Selasa, 12 Maret 2019

Allah Bimbing Nabi Muhammad tentang Keberagaman Bangsa


Allah Bimbing Nabi Muhammad tentang Keberagaman Bangsa
Rais Syuriyah PBNU KH Mustofa Aqil Siroj menerangkan, saat Nabi Muhammad hijrah, setibanya di Madinah, ia melihat bahwa rupanya penduduk di Madinah beragam. Ada Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lain-lain. Bagaimana sikap Nabi melihat keragaman seperti itu?

“Begitu Nabi melihat keragaman itu, Allah membimbingnya. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah memerintahkan Nabi berbuatlah baik dan bersikaplah adil kepada siapa pun yang tidak memusuhi kamu,” jelas Kiai Mustofa dalam Peringatan Haul ke-9 Gus Dur, di Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, pada Senin (7/1) lalu.

Dikatakan, jika konteks ayat tersebut ditarik ke Indonesia, maka sudah jelas bahwa pemeluk agama-agama lain sama sekali tidak memusuhi Islam.

“Apa pun agamanya selama mereka tidak memusuhi, maka jangan dimusuhi,” tegas Ketua Umum PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ini.

Artinya, imbuh Kiai Mustofa, Allah melalui Nabi M uhammad telah mengajarkan nilai-nilai kebangsaan kepada umat Islam.

“(Itu) bisa disebut kebangsaan apabila ada rasa kemanusiaan,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini mengatakan bahwa doktrin Allah kepada Nabi Muhammad sangat luar biasa. Yakni diberikan cara-cara untuk bisa menjadi pemimpin di tengah kemajemukan penduduk atau warga masyarakat yang ada.

Lebih jauh Kiai Mustofa mengungkapkan, tiga surat Al-Quran pertama yang diturunkan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad tidak ada kalimat ‘Allah’ satu pun.

“Surat itu adalah Al-‘Alaq, disusul empat bulan kemudian Al-Muddatstsir. Setelah itu baru Al-Muzammil, dan kemudian baru Al-Fatihah. Ketiganya itu tidak ada kalimat Allah, tetapi adanya Rabb. Silakan cek,” terang Kiai Mustofa.

Ia lantas menerangkan perbedaan kalimat Allah dan Rabb di dalam Al-Qur’an. Istilah Rabb digunakan untuk menjelaskan bahwa di seluruh alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Orang beriman dan yang tidak sekalipun, merupakan ciptaan Allah.

“Tetapi istilah Allah digunakan hanya untuk orang-orang yang menyembahnya saja, yang beriman kepada Allah saja,” terang Kiai Mustofa.

Itu berarti, lanjutnya, Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk menjadi pemimpin yang memandang seluruh masyarakat sebagai makhluk Allah. Jangan sebaliknya, hanya memandang seseorang beriman atau tidak kepada Allah.

Jangankan manusia, binatang pun harus dihormati. Karena binatang, seburuk apa pun, kedudukannya sama dengan manusia, yakni sama-sama makhluk Allah. Apalagi manusia, bahwa Allah memuliakan bani Adam.

“Inilah doktrin kebangsaan Allah untuk Nabi Muhammad,” pungkas Kiai Mustofa. (Aru Elgete/Fathoni)


http://www.nu.or.id/post/read/101363/allah-bimbing-nabi-muhammad-tentang-keberagaman-bangsa

Allah Bimbing Nabi Muhammad tentang Keberagaman Bangsa


Allah Bimbing Nabi Muhammad tentang Keberagaman Bangsa
Rais Syuriyah PBNU KH Mustofa Aqil Siroj menerangkan, saat Nabi Muhammad hijrah, setibanya di Madinah, ia melihat bahwa rupanya penduduk di Madinah beragam. Ada Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lain-lain. Bagaimana sikap Nabi melihat keragaman seperti itu?

“Begitu Nabi melihat keragaman itu, Allah membimbingnya. Di dalam Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah ayat 8, Allah memerintahkan Nabi berbuatlah baik dan bersikaplah adil kepada siapa pun yang tidak memusuhi kamu,” jelas Kiai Mustofa dalam Peringatan Haul ke-9 Gus Dur, di Pesantren Motivasi Indonesia (PMI), Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, pada Senin (7/1) lalu.

Dikatakan, jika konteks ayat tersebut ditarik ke Indonesia, maka sudah jelas bahwa pemeluk agama-agama lain sama sekali tidak memusuhi Islam.

“Apa pun agamanya selama mereka tidak memusuhi, maka jangan dimusuhi,” tegas Ketua Umum PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ini.

Artinya, imbuh Kiai Mustofa, Allah melalui Nabi M uhammad telah mengajarkan nilai-nilai kebangsaan kepada umat Islam.

“(Itu) bisa disebut kebangsaan apabila ada rasa kemanusiaan,” katanya.

Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini mengatakan bahwa doktrin Allah kepada Nabi Muhammad sangat luar biasa. Yakni diberikan cara-cara untuk bisa menjadi pemimpin di tengah kemajemukan penduduk atau warga masyarakat yang ada.

Lebih jauh Kiai Mustofa mengungkapkan, tiga surat Al-Quran pertama yang diturunkan Allah melalui Jibril kepada Nabi Muhammad tidak ada kalimat ‘Allah’ satu pun.

“Surat itu adalah Al-‘Alaq, disusul empat bulan kemudian Al-Muddatstsir. Setelah itu baru Al-Muzammil, dan kemudian baru Al-Fatihah. Ketiganya itu tidak ada kalimat Allah, tetapi adanya Rabb. Silakan cek,” terang Kiai Mustofa.

Ia lantas menerangkan perbedaan kalimat Allah dan Rabb di dalam Al-Qur’an. Istilah Rabb digunakan untuk menjelaskan bahwa di seluruh alam semesta ini adalah ciptaan Allah. Orang beriman dan yang tidak sekalipun, merupakan ciptaan Allah.

“Tetapi istilah Allah digunakan hanya untuk orang-orang yang menyembahnya saja, yang beriman kepada Allah saja,” terang Kiai Mustofa.

Itu berarti, lanjutnya, Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk menjadi pemimpin yang memandang seluruh masyarakat sebagai makhluk Allah. Jangan sebaliknya, hanya memandang seseorang beriman atau tidak kepada Allah.

Jangankan manusia, binatang pun harus dihormati. Karena binatang, seburuk apa pun, kedudukannya sama dengan manusia, yakni sama-sama makhluk Allah. Apalagi manusia, bahwa Allah memuliakan bani Adam.

“Inilah doktrin kebangsaan Allah untuk Nabi Muhammad,” pungkas Kiai Mustofa. (Aru Elgete/Fathoni)


http://www.nu.or.id/post/read/101363/allah-bimbing-nabi-muhammad-tentang-keberagaman-bangsa

Senin, 11 Maret 2019

Membangun Kontra Narasi Ekstremisme dengan Cinta

Salah satu faktor penyebab yang bisa memengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat, terutama generasi muda adalah apa yang terpapar di media sosial, termasuk portal media online. Hal ini mengingat jumlah pengguna internet dan pengguna layanan media sosial di Indonesia cukup besar. Bahkan, pada awal 2017 lalu, perusahaan riset We Are Social menyebut Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Karena pengaruh konten yang terpapar di media sosial, seseorang bisa saja meyakini, seyakin-yakinnya tentang suatu kebenaran. Padahal, sesuatu itu sebenarnya tidak tepat untuk diyakini sebagai sebuah kebenaran yang sebenar-benarnya. Seseorang, sangat mungkin akan berperilaku ekstrem dan radikal karena meyakini sesuatu yang ia perbuat merupakan keniscayaan. Padahal, ia hanyalah korban dari kebodohan dan ketidakmandirian atas dirinya sendiri karena terpengaruh konten  narasi ekstremisme yang dibumbui ayat-ayat Tuhan. Terlebih lagi bagi yang memahami ajaran agama secara dangkal, seperti memahami ayat secara tekstual, narasi kebencian yang mengarah kepada tindakan radikal justru diyakini sebagai kebenaran yang harus diperjuangkan, bahkan mereka rela mati untuk mempertahankan dan memperjuangkannya. Mirisnya, selama ini  gerakan kelompok ektremis-radikalis  seolah sudah identik (diidentikkan) dengan gerakan Islam, sehingga muncul istilah Islam radikal. Sungguh, sebuah fakta yang bertolak belakang dengan Islam itu sendiri yang kehadirannya justru sebagai rahmatan lil alamin. Temuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang menyebutkan bahwa lembaga pendidikan dan masjid menjadi salah satu tempat subur penyemaian radikalisme semakin menguatkan anggapan Barat dan anggapan sebagaian masyarakat kita sendiri  tentang stigma negatif Islam terkait radikalisme-terorisme akibat ulah segelintir ‘yang mengaku Islam’. Lalu, siapa yang salah, siapa  yang patut dipersalahkan dan pihak mana yang seharusnya bertanggung jawab atas semua ini? Secara struktural, pemerintah sebagai penyelenggara negara mempunyai tanggung jawab utama untuk menanggulangi dan mengantisipasi segala tindakan yang mengarah kepada perilaku ekstrem-radikal karena dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).   Bagaimanapun, konsep NKRI adalah keputusan final yang harus terus dijaga dan dipertahankan dari rongrongan pihak-pihak yang ingin mengganti  sistem dan bentuk negara sesuai dengan keinginannya. Namun, menjadi tanggung jawab kita semua untuk menangkal dan mengantisipasinya ketika perilaku ekstrem-radikal sudah terasa meresahkan masyarakat dengan tindakan teror membabi buta yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia tak berdosa. Perlunya Menanam Cinta Gerakan Islam Cinta (GIC) yang dideklarasikan oleh 40 tokoh muslim Indonesia pada tahun 2012 di Jakarta sebagai  respons kaum muslim moderat terhadap fenomena intoleransi dan radikalisme yang mengatasnamakan agama, bisa kita jadikan rujukan untuk mendidik dan mengarahkan generasi muda penerus bangsa. Tidak akan pernah ada istilah Islam radikal dan pengindentikan Islam dengan gerakan terorisme global jika semua umat Islam di seluruh dunia mempunyai pemahaman seperti apa yang disampaikan Buya  Ahmad Syafii Maarif dalam deklarasi tersebut bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, keamanan, dan cinta kasih. Narasi radikalisme, pesan-pesan intoleran, dan ajaran yang berpotensi pada kekerasan tidak akan mungkin keluar dari mulut (yang mengaku) ulama/ustadz. Tidak mungkin pula disampaikan dalam ceramah dan khotbah Jumat (sebagaimana temuan BNPT), jika mereka mau memahami Islam secara utuh. Islam sebagai sebuah nilai. Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Cinta membawa kedamaian. Tak ada kebaikan terwujud tanpa cinta. Bahkan, tanpa cinta yang menghasilkan tutur kata lemah lembut dan akhlak mulia, bisa dipastikan dakwah Nabi Muhamad dalam mengenalkan dan mengajarkan Islam  akan gagal. Jika hati sudah dipenuhi cinta, jangankan menghilangkan nyawa sesama, menyakiti dengan kata-kata pun tidak mungkin tega melakukannya. Dalam lingkup keluarga, jika orang tua berhasil menanamkan cinta di hati anak-anaknya, seberapa deras arus informasi dengan konten-konten ujaran kebencian yang menjerumuskan, tidak akan membawa pengaruh pada anak-anak muda pengguna sosial media. Fanatisme dalam beragama seringkali menjadi kambing hitam atas perilaku radikal para pelaku teror yang rela mengorbannya nyawanya sendiri dalam aksi-aksinya. Fanatismelah yang sering dianggap menjadi penyebab konflik, baik konflik antarsuku, ras maupun agama dan antargolongan (SARA). Akan tetapi sekali lagi, apabila pemahaman terhadap Islam didasari dan mengikuti ajaran perdamaian, keamanan, dan cinta kasih, maka fanatisme dan keyakinan atas kebenaran ajaran Islam akan menghasilkan output berupa kebaikan. Hasil riset Seknas Gusdurian bersama International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menyebutkan mayoritas anak muda bersikap menolak terhadap tindakan radikal dan ekstrem berbasis agama, meski ada kecenderungan penurunan toleransi Artinya, mayoritas anak muda masih punya penalaran yang waras, sehingga bisa membedakan mana baik, mana buruk. Bagaimanapun, tidakan merusak, meneror, apalagi menghilangkan nyawa orang, apalagi dengan cara mengorbankan dirinya sendiri adalah tindakan bodoh yang tidak perlu dilakukan. Apa pun alasannya. Meski demikian, perlu kita bangun bersama narasi kontra ektremisme dengan memaparkan narasi cinta yang menyejukkan jiwa, mengingat begitu mudahnya akses internet dan begitu banyaknya narasi kebencian terpapar di media sosial yang bisa memengaruhi pola pikir dan sikap generasi muda. Merujuk pada indikator Schmid tentang radikalisme dan ekstremisme keagamaan (Schmid, 2004), salah satu hal  yang perlu diwaspadai adalah adanya gerakan dari suatu kelompok yang memiliki kecenderungan untuk menempatkan diri mereka di luar arus utama atau menolak  tatanan dunia, politik dan sosial. Melalui portal media online dan sosial media, gerakan ini cukup masif dan sistematis untuk menggiring opini publik agar mengikuti cara berpikir dan keyakinan mereka. Penolakan yang dilakukan juga termasuk terhadap media infrormasi arus utama. Menolak dan memvonis media arus utama sebagai media sekuler yang dianggap banyak menzalimi umat Islam tidak hanya bertujuan agar khalayak antipati terhadap media mainstream. Akan  tetapi lebih dari itu, tujuan utamanya justru agar masyarakat lebih tertarik untuk mengakses portal berita yang mereka kelola. Sebagai pengguna media sosial dan sebagai seorang pekerja migran yang hanya bisa mengakses berita melalui media online, saya pernah mengalami sendiri hal itu. Bertemu dengan orang-orang ‘agamis’ dengan cara pandang hitam-putih yang terus mencoba menggiring opini melalui dunia maya. Dalam konteks ini, langkah pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir situs media online yang dianggap mengandung konten negatif karena dinilai menyebarkan berita bohong (hoax) serta isu SARA, bisa dibilang tepat. Meski di sisi lain, langkah tersebut justru bisa saja malah menimbulkan kebencian dan dendam, sehingga semakin memantapkan  keyakinan  untuk ‘berjihad’ melawan kezaliman yang mereka definisikan sendiri bersama kelompoknya. Oleh karena itu, menanggulangi ekstremisme, radikalisme, dan terorisme tidak cukup hanya dengan langkah politik yang dilakukan pemerintah. Seluruh elemen masyarakat  juga harus merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk membangun kontra narasi ekstremisme agar kedamaian dan ketenteraman hidup berbangsa dan bernegara bisa terwujud. Pun demikian dengan aparat pemerintah. Hendaknya bersikap arif dan bijaksana apabila menyikapi persoalan sensitif yang bisa memicu keresahan publik. Statemen pejabat pemerintah yang tidak tepat atas sebuah kejadian, sangat mungkin akan dapat menimbulkan keresahan apabila sudah terekspose dan 'digoreng' sedemikian rupa oleh media. Setelah melakukan penelitian, Direktur Eksekutif The Wahid Foundation Yenny Wahid pernah menerangkan bahwa faktor kemiskinan, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal bukanlah faktor-faktor yang berhubungan langsung dan menyebabkan seseorang untuk berperilaku ekstrem dan radikal. Selain faktor teraleniasi dan pemahaman tentang jihad yang keliru, salah satu faktor penyebab seseorang  lebih mudah teradikalisasi adalah karena banyak mengonsumsi pesan-pesan kebencian. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor keterpengaruhan seseorang atas konten-konten narasi ekstemisme yang terpapar di media online dan media sosial terletak pada hati. Membangun kontra narasi ekstemisme tidak perlu dilakukan dengan cara berdebat di media yang sama karena justru akan berpotensi semakin mempertajam perbedaan yang bisa memicu perselisihan  fisik secara nyata. Dimulai dari lingkup keluarga, mengisi hati anak-anak dan generasi muda dengan cinta merupakan cara ampuh untuk membentengi penerus bangsa dari pengaruh ekstremisme dan radikalisme berbasis agama. Bagi para ulama, menyampaikan ajaran Islam yang sebenar-benarnya merupakan keniscayaan yang tidak hanya akan membawa kedamaian umat di dunia, tetapi juga sebuah kewajiban yang nanti akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya

Minggu, 10 Maret 2019

Hadang Radikalisme, LDNU Jember Gelar Silaturahim Lintas Masjid


Jember, NU Online 
Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jember, Jawa Timur memastikan bakal menggelar silaturahim lintas masjid  guna menguatkan basis Islam Ashlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Penguatan tersebut dikandung maksud  untuk membentengi warga dari penyusupan sekaligus propaganda gerakan radikal. Sebab, jika ghirah atau semangat Aswaja kuat, maka berfungsi sebagai imunisasi warga terhadap serangan proaganda gerakan radikal dan sejenisnya.
“Jadi cara kita menghadang masuknya gerakan yang tidak  sepaham dengan budaya nusantara itu, adalah memperkuat budaya lokal, memperkuat tradisi Aswaja,” kata Koordinator Advokasi Pendampingan Warga PC LDNU Jember, Ustadz Moch. Kholili di Jember, Sabtu (9/3) malam.
Menurut Ustadz Kholili, silaturahim antarmasjid itu sudah  dibicarakan dengan sejumlah takmir masjid di wilayah Jember kota belum lama ini. Hasilnya, LDNU  akan memperluas silaturahim untuk masjid-masjid di perkotaan dan sekitarnya.
“Kami sudah mengawali silaturahim di Masjid Ajung, belum lama ini,” jelasnya.
Aktifis migrant care itu menambahkan, pihaknya mendeteksi gerakan radikal  menyusup melalui beberapa cara, di antaranya adalah pengajian-pengajian yang dibungkus dengan bahasa-bahasa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang memang familiar di telinga masyarakat.
“Padahal isinya banyak meprovokasi jamaah agar tidak mengikuti amalan NU, yang nota bene sudah mendarah daging di masyarakat,” pungkasnya. (Aryudi AR)

Sabtu, 09 Maret 2019

Cegah Radikalisme Ekstremisme, Fatayat NU Susun Modul bagi Daiyah

Jakarta, NU Online
Ekstremisme dan terorisme bukan saja menarik laki-laki sebagai aktor. Perempuan dan anak-anak juga sudah dibawa menjadi pelaku. Mei 2018 silam di Surabaya adalah salah satu buktinya.

Melihat fenomena itu, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) bergerak untuk mencegah meluasnya gerakan tersebut dengan menyusul modul yang diperuntukkan bagi perempuan pendakwah (daiyah).

"Melalui modul ini, sebagai upaya kami dari fatayat NU melihat fenomena perempuan dan anak sudah jauh terlibat dalam arus terorisme ekstremisme," kata Anisah Rahmawati, Ketua Pimpinan Pusat Fatayat NU Bidang Dakwah, pada WokshopPenyusunan Modul Daiyah Fatayat NU untuk Pencegahan Radikalisme dan Ekstremisme Berkekerasan di Hotel Bintang Wisata Mandiri, Jalan Raden Saleh, Jakarta, Jumat (8/3).

Sebagai agen perubahan, para daiyah tersebut dapat memberikan informasi positif, dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian. Semua hal tersebut didasarkan pada ajaran Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah.

"Diharapkan para daiyah yang sudah terlatih dengan modul ini dapat memberikan kontribusi bagi kebaikan perempuan dan bangsa Indonesia secara umum," ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Working Group on Women Countering and Preventing Violence Extremism (WGWC) Ruby Khalifah melihat bahwa upaya menangani persoalan ekstremisme dan terorisme saat ini masih sangat maskulin. Padahal, jika melihat realitasnya, perempuan juga terlibat dan terdampak.

"Upaya counter terorisme, kita rasa sangat maskulin. Aktornya (penanganan terorisme) yang terlibat juga kebanyakan laki-laki. Mainstreaming gender juga sangat lemah," katanya.

Oleh karenanya, ia mengajak kepada seluruh peserta yang hadir agar bersama membuat perubahan dalam penanganan persoalan tersebut. "Bersama-sama bersinergi untuk memainstreamkan gender dan juga sekaligus memberikan wadah kepada aktor pemerintah maupun dari masyarakat sipil unutk secara intensif membincangkan persoalan ekstremisme dan juga persoalan terorisme di Indonesia dalam kacamata jender," ungkapnya.

Workshop menghadirkan Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Imdadun Rahmat dan Dosen Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta Nur Rofi’ah. Kehadiran keduanya dalam rangka mengkritisi dan memberikan masukan-masukan penting guna menyempurnakan modul yang telah disusun oleh Fatayat NU tersebut sebelum digunakan oleh para daiyah nanti. (Syakir NF/Kendi Setiawan)

Jumat, 08 Maret 2019

MELAWAN RADIKALISME DI MEDIA SOSIAL




Sumber Twitter
Sumber Twitter
JAKARTA, Indonesia — Belajar teknologi sambil belajar Islam yang damai. Kita bisa menemukan beragam artikel terkait dua topik itu jika masuk ke laman www.jalandamai.org.
Ada trik bagaimana menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari dan ada juga kisah penganut Islam di Pulau Kabung, Kalimantan. Di situs ini juga ada kutipan mantan Presiden Abdurrahman “Gus Dur” Wahid di halaman profil, “Islam yang ramah, bukan Islam yang marah.”
Pengelola juga mengunggah sejumlah video bagaimana anak muda memahami Islam. Ini salah satunya videonya.
Situs jalandamai.org dibuat atas kerja sama antara Universitas Surya pimpinan Yohanes Surya dengan Badan Nasional Penanggulangan Anti Terorisme (BNPT). Mengusung semboyan menjalin “silaturahmi melalui teknologi”, situs yang menyajikan konten positif mengenai pemahaman Islam ini menjadi bagian dari kerja sama riset pemanfaatan teknologi dalam mencegah terorisme antara lembaga pendidikan dan badan yang mengurusi penanggulangan terorisme. Kerja sama ini dimulai November 2014.
“Saat terjadi ledakan Bom Bali 2002, kelompok teroris telah menggunakan sarana teknologi informasi yaitu handphone sebagai media komunikasi dan switching-nya. Padahal saat itu kita belum familiar dengan handphone, tapi mereka sudah menggunakan itu," ujar Kepala BNPT Komisaris Jendral Polisi Saud Usman Nasution.
Teknologi komunikasi menjadi sarana yang dianggap efektif bagi jaringan teroris untuk menyebarkan paham radikal mereka, berkomunikasi di antara sesamanya, termasuk melakukan rekrutmen anggota.
“Kami berharap semakin banyak situs yang menyajikan konten positif tentang pemahaman Islam juga dibuat pihak lain dan disebarluaskan oleh media sosial,” ujar Saud dalam diskusi publik yang diadakan perkumpulan alumni Eisenhower Fellowships di Indonesia, Kamis, 5 Maret 2015.
Selain jalandamai.org, Saud yang pernah menjabat komandan satuan tugas khusus detasemen 88 anti teror di Polri itu juga mengumumkan situs BNPT, yakni www.damailahindonesia.org sebagai situs resmi BNPT.
Penyebaran informasi tandingan mengenai bahaya terorisme serta gerakan radikal yang mengusung agama ini dilakukan untuk menandingi sejumlah situs yang mengkampanyekan berdirinya negara Islam, daulah Islamiyah yang berdasarkan syariah, dan mengajak pendukung untuk mewujudkan hal itu termasuk dengan berjihad dalam bentuk perang. Salah satunya adalah situs al-mustagbal.net. 
Diskusi bertajuk, “Middle East Turmoil, ISIS and Its Impact in Indonesia” itu juga menghadirkan Alwi Shihab sebagai pembicara. Ia adalah mantan menteri luar negeri dan pernah menjabat sebagai utusan khusus mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk wilayah Timur Tengah.
Alwi menjelaskan akar sejarah dan budaya mengapa gerakan yang mengusung paham radikal termasuk yang menyemai aksi teror muncul di negara di kawasan Timur Tengah, dan kemudian menjalar ke tanah air.
“Yang bisa menangkal penyebaran paham radikal itu adalah pendidikan agama. Pengajaran agama selama ini sudah dibuat sedemikian rupa, menggunakan ayat dan hadis yang ada tapi dengan penafsiran implementasi yang salah,” ujar Alwi.
Baik Saud maupun Alwi sepakat bahwa ancaman teror kini makin besar setelah ISIS, atau Islamic State of Iraq and Syria berdiri dan menebar teror yang melibatkan korban warga berbagai negara, termasuk situs peninggalan sejarah islam. Pola ISIS menggunakan ranah internet dan mengisinya dengan beragam propaganda dengan konten multimedia yang dibuat secara profesional, kian meyakinkan untuk membujuk pengikut baru.
Pekan ini Presiden Joko “Jokowi” Widodo juga mengingatkan bahwa TNI dan Polri perlu bersikap serius dalam pencegahan terorisme. Usai rapat koordinasi antara pimpinan TNI dan Polri yang dipimpin Presiden, Selasa (3/3), Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Laksamana (Purn) Tedjo Edhi Purdijanto mengungkap bahwa warga negara Indonesia yang hendak bergabung di ISIS di Suriah menggunakan modus berpura-pura sebagai wisatawan.
Dalam tautan ini, Menko Tedjo mengatakan polisi dan Badan Intelijen Nasional (BIN) sudah memiliki data warga negara Indonesia yang bergabung dengan ISIS. Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama Said Agil Siraj pernah menyebut angka 513. Tapi, menilik modus yang diungkap pemerintah yakni pergi dengan visa turis lalu bergabung dan ikut berperang dengan ISIS, tidak mustahil jumlahnya lebih besar.
“Yang berbahaya, berdasarkan pengalaman tahun 1990 dengan mereka yang berjuang di Afghanistan adalah saat mereka kembali. Alumni perang Afghan lantas menjadi motor jaringan Jamaah Islamiyah yang menjadi dalang sejumlah aksi teror di tanah air,” ujar Saud Usman.
Perang melawan teror di dunia maya menjadi semakin sulit karena unsur anonimitas. Pemerintah juga memiliki kesulitan untuk memonitor, termasuk menutup situs maupun akun media sosial yang menebar paham radikal. Panduan membuat alat ledak dan berjihad berserakan di dunia maya.

“Hati-hati jika punya anak yang gemar menutup diri di kamar, atau menyendiri dalam mengakses internet. Kalau dia mengakses konten porno, masih mendingan. Jika yang diakses adalah situs radikal, itu artinya musibah besar bagi keluarga,” kata Abdul Rahman Ayub dalam diskusi di perkumpulan Eisenhower Fellowships.

Kamis, 07 Maret 2019

Islam Nusantara, Manifestasi Islam Rahmatan lil Alamin

Ilustrasi (ist)
Fathoni, NU Online | Kamis, 07 Maret 2019 09:33
Oleh Adi Candra Wirinata
Mungkin seluruh umat Islam menginginkan adanya perubahan sosial-politik dengan syari’at Islam, tapi harus disadari bahwa lahirnnya Islam bertujuan menghapus ketidak-manusiawian, bukan menyingkirkan kebudayaan. Sebagaimana perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, tidak begitu saja menggantikan kebudayaan yang telah ada. Seperti yang telah tercatat dalam sejarah, bahwa Nusantara kaya akan budaya.
Oleh karena itu, tidak bisa dipertentangkan antara budaya dan agama, selama tidak bertentangan dengan akidah Islam. Dakwah Islam di Nusantara pertama kali lebih mementingkan keamanan dan kenyamanan rakyat daripada langsung menyebarkan agama. Dalam sejarah dakwah di Nusantara yang harus didahulukan adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia daripada langsung mengajarkan Islam (Sofwan, 2004: 32).
Sebenarnya sejak abad ke-7 M, masyarakat Nusantara telah dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu dari India. Namun bagi masyarakat yang telah memiliki hubungan sangat erat dengan budaya mereka, perubahan keyakinan Animisme ke Hindu tidak terlalu banyak membawa perubahan yang berarti. Kepercayaan Animisme tetap kekal meskipun secara formal mereka telah beragama lain. Nusantara sejak abad ke-13 M diwarnai oleh konsep Hindu atau sebelumnya telah dipenuhi konsep dewa-raja.
Konsep dewa-raja meyakinkan masyarakat bahwa raja adalah orang istimewa dan memiliki unsur keistmewaan serta kemuliaan tertentu yang terpilih. Manusia terpilih harus diterima sebagai raja dan berhak serta layak menduduki tempat tertinggi dalam masyarakat. Kelayakan menduduki tempat tertinggi ini dilegitimisasi oleh kepercayaan bahwa raja adalah penjelmaan dari dewa yang dalam agama Hindu setaraf dengan Tuhan (Resi, 2011: 227).
Kehadiran agama Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara sama sekali tidak menghapus yang berkaitan dengan konsep dewa-raja. Bahkan dalam beberapa segi, Islam terlihat menguatkan lagi pengesahan kedudukan raja itu dengan sedikit perubahan. Raja-raja tidak lagi berasal dari para dewa tetapi merupakan khalifah atau wakil Allah di dunia. Mereka memiliki gelar sebagai bayangan Allah dan berperan memberi perlindungan kepada masyarakat.
Raja tetap merupakan orang terpilih karena memiliki sifat-sifat yang lebih daripada manusia biasa. Di samping itu ia memiliki kuasa-kuasa yang khusus dianugerahkan Allah kepadanya. Keyakinan yang muncul melalui agama Hindu tentang kedudukan raja di masyarakat, diperkukuh lagi dengan diperkenalkannya istilah Sulthan.
Para pendahulu, penyebar Islam di Nusantara, telah merumuskan strategi dakwah atau setrategi kebudayaan secara lebih sitematis, terutama bagaimana menghadapi kebudayaan Jawa dan Nusantara pada umumnya yang telah sangat tua, kuat, dan amat mapan. Sejarah membuktikan bahwa mereka memiliki metode yang sangat bijak. Mereka memperkenalkan Islam tidak serta merta, tidak ada cara instan, tetapi merumuskan strategi jangka panjang. Strategi dakwah yang dirumuskan oleh para pendahulu itu saat ini di terapkan dalam dunia pesantren.

Selanjutnya, Prof Dr KH Said Aqil Siroj menjelaskan, di pesantren, diterapkan fiqhul ahkam untuk mengenal dan menerapkan norma-norma keislaman secara ketat dan mendalam, agar mereka menjadi muslim yang taat dan konsekuen. Namun, setelah terjun langsung ke dalam masyarakat, diterapkan fiqhul dakwah, ajaran agama diajarkan secara lentur, sesuai dengan kondisi masyarakat dan tingkat pendidikan mereka. Dan yang tertinggi adalah fiqhul hikmah, dimana ajaran Islam bisa diterima oleh semua kalangan, tidak hanya kalangan awam, tetapi juga kalangan bangsawan, termasuk diterima oleh kalangan rohaniwan Hindu dan Buddha serta kepercayaan lainnya.
Dari sedikit ulasan sejarah Islam Nusantara, terlihat jelas bahwa para pendahulu penyebar agama Islam di Nusantara tidak memandang agama secara formal, melainkan mengedepankan nilai-nilai agama. Dengan sikap yang demikian, sejarah Islam Nusantara telah berhasil menginterpretasikan istilah Islam rahmatan lil alamin dengan sempurna. Islam yang berguna tidak hanya kepada penganutnya, melainkan bagi seluruh ciptaan. Menyebarkan agama bukan berarti menjajah tradisi yang telah ada sebelumnya, melainkan mengingatkan bahwa ada agama yang benar.

Islam yang diciptakan sebagai bekal kehidupan manusia inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lil alamin atau agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Karena konsep kemanusiaan yang tidak memandang secara parsial harkat dan martabat umat manusia, baik secara individu maupun kelompok.
Islam yang dipandang sekadar sebagai agama secara formal akan sangat sulit untuk berkembang, lantaran niscaya akan menghapus begitu saja kebudayaan yang ada, sedangkan manusia tidak akan gampang terlepas dari budaya yang telah mengakar dalam dirinya.
Adapun agama yang diisi dengan semangat spiritualitas niscaya tidak memandang agama secara formal, melainkan lebih mengedepankan nilai-nilai agama. Eksistensi budaya yang telah ada tidak harus dimusnahkan selama tidak bertentangan dengan kemanusiaan, tapi –mengenai masalah akidah- kandungan di dalamnya dapat diganti dengan nilai-nilai keagamaan.
Yang terpenting dalam kehidupan beragama bukan terletak pada persamaan agamanya, melainkan pada ajaran-ajaran agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan sangat membenci segala bentuk penindasan, dengan spirit keilahian.
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Direktur Komunitas Maoes Boemi (KMB)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/103346/islam-nusantara-manifestasi-islam-rahmatan-lil-alamin

#muslimsejati