Minggu, 09 Desember 2018

Redam Radikalime, BEM Unej Gelar Simposium

Aryudi, NU Online | Ahad, 09 Desember 2018 10:30

Jember, NU Online 
Dalam rangka mempersempit area gerakan radikal, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jember, Jawa Timur  menggelar Simposium Kebangsaan 2018 di gedung Soetardjo, kampus Unej, Sabtu (8/12). Dalam simposium tersebut, hadir sebagai nara sumber antara lain, Kapolres Jember, Kusworo Wibowo, Dandim 0824 Jember,  Arif Munawar, agamawan,  Bhikkhu Gunajaya Putu Aryatama, Ketua Forum Pengawal danPembinaan Ideologi Pancasila,  B

Redam Radikalime, BEM Unej Gelar

Simposium

ambang Soepeno.
Menurut Presiden BEM Universitas Jember, Agus Wedi, simposium tersebut untuk merevitalisasi nilai-nilai luhur Pancasila  yang sudah mulai tergerus di hati sebagian generasi muda. Justru aksi kekerasan, radikalisme, dan intolerasi yang notabene bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, kian kencang  menyusup kalangan generasi muda.  Padahal, mereka adalah generasi yang diharapkan dapat meneruskan tongkat estafet kepemimpinan Indonesia di masa mendatang. 
“Ini (simposium) adalah upaya untuk memberikan bekal dan pencerahan bagi generasi muda, mahasiswa khususnya, guna  menangulangi  penyebaran radikalisme, terorisme dan sikap intoleransi,” tukasnya kepada NU Online di sela-sela simposium.
Sementara itu, ketua panitia, Ima Husnul Khotimah menegaskan bahwa menanggulangi gerakan radikal dan sejenisnya bisa ditempuh dengan cara memupuk rasa nasionalisme dan meningkatkan kesadaran seluruh elemen masyarakat tentang nilai nilai kebangsaan.
“Generasi muda mempunyai peran penting dalam hal ini. Dan mereka seharusnya menjadi ujung tombak bangsa dalam menghayati nasionalisme sekaligus mencegah gerakan radikal,” ungkapnya (Red: Aryudi AR) 

#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/100052/redam-radikalime-bem-unej-gelar-simposium

Sabtu, 08 Desember 2018

Sekjen Liga Muslim Dunia: Islam Melindungi Hak-hak Minoritas

Sekjen Liga Muslim Dunia: Islam Melindungi Hak-hak MinoritasMuchlishon, NU Online | Sabtu, 08 Desember 2018 22:00
Abu Dhabi, NU Online
Sekretaris Jenderal Liga Muslim Dunia Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa menegaskan, nilai-nilai Islam menjamin hak-hak hukum dan kebebasan semua orang. Menurut Al-Issa, Islam juga tidak menerima segala bentuk diskriminasi.

Demikian kata Al-Issa dalam pidatonya pada upacara pembukaan Forum untuk Mempromosikan Perdamaian (Forum for Promoting Peace) yang berlangsung di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), sebagaimana dilansir laman Arab News, Sabtu (8/12). 

Al-Issa mengatakan bahwa kebencian, kekerasan, dan terorisme dilakukan oleh individu-individu, bukan agama mereka. Di hadapan ratusan peserta, dia meluruskan persepsi yang tidak tepat dan terlanjur berkembang di masyarakat tentang Islam. Baginya, Islam adalah agama yang menjaga hak asasi manusia dan kebebasan bersama, tidak terkecuali.

Tidak hanya itu, Al-Issa juga menjelaskan bahwa Islam sangat terbuka dengan keberadaan agama-agama lainnya. Tidak benar pemahaman atau persepsi yang menyebutkan bahwa Islam berusaha untuk ‘mengakhiri’ eksistensi agama yang lainnya.    

Al-Issa juga menegaskan bahwa menjaga hak-hak minoritas adalah bagian dari nilai-nilai Islam itu sendiri.

Acara ini merupakan acara konferensi tahunan. Ini adalah yang kelima kalinya. Konferensi ini bertujuan untuk mempromosikan perdamaian, toleransi, dan moderasi secara global. Acara ini dihadiri sekitar 800 peserta dari berbagai agama, negara, dan organisasi kemanusiaan internasional di seluruh dunia. (Red: Muchlishon).

#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/100033/sekjen-liga-muslim-dunia-islam-melindungi-hak-hak-minoritas

Jumat, 07 Desember 2018

Hati-Hati, Ini Tiga Karakter Berpikir Kelompok Khawarij

Pasca perdamaian antara kubu Imam Ali  dan Sayyidina Muawiyah muncul kelompok yang menolak dari keputusan Imam Ali untuk menerima tahkim (arbitrase) dari pihak Sayyidina Muawiyah bin Abi Sufyan. Pada awalnya kelompok ini berpihak pada Imam Ali, namun karena keputusan Imam Ali untuk menerima perdamaian melalui proses arbitrase dengan pihak Sayyidina Muawiyah, keputusan itu dipandang sebagai langkah mundur dari menegakkan agama dan keraguan dalam iman serta mengambil hukum bukan dari hukum yang telah ditetapkan Allah Ta’ala.
Kelompok itu kemudian dikenal dengan sebutan khawarij – yang bermakna orang-orang yang keluar dari kelompok Imam Ali. Khawarij beranggapan bahwa siapa saja yang mengikuti dan menerima proses tahkim , maka telah keluar dari ajaran dan syariat Islam dan halal darahnya untuk dibunuh. Terbunuhnya Imam Ali oleh tokoh khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam, ialah salah satu bentuk kebengisan dan kekejaman kelompok ini.
Khawarij inilah yang menjadi biang kerok perpecahan umat Islam di era awal kejayaan Islam. Pemikirannya yang ekstrim dengan mengkafirkan dan menghalalkan darah orang yang diluar golongannya adalah awal dari perpecahan umat Islam.
Walaupun sebagai golongan, kaum khawarij telah lama punah berkat kekhalifahan Dinasti Umayyah dengan menghentikkan gerakan ekstrim ini, namun karakteristik pemikiran khawarijisme masih ada sampai saat ini. Karakarteristik pemikiran khawarij masih dapat kita jumpai disekitar lingkungan kita. Berikut ini karakteristik kaum khawarij:
Pertama, cara berpikir yang formalistis. Maknanya ialah mereka sangat ketat berpegang pada peraturan dan tata cara yang berlaku dalam agama atau ajaran yang mereka anut. Pemahaman ini dapat dilihat dari pendapat mereka mengenai pelaku dosa besar, bahwasanya pelaku dosa besar – seperti orang yang berzina, meninggalkan sholat, lari dari peperangan, dan lain sebagainya, telah kafir atau keluar dari agama Islam dan halal darah dan hartanya, serta harus diusir dari kekuasaan wilayah umat Islam.
Khawarij juga berpendapat siapa saja yang mengikuti perang Jamal (perang antara kubu Imam Ali dan kubu Ummul Mu’minin Sayyidah Aisyah, Sayyidina Thalhah dan Zubair) dan menerima dan mengikuti keputusan hasil tahkim antara Imam Ali dan Muawiyah, mereka semua itu telah kafir dikarenakan mereka tidak berhukum atau berpegang teguh dengan syariat Islam.
Kedua, pemahaman tekstualitas terhadap ayat-ayat suci. Khawarij sangat patuh dengan ayat-ayat formal dari Al Qur’an, sehingga mereka tidak mau dan mampu menemukan makna yang tersirat dari tiap ayat yang terkandung di dalamnya. Jargon mereka ketika menfatwakan bahwasanya Imam Ali As. telah kafir yakni tidak ada hukum selain hukum Allah yang mereka ambil dari makna yang terdapat dalam surah Al Maidah ayat 44
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
Mereka tidak melihat sebab-sebab turunnya ayat dan makna yang tersirat dari ayat tersebut, padahal Mufasir di era Sahabat Nabi Saw. yakni Sayyidina Abdullah bin Abbas menafsirkan bahwa kafir disitu bukanlah kafir akidah, melainkan kekufuran dibawah kekufuran.
Ketiga, sempurna dalam ibadah, kurang dalam ukhuwah. Khawarij sangat bersemangat jika diserukan untuk melakukan ibadah ritual keagamaan – seperti sholat, puasa, membaca Al Qur’an, dan lain-lain. Namun, kurang bersemangat jika diajak untuk kegiatan sosial kemasyarakatan. Kekakuan dalam bersosialisasi di tengah masyarakat itu disebabkan karena mereka sulit menerima dan menghormati pemikiran kelompok lain.
Karakteristik kaum Khawarij yang telah dijelaskan di atas sebaiknya dijauhkan dari pemikiran dan perilaku diri dan keluarga kita. Sehingga, kita ikut andil dalam mengurangi sebab-sebab perpecahan umat Islam saat ini.
Wallaahu a’lam.

Kamis, 06 Desember 2018

MUI: Politisasi Agama itu Menyesatkan dan Lebih dari Haram

REPORTER: CHITRA PARAMAESTI
EDITOR: NINIS CHAIRUNNISA
SELASA, 26 DESEMBER 2017 09:02 WIB

Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan memberi keterangan perihal Eyang Subur di Kantor MUI, Jakarta Pusat (22/4). Tempo/Dian Triyuli Handoko/DH20130422
TEMPO.CO, Jakarta- Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia atau MUI Amirsyah Tambunan menyampaikan pandangan tentang fenomena politisasi agama yang kerap terjadi. Dia mengatakan sikap dan perilaku orang-orang yang melakukan politisasi agama untuk kepentingan tertentu adalah haram.
“Sesat itu, kalau agama dipolitisasi, menyesatkan namanya,” kata dia pada Tempo pada Selasa, 26 Desember 2017.
Menurut Amirsyah, jika agama disalahgunakan dan dijadikan alat untuk mempolitisasi suatu kepentingan tertentu, hal tersebut merupakan perbuatan sesat. “Menyesatkan lebih tinggi dari haram, sesat itu kalau agama dipolitisasi,” ujarnya.
Amirsyah mengatakan, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, para pemimpinnya harus memahami nilai-nilai agama dan memiliki sikap serta karakter yang berbarengan dengan nilai agama. “Jadi agama jangan dipolitisir untuk kepentingan politik,” kata dia.
Sebab, menurut Amirsyah, agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dunia. Agama ialah landasan etik moral dalam berbagai dimensi, termasuk dalam urusan politik. “Kalau politik enggak didasari etika agama, rusak politiknya," ujarnya.
Hal serupa sebelumnya diungkapkan ulama ahli fikih, Kiai Haji Afifuddin Muhajir,dalam seminar dan bedah buku berjudul Fiqih Tata Negara di Pendapa Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Dia berpendapat menggunakan agama untuk kepentingan politik atau politisasi agama hukumnya haram.
Afifuddin mengajak masyarakat dan elemen bangsa untuk tidak berputus asa memperbaiki kondisi negeri secara terus-menerus. Ia mengibaratkan kondisi perpolitikan di tanah air dewasa ini sedang turun dari langit idealis ke bumi realitas. "Meskipun demikian, tidak berarti kita taslim (pasrah) di hadapan realitas, tetapi terus berusaha melakukan perbaikan-perbaikan," kata dia.

Rabu, 05 Desember 2018

Islam dan humor

Oleh: Abdur Rouf Hanif
Suatu hari Abu nawas menggegerkan penjuru pasar. Ia menantang tebak-tebakan warga. Jika berhasil menebak ia akan memberi imbalan dan bila gagal ia meminta imbalan.

Isi tebakanya yang tak lazim membuat semua orang gagal menebak. Ia memberi tebakan "Limadza ana aghna mina Allah?" (kenapa saya lebih kaya dari Allah?). Semua orang gagal memberikan alasan. Tak terkecuali Sang Raja Harun Ar-Rasyid. Karena penasaran sang raja mengaku nyerah dan minta jawabanya.

Abu Nawas pun dengan tersenyum puas menjawab: "Karena saya punya istri, anak dan punya hutang. Allah tidak punya semua itu". Sontak Harun Ar-Rasyid pun tertawa terpingkal-pingkal sambil berkata: "Majnun! (dasar wong edan)".

Dan masih banyak kisah-kisah lucu lainnya dari seorang sufi yang seumur hidupnya dihabiskan untuk menghibur manusia.
Di era Nabi juga ada sahabat yang selera humornya kelewat batas.

Dikisahkan seorang sahabat Nabi yang bernama Nuaiman. Ia adalah pribadi yang humoris tapi gemar mabuk-mabukan. Satu hal yang membuat para sahabat iri dengannya yakni kecintaannya pada baginda Nabi yang sangat luar biasa. Sehari tanpa bertemu nabi ia merasa pusing, sebagaimana sehari tanpa meneguk khamrWal-hasil Nabi selalu mengajaknya dalam berdakwah hingga sahabat-sahabat iri melihat kedekatan Nabi dengan Nuaiman.
Para sahabat pun bertanya kenapa Nabi begitu dekat dengan Nuaiman. Nabi menjawab bahwa Nuaiman lah yang selalu menghibur Nabi dengan humor-humor segarnya, meskipun ia sering di-takzir (dihukum) oleh Nabi karena terciduk sedang mabuk. Tetapi Nuaiman rela, asal selalu dekat dengan baginda Nabi.

Selepas Nabi meninggal Nuaiman semakin menjadi-jadi keusilannya. Suatu hari ada seorang yang buta mencari toilet. Oleh Nuaiman ia diantar ke tempat pengimaman masjid dan disuruh kencing di sana. Sontak para sahabat pun geram dan memarahi si buta tersebut.
Esok harinya si buta tersebut jengkel dan ingin mencari siapa gerangan yang menuntunnya untuk kencing di pengimaman masjid. Sialnya ia kembali bertemu dengan Nuaiman.
Nuaiman berkata pada pengemis buta bahwa ia tahu siapa yang menjerumuskannya kemarin. Kemudian dituntunlah si buta tersebut menuju masjid. Ia diarahkan kepada Sayyidina Utsman yang sedang berdzikir di dalam masjid. Kata Nuaiman, orang yang dzikir di masjid itulah yang menjahilimu kemarin. Sontak sahabat Utsman lari tunggang-langgang karena dipukuli si buta dengan tongkatnya.

Para sahabat yang tahu bahwa itu ulah Nuaiman, tak berani mencemooh apalagi mengafirkanya karena Nuaiman adalah sahabat Nabi yang gemar menghibur baginda Nabi.

Agama Islam bukanlah agama yang keras dan kaku. Nabi sendiri adalah pribadi yang humoris. Islam bukan hanya soal perang, kafir, musrik, murtad, bid'ah maupun kosa kata-kosa kata menghakimi lainnya. Oleh karenanya di era sosial media kini, mari bijak memilah dan memilih dai yang beredar di internet. Ceramah yang disertai humor cenderung menyejukkan ketimbang ceramah yang berisi ujaran kebencian.

Penulis adalah Pengurus GP Ansor Kecamatan Gisting, Tanggamus, Lampung

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/99922/islam-dan-humor

Selasa, 04 Desember 2018

Blak-blakan Mantan Aktivis HTI Cerita Teori Tebar Jala di Lautan Medsos oleh HTI



Mantan anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Rofiq Al Amin mengatakan dalam kitab HTI disebutkan mereka yang tidak melaksanakan khilafah termasuk akbarul ma'asi atau kemaksiatan yang paling besar.


"Saya lima tahun aktif di HTI. Di antara upaya gerakan radikalisme itu tebar jala ide dan hoaks, daya tunggang dan kamuflase," kata Rofiq dalam Dialog Kebangsaan GP Ansor Bintan, Kepulauan Riau, Selasa (27/11).
Ia menjelaskan di era saat ini, generasi milenial hidup berakrab ria dengan medsos. Di 'lautan' medsos inilah generasi milenial banyak belajar dan diajari untuk hidup, tumbuh dan berkembang; baik cara tampilan diri, cara berfikir, cara bergaul, hingga sikap dan cara keberagamaannya.

"Lalu, siapa yang mengajarinya? Tidak lain semua pihak dari seluruh penjuru jagat raya yang berkepentingan. Seluruh pihak yang berkepentingan akan berupaya menebar 'jala' pemikiran di 'lautan' medsos untuk menjaring generasi milenial agar mengikuti idenya," papar Gus Rofiq, panggilan akrabnya.

Menurutnya semakin sering, massif, dan sistematis mereka menebar 'jala', maka akan semakin banyak 'ikan' tangkapan yang didapat, yakni generasi milenial yg  terperangkap 'jala' ide tersebut.

"Apesnya, di antara sekian  banyak penebar 'jala' di 'lautan' medsos adalah kelompok radikal; entah mereka yang mau menegakkan negara Islam (khilafah), atau mereka yang ingin melakukan purifikasi yang over alias kebacut," sesalnya.

Situasi demikian, bagi yang ingin menyelamatkan generasi milenial dari radikalisme tiada lain harus melakukan perlawanan, kontranarasi atau wacana balik. "Kita tidak boleh diam, 'jala-jala'  yang ditebar itu harus kita difungsikan dengan cara menyampaikan pencerahan akan bahaya radikalisme kepada generasi milenial agar mereka bisa menghindar dari jebakan  tebaran 'jala-jala' tersebut," imbuhnya.

Lebih berbahaya lagi, lanjut Gus Rofiq, jika 'jala' tersebut dimodifikasi menjadi 'pukat harimau'. Daya destruksinya terhadap generasi milenial semakin besar. Diibaratkan pukat harimau di dunia kelautan dilarang karena merusak alam bawah laut dan ikan-ikan kecil, 'pukat harimau' di 'lautan' medsos yang berkomposisi, hoaks, adu domba, isu SARA serta dihubungkan dengan kepentingan politik, akan merusak alam bawah sadar, pikiran, rasa, dan sikap generasi milenial.

Dosen UIN Sunan Ampel ini menegaskan NKRI adalah kesepakatan yang dibangun berdarah-darah. Ia bercerita, dulu ia memiliki tugas bergerilya dari tokoh ke tokoh, untuk mempengaruhi agar mereka mendukung khilafah. Kini dia justru jadi rujukan jawaban atas pertanyaan masyarakat umum yang acap kali dikampanyekan kalangan HTI untuk menggerus kemantapan warga negara Indonesia tetap berada di barisan Pancasila, lalu mengikuti propaganda mereka, yakni khilafah.

Sementara Rektor Inafis Jember,  Rijal Mumazziq menegaskan dalil untuk mencintai Indonesia itu cukup dengan ayat yang artinya 'Nikmat apa lagi yang engkau dustakan.'

"Karena Indonesia yang terdiri dari ribuan suku bisa hidup aman dan damai dan ini harus kita pertahankan," katanya.

Pada kegiatan bertema Meneguhkan kembali peran OKP dan Ormas dalam mengisi dan menjaga keutuhan NKRI yang berlangsung di Wisma Karya Kijang, Bintan, Provinsi Kepulauan Riau ini, Kapolres Bintan mengatakan GP Ansor sebagai mitra Polri sangat dibutuhkan sinergitasnya.

Selain Kapolres Bintan, hadir juga Kesbangpol Bintan, PWNU Kepri, PP GP Ansor, Ormas dan OKP se-Kabupaten Bintan. Ketua Panitia Muhammad Sahroni berharap kegiatan ini dapat menjadi bekal kita untuk menjaga dan merawat keberagaman. Kegiatan diakhiri dengan pelantikan PC GP Ansor Bintan. (Abdul Madjid Al Jufri/Kendi Setiawan/NU Online)

#muslimsejati
Sumber :http://www.muslimoderat.net/2018/12/mantan-aktivis-hti-cerita-teori-tebar.html#ixzz5YgaJjCUY

Sabtu, 01 Desember 2018

Formasi Tolak Reuni 212: Kami Khawatir Ditunggangi HTI 

Formasi Tolak Reuni 212: Kami Khawatir Ditunggangi HTI
Jakarta –
Forum Rembuk Masjid Indonesia (Formasi) menolak Reuni 212 yang akan digelar di Monas esok hari. Formasi menilai aksi Reuni 212 sudah keluar dari tujuan utamanya yang terkait dengan kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
Penolakan itu disampaikan usai acara peringatan Maulid Nabi di Aula Masjid Al-Bina, Komplek Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (1/12/2018). Hadir dalam acara tersebut Farhat Abbas yang merupakan Caleg PKB.
Ketua Formasi, Gus Soleh mengatakan, Reuni 212 saat pertama kali digelar berkaitan dengan kasus penodaan agama Ahok. Menurutnya, karena Ahok sudah dinyatakan bersalah aksi tersebut sudah tak relevan lagi.
“Kepentingannya apa lagi gitu lho? Ya kita kumpul waktu itu Reuni 212 karena ada kesalahan pembicaraan dari Ahok. Dan negara kita menjadikan hukum sebagai panglima. Negara telah menetapkan dengan ketentuan hukum Ahok bersalah dan Ahok sudah ditahan,” kata Gus Soleh.
“Lah kenapa ada ini lagi? Apa lagi ini tahun politik. Jadi ini sudah keluar dari pada ruh dari pada aksi 212 itu sendiri,” imbuhnya.
Gus Soleh lalu menyinggung soal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Formasi khawatir aksi Reuni 212 justru disusupi kepentingan HTI.
“Yang kedua adalah, yang paling kami takutkan adalah tunggangan daripada HTI yang mana dia mengambil kepentingan di dalam kekeruhan aksi dari 212 ini untuk mengubah bangsa kita yang memang NKRI dan Pancasila sudah final,” jelas Gus Soleh.
Gus Soleh menuturkan, panitia aksi Reuni 212 memang berupaya mengajak kedua kubu yang bertarung di Pilpres 2019 ikut serta dalam acara tersebut. Namun, sambung dia, Formasi tetap menganggap aksi 212 sudah tidak tidak ada lagi.
“Itu mungkin salah satu cara agar bisa mengakomodir semuanya. Kalau kami ya secara pribadi maupun dengan komunitas kami, aksi 212 itu sudah tidak ada lagi lah, kan begitu,” ujarnya.
Aksi Reuni 212 akan digelar di Monas esok hari. Sejumlah ulama, dari Ustaz Arifin Ilham hingga Aa Gym, akan hadir.
“Untuk undangan tertulis, kami 250 tokoh ulama kami berikan tertulis, termasuk pimpinan DPR dan MPR. Kita tidak lihat parpol apa pun. Tokoh ulama kharismatik, seperti Arifin Ilham, Aa Gym, serta ulama lain, semua hadir Insyaallah,” tutur Ketum PA 212 Slamet Ma’arif, saat diskusi Polemik Sindo Trijaya bertema Seberapa Greget Reuni 212 di d’Consulate Resto, Wahid Hasyim, Sabtu (1/12).
#muslimsejati
Sumber :https://terkini.com/formasi-tolak-reuni-212-kami-khawatir-ditunggangi-hti/