sumber :http://manado.tribunnews.com/2018/10/16/bnpt-bekali-ilmu-tangkal-radikalisme-kepada-penyuluh-agama

Senin, 15 Oktober 2018

Habib Umar: Pertemuan Lintas Agama, Solusi Masalah Umat

Rozali, NU Online 

Jakarta, NU Online
Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz atau yang lebih dikenal dengan panggilan Habib Umar, menyatakan bahwa pertemuan para tokoh agama itu sangat penting. Sebab, banyak persoalan-persoalan mendasar tentang umat manusia yang bisa dibicarakan sehingga mendapatkan penyelesaian.

"Pertemuan ini sangat penting karena ini merupakan di dalamnya insyaallah menjadi penyelesaian berkenaan tentang hal-hal problem-problem umat manusia," Kata Habib Umar dalam acara Dialog Peradaban Lintas Agama yang diselenggarakan atas kerja sama antara Pengurus Syuriyah PBNU, Majelis Muwasholah dan Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Sabtu (13/10).

Kegiatan yang mengusung tema  "Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa atas Dasar Rahmat Kemanusiaan" ini dihadiri sejumlah tokoh agama, seperti KH Afifuddin Muhajdir, Yeni Wahid, KH Mustofa Aqil Siroj, Romo Magnis Suseno, Pdt Martin Lukito Sinaga, dan Bikhu Dhammasubho Mahathera.

Menurut Habib Umar, setiap agama telah mengatur tentang peran dan tanggung jawab manusia dalam menjalani kehidupan di antara sesama.

"Kita semua dengan beragam agama, dari agama yang berbeda-beda dan dipadukan dengan hal-hal pokok dan dasar, yang mempersatuakan kita semua dan mempersatukan setiap orang-orang yang berakal," Ucap habib yang juga pengasuh Pesantren Darul Musthafa Tarim, Hadramaut, Yaman itu.

Oleh sebab itu, semua umat manusia dari berbagai latar belakang agama diharapkan agar menjaga persatuan sehingga stabilitas dan keamanan tetap terjaga. Sebab, katanya, jika umat tidak bersatu, maka dikhawatirkan ada provokasi atau bujukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga berdampak pada perpecahan.

"Setiap orang yang berakal setuju bahwa mencurahkan pemikiran untuk menjaga keamanan dan kedamaian yang akan membawa kebaikan," jelasnya. (Husni Sahal/Ahmad Rozali)

Minggu, 14 Oktober 2018

Upaya menangkal radikalisme

Islam dan Kebudayaan Nusantara terangkai dalam Dies Natalis Universitas Diponegoro (Undip) ke-61. Semarang. A Acara mengaji bertema menangkal radikalisme dengan kebudayaan Nusantara tersebut dilaksanakan usai salat Isya di Lapangan Widya Puraya Undip, pekan lalu.
Tujuan diadakan acara penga­jian ini untuk mengenalkan Islam yang berkebudayaan di Undip. Acara ini mengangkat tema Ngaji Kebangsaan bertujuan untuk menanamkan semangat, mem­berikan pemahaman hubungan antara kebangsaan dan nasionalisme, mem­berikan pemahaman Islam rahmatan lil ‘alamin pada budaya dan kearifan lokal.
“Tema kebudayaan dalam Islam sangat menarik untuk memperkenal­kan Islam yang berkebudayaan kepada mahasiswa Undip dan masyarakat. Kegiatan dakwah Islam ini berlang­sung dengan baik. Harapan kami ngaji kebangsaan ini bermanfaat utamanya bagi mahasiswa dan pesan dakwah dapat tersampaikan,” ungkap Redyanto Noor, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip.
Rangkaian acara ngaji kebangsaan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, hiburan dari Rebana Undip, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Mel Shandy, prakata dari Redyanto Noor, serta uraian tausiah dari Profe­sor Yos Johan Utama (Rektor Undip), dakwah oleh Zastrow Al-Ngatawi (Budayawan) bersama kelompok musik etnik Ki Ageng Ganjur dan dakwah oleh Habiburrahman El Shirazy (Penulis Novel Ayat-Ayat Cinta).
Habiburrahman menyampaikan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh ulama dan ahli tasawuf dengan penuh cinta. Islam di Indone­sia sebenarnya indah dan damai. Para ulama mengajarkan untuk menjaga kerukunan bangsa Indonesia seper­ti yang sudah tertera dalam Pancasila sebagai dasar negara. Namun diru­sak oleh paham-paham radikalisme melalui kekerasan sehingga merusak kerukunan bangsa Indonesia.

“Saya tertarik dengan acara ini ka­rena saya ingin mengetahui bagaimana cara menangkal radikalisme dengan kebudayaan Nusantara. Melalui acara ini saya mendapatkan ilmu yang ber­manfaat. Pengisi acaranya juga sangat menarik seperti penulis novel Ayat-Ayat Cinta,” ungkap Risetya, salah satu pe­serta Ngaji Kebangsaan.
Acara ditutup dengan menyanyikan lagu daerah, pembagian doorprize ke­pada peserta pengajian dan beberapa hiburan.
Ratusan jamaah mulai meramaikan pengajian akbar dalam rangka Dies Natalis Undip ke-61 di Lapangan Widya Puraya Undip.
Acara Ngaji Kebangsaan yang diketuai oleh Eko Rizki Abdul Ghoni kali ini bertujuan untuk menanamkan spirit kepada generasi muda, memberi­kan pemahaman mengenai hubung­an antara agama dan nasionalisme serta pemahaman mengenai Islam yg Rahmatan Lil ‘Alamin yang peka akan budaya dan kearifan lokal.
“Persiapan sudah dimulai sejak pertengahan Agustus dan acara ini dari Kelompok Mahasiswa NU yang beker­jasama dengan Dies Natalis Undip, “ tutur Eni selaku panitia.

Banyak jamaah yang antusias untuk menghadiri pengajian ini baik dari kalangan mahasiswa/i Undip, ibu-ibu Dharma Wanita, maupun masyarakat umum. “Dari acara ini, selain ingin me­nambah ilmu, Saya juga ingin ketemu Mas Habib Rohman penulis novel Ayat-Ayat Cinta,” tutur Ratna, mahasiswa Politeknik Negeri Semarang.
Sementara itu, Fakhriyah, salah satu peserta mahasiswa dari FIB Undip berharap semoga ke depan Undip lebih sering memberikan siraman rohani semacam ini. “Kalau harapan saya sen­diri, saya menginginkan semoga Undip ke depannya bisa lebih sering mem­berikan acara siraman rohani seperti ini,” ujarnya. pur/R-1

Sabtu, 13 Oktober 2018

Ini Tanda Masjid Kampus Terpapar Radikalisme

Purwokerto, NU Online
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal (Pol) Hamli, menyebut masuknya radikalisme di masjid lingkungan kampus dapat ditandai dari aktifitas kajian agama di dalamnya. Tema-tema tertentu dipilih menjadi topik bahasan. 

Ini disampaikan Hamli saat menjadi pemateri di kegiatan Dialog Pelibatan Takmir Masjid Kampus dalam Pencegahan Radikalisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. Kegiatan diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Selasa (9/10). 

Setidaknya ada ratusan civitas akademika dan mahasiswa yang aktif di pengelolaan masjid dari puluhan kampus se-Purwokerto dihadirkan sebagai peserta kegiatan. 

"Identifikasi kami menemukan dua belas tema. Jika itu yang dibahas, ya itu barangnya (radikalisme, Red.)," kata Hamli. 

Tema tersebut adalah thogut, kafir demokrasi, akhir zaman,  hijrah, khilafah atau daulah islamiyah, tauhid, pembatalan keislaman, keutamaan jihad, mati syahid, aqidah, artikel seputar Oman Abdurrahman, dan pembahasan takfiri atau mengafir-kafirkan orang.

“Kedua belas tema tersebutdiberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat paparan radikalisme kepada jamaah,” ungkapnya. 

Dalam pandangan Hamli, awal-awal biasanya masih kajian umum. “Jika sudah banyak yang ikut, sudah kelihatan potensi jamaah yang bisa direkrut (masuk jaringan), temanya semakin mengerucut ke arah aksi terorisme," jelasnya. 

Secara khusus Hamli menjelaskan, tema tauhid yang menandakan radikalisme telah memapar ke sebuah masjid kampus adalah kajian tauhid hakimiyah. Sementara keutamaan jihad dan mati syahid  memiliki korelasi makna berdasarkan penafsiran sepihak jaringan pelaku terorisme. 

"Jihad mereka ya perang, tidak ada lainnya. Mati syahid versi mereka adalah mati dengan cara mengebom atau menyerang aparat keamanan," tegasnya. 

Mantan anggota jaringan pelaku terorisme, Kurnia Widodo, di kesempatan yang sama menambahkan tanda masuknya radikalisme di masjid kampus adalah adanya aktifitas fisik yang dilakukan jamaah di dalamnya. Aktifitas tersebut, biasanya mengarah ke militeristik. 

"Biasanya malam. Diawali baris berbaris, terus koprol-koprol, dan aktifitas lain yang menunjukkan bagaimana cara bertahan di medan perang," kata pria yang divonis 6 tahun penjara atas keterlibatan di kelompok pelaku bom Cibiru, Bandung tersebut. 

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Jawa Tengah Dewan Masjid Indonesia, KH. Multazam Ahmad, menyambut baik adanya informasi tanda telah masuknya radikalisme di masjid kampus. Diakuinya, di beberapa masjid di lingkungan kampus, instansi pemerintah dan badan usaha, saat ini sudah ada yang dikooptasi aktifitasnya oleh kelompok pro radikalisme dan terorisme. 

"Maka kami memberikan saran, seyogyanya takmir masjid kampus secara struktur berada di bawah koordinasi rektor. Ini penting agar setiap aktifitas yang ada di masjid kampus bisa termonitor oleh rektor," pungkas Multazam. (Red: Ibnu Nawawi


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/97074/ini-tanda-masjid-kampus-terpapar-radikalisme-

Ini Tanda Masjid Kampus Terpapar Radikalisme

Purwokerto, NU Online
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal (Pol) Hamli, menyebut masuknya radikalisme di masjid lingkungan kampus dapat ditandai dari aktifitas kajian agama di dalamnya. Tema-tema tertentu dipilih menjadi topik bahasan. 

Ini disampaikan Hamli saat menjadi pemateri di kegiatan Dialog Pelibatan Takmir Masjid Kampus dalam Pencegahan Radikalisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. Kegiatan diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Selasa (9/10). 

Setidaknya ada ratusan civitas akademika dan mahasiswa yang aktif di pengelolaan masjid dari puluhan kampus se-Purwokerto dihadirkan sebagai peserta kegiatan. 

"Identifikasi kami menemukan dua belas tema. Jika itu yang dibahas, ya itu barangnya (radikalisme, Red.)," kata Hamli. 

Tema tersebut adalah thogut, kafir demokrasi, akhir zaman,  hijrah, khilafah atau daulah islamiyah, tauhid, pembatalan keislaman, keutamaan jihad, mati syahid, aqidah, artikel seputar Oman Abdurrahman, dan pembahasan takfiri atau mengafir-kafirkan orang.

“Kedua belas tema tersebutdiberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat paparan radikalisme kepada jamaah,” ungkapnya. 

Dalam pandangan Hamli, awal-awal biasanya masih kajian umum. “Jika sudah banyak yang ikut, sudah kelihatan potensi jamaah yang bisa direkrut (masuk jaringan), temanya semakin mengerucut ke arah aksi terorisme," jelasnya. 

Secara khusus Hamli menjelaskan, tema tauhid yang menandakan radikalisme telah memapar ke sebuah masjid kampus adalah kajian tauhid hakimiyah. Sementara keutamaan jihad dan mati syahid  memiliki korelasi makna berdasarkan penafsiran sepihak jaringan pelaku terorisme. 

"Jihad mereka ya perang, tidak ada lainnya. Mati syahid versi mereka adalah mati dengan cara mengebom atau menyerang aparat keamanan," tegasnya. 

Mantan anggota jaringan pelaku terorisme, Kurnia Widodo, di kesempatan yang sama menambahkan tanda masuknya radikalisme di masjid kampus adalah adanya aktifitas fisik yang dilakukan jamaah di dalamnya. Aktifitas tersebut, biasanya mengarah ke militeristik. 

"Biasanya malam. Diawali baris berbaris, terus koprol-koprol, dan aktifitas lain yang menunjukkan bagaimana cara bertahan di medan perang," kata pria yang divonis 6 tahun penjara atas keterlibatan di kelompok pelaku bom Cibiru, Bandung tersebut. 

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Jawa Tengah Dewan Masjid Indonesia, KH. Multazam Ahmad, menyambut baik adanya informasi tanda telah masuknya radikalisme di masjid kampus. Diakuinya, di beberapa masjid di lingkungan kampus, instansi pemerintah dan badan usaha, saat ini sudah ada yang dikooptasi aktifitasnya oleh kelompok pro radikalisme dan terorisme. 

"Maka kami memberikan saran, seyogyanya takmir masjid kampus secara struktur berada di bawah koordinasi rektor. Ini penting agar setiap aktifitas yang ada di masjid kampus bisa termonitor oleh rektor," pungkas Multazam. (Red: Ibnu Nawawi


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/97074/ini-tanda-masjid-kampus-terpapar-radikalisme-

Ini Tanda Masjid Kampus Terpapar Radikalisme

Purwokerto, NU Online
Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal (Pol) Hamli, menyebut masuknya radikalisme di masjid lingkungan kampus dapat ditandai dari aktifitas kajian agama di dalamnya. Tema-tema tertentu dipilih menjadi topik bahasan. 

Ini disampaikan Hamli saat menjadi pemateri di kegiatan Dialog Pelibatan Takmir Masjid Kampus dalam Pencegahan Radikalisme melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah. Kegiatan diselenggarakan di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Selasa (9/10). 

Setidaknya ada ratusan civitas akademika dan mahasiswa yang aktif di pengelolaan masjid dari puluhan kampus se-Purwokerto dihadirkan sebagai peserta kegiatan. 

"Identifikasi kami menemukan dua belas tema. Jika itu yang dibahas, ya itu barangnya (radikalisme, Red.)," kata Hamli. 

Tema tersebut adalah thogut, kafir demokrasi, akhir zaman,  hijrah, khilafah atau daulah islamiyah, tauhid, pembatalan keislaman, keutamaan jihad, mati syahid, aqidah, artikel seputar Oman Abdurrahman, dan pembahasan takfiri atau mengafir-kafirkan orang.

“Kedua belas tema tersebutdiberikan secara bertahap sesuai dengan tingkat paparan radikalisme kepada jamaah,” ungkapnya. 

Dalam pandangan Hamli, awal-awal biasanya masih kajian umum. “Jika sudah banyak yang ikut, sudah kelihatan potensi jamaah yang bisa direkrut (masuk jaringan), temanya semakin mengerucut ke arah aksi terorisme," jelasnya. 

Secara khusus Hamli menjelaskan, tema tauhid yang menandakan radikalisme telah memapar ke sebuah masjid kampus adalah kajian tauhid hakimiyah. Sementara keutamaan jihad dan mati syahid  memiliki korelasi makna berdasarkan penafsiran sepihak jaringan pelaku terorisme. 

"Jihad mereka ya perang, tidak ada lainnya. Mati syahid versi mereka adalah mati dengan cara mengebom atau menyerang aparat keamanan," tegasnya. 

Mantan anggota jaringan pelaku terorisme, Kurnia Widodo, di kesempatan yang sama menambahkan tanda masuknya radikalisme di masjid kampus adalah adanya aktifitas fisik yang dilakukan jamaah di dalamnya. Aktifitas tersebut, biasanya mengarah ke militeristik. 

"Biasanya malam. Diawali baris berbaris, terus koprol-koprol, dan aktifitas lain yang menunjukkan bagaimana cara bertahan di medan perang," kata pria yang divonis 6 tahun penjara atas keterlibatan di kelompok pelaku bom Cibiru, Bandung tersebut. 

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Jawa Tengah Dewan Masjid Indonesia, KH. Multazam Ahmad, menyambut baik adanya informasi tanda telah masuknya radikalisme di masjid kampus. Diakuinya, di beberapa masjid di lingkungan kampus, instansi pemerintah dan badan usaha, saat ini sudah ada yang dikooptasi aktifitasnya oleh kelompok pro radikalisme dan terorisme. 

"Maka kami memberikan saran, seyogyanya takmir masjid kampus secara struktur berada di bawah koordinasi rektor. Ini penting agar setiap aktifitas yang ada di masjid kampus bisa termonitor oleh rektor," pungkas Multazam. (Red: Ibnu Nawawi


Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/97074/ini-tanda-masjid-kampus-terpapar-radikalisme-

Jumat, 12 Oktober 2018

IR SOEKARNO: KHILAFAH NO, PANCASILA YES!



Pemikiran Presiden Ir. Soekarno tentang Islam, ternyata lebih brilian dibandingkan dengan sejumlah cendekiawan muslim nasional yang hidup di zaman now. Sejumlah gagasan dan analisisnya soal Islam masih sangat relevan sekaligus mencerahkan umat muslim Indonesia diera digital sekarang ini.
Bung Karno yang juga murid tokoh utama Sarekat Islam (SI) Tjokroaminoto, sangat bergairah kalau ngomong soal Islam. Dia memberi perhatian penuh terhadap eksistensi Islam di Indonesia. Bung Karno sangat mengutamakan substansi dan esensi Islam.
Dia juga menolak keras, kalau Islam diterjemahkan dalam ajaran yang sangat statis. Bung Karno pernah mengungkapkan istilah ‘Api Islam’ yaitu dia ingin menghidupkan kembali jiwa Islam sebagai ajaran universal. Bung Karno sangat tidak sepakat dengan adanya dominasi masyarakat onta atau Islam Sontoloyo.
Dalam kesempatan acara buka puasa bersama sekaligus merayakan syukuran milad bung Karno tanggal 6 Juni 2018 lalu, saya melakukan kongkow imajiner bersama beliau di tempat kelahirannya di rumah sederhana di Pandean gang IV no.40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya. Berikut petikan kongkow tersebut:
WK: Apa pendapat Bung, soal umat muslim di Indonesia saat ini?
Bung KarnoKita gampang sekali menyebut kata kafir. Produk barat dibilang kafir. Kalau kita bergaul dengan nonmuslim dan  bukan bangsa Islam disebut kafir. Kalau kita menyebut itu semua kafir, maka kita tidak kekinian dan kita lebih suka dengan keterbelakangan. Inikah Islam yang kita mau? Kalau saya tidak.
WK: Jadi seperti apa wajah umat muslim?
Bung KarnoHampir seribu tahun akal dikungkung, sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal dikutuk seakan-akan datangnya dari setan. Al Qur’an dan Hadits itu tidak berubah. Pandangan masyarakatlah yang senantiasa berevolusi dengan memakai tafsir sendiri-sendiri. Dalam ‘Islam Sontoloyo (1940)’, saya menulis bahwa fiqih bukanlah satu-satunya tiang keagamaan. Tiang utamanya ialah terletak dalam ketundukan, kita punya jiwa pada Allah. Fiqih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid dan akhlaq kepada Allah. Al Qur’an seolah-olah mati karena kitab fiqih yang dijadikan pedoman hidup, bukan kalam Illahi sendiri.
WK: Faktanya tentang umat muslim Indonesia?
Bung KarnoDunia Islam sekarang ini tidak bernyawa karena umat Islam tenggelam dalam kitab fiqihnya saja, tidak terbang seperti burung Garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup. Fiqih itu tetap penting. Tapi, saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fiqih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja. Saya kasih contoh, saat anjing yang saya pelihara menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. Saya meminta Ratna Juami untuk membuang air itu dan mencuci panci itu beberapa kali dengan sabun dan kreolin. Di zaman Nabi, belum ada sabun dan kreolin. Nabi Muhammad SAW sendiri telah menyerahkan kepada kita soal urusan dunia. fiqih tidak berdiri sendiri. Fiqih harus disertai dengan tauhid dan etiknya Islam yang menyala-nyala. Fiqih hanyalah ‘kendaraan’ saja.
Wk: Lantas bagaimana peran par ulama menyikapi ini?
Bung KarnoDalam ‘Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an)’, saya menulis bahwa para ulama dan kiai, tak punya sedikitpun feeling kepada sejarah Islam. Mereka hanya tertuju pada bagian fiqih. Tapi, pengetahuan mereka tentang sejarah Islam umumnya nihil. Padahal, sejarah adalah padang penyelidikan yang maha penting! Kita buta dalam menafsirkan itu, karena tidak mengenal tarikh. Jika pemuka agama dan umat Islam Indonesia hanya berorientasi kepada fiqih saja, maka jangan harap umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai kekuatan jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib sekarang ini. Kemunduran Islam, kekunoan Islam, kemesuman Islam, ketakhayulan orang Islam banyak terjadi karena hadist-hadist lemah yang laku keras dibandingkan ayat-ayat Al Qur’an.
WK: Soal adanya wacana sebagiankecil kelompok tertentu yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah, pendapat Anda?
Bung KarnoPancasila harga mati bagi NKRI. Khilafah no, Pancasila yes
WK : Pendapat Anda soal khilafah 
Bung Karno: Dalam terminologi syar’i, khilafah atau Imamah diartikan sebagai kepemimpinan umum yang menjadi hak seluruh kaum muslim untuk menerapkan syariat Islam ke seluruh dunia. Sistem negara khilafah mengatur semua pelaksanaan hukum syara’ terhadap rakyat di seluruh dunia tanpa kecuali (muslim dan non-muslim) mulai dari masalah akidah, ibadah, ekonomi, sosial, pendidikan dan politik. Pemimpin negeri khilafah adalah seorang khalifah yaitu pemimpin muslim yang mendapat otoritas kepemimpinan dari kaum muslim melalui kontrak politik yang disebutbai’at. Kontrak bai’at ini mengharuskan khalifah memerintahkan rakyatnya berdasarkan hukum syariat Islam. Setiap Undang-Undang yang akan dikeluarkan khalifah harus berasal dari hukum Islam dengan metodologi ijtihad. Apabila Khalifah menolak hukum Islam, maka pengadilan tertinggi dan paling berkuasa di negara khilafah yaitu Mahkamah Mazhalim dapat memecat Khalifah.
WK: Bagaimana sebenarnya sifat-sifat dasar khilafah?
Bung KarnoSifat dasar negara khilafah adalah ekspansionis. Khilafah akan selalu memperluas kekuasaannya untuk menyebarkan syariat Islam. Dalam sistem khilafah, kedaulatan berada dalam syariat Islam. Sistem khilafah menghapus negara kebangsaan dan menghilangkan sistem demokrasi. Sistem demokrasi menurut khilafah adalah sistim orang kafir. Padahal,  sistem demokrasi berasal dari musyawarah yang sudah tertulis dalam Al Qur’an di surat As-Syura ayat 38 yang berbunyi, “Dan menghadapi perkaramu hendaklah kamu bermusyawarah diantara kalian”.
WK: Adakah petunjuk dalam Al Qur’an tentang negara khilafah?
Bung KarnoSebenarnya, sistem negara khilafah tidak ada dalam Al Qur’an. Sistim negara khilafah justru banyak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits. Negara yang disebut dalam Al Qur’an hanya ada dua yaitu Thayyibah dan Khabitsah. Negara Thayyibah adalah negara yang baik dan negara Khabitsah adalah negara yang buruk. Dari segi konstitusi, Indonesia adalah negara Thayyibah. Buktinya termaktub dalam pembukaan UUD 45 alinea ke 3 yaitu, “Atas berkat Rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
Kongkow ini harus berakhir karena adzan Maghrib telah berkumandang menandakan waktunya berbuka puasa. Saya sangat puas bisa berbincang dengan salah satu presiden paling berpengaruh di dunia. [sumber referensi: http://www.madinaonline.id/khazanah/lima-ciri-islam-sontoloyo-menurut-bung-karno/]