Jumat, 23 November 2018

Inti Ajaran Islam Adalah Kasih Sayang


Pekalongan, NU Online
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) hadir dalam acara peringatan Maulid Nabi dan Hari Pahlawan yang diselenggarakan Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Alun-alun Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Kamis (22/11) malam.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi mengajak kepada seluruh anggota Ansor untuk senantiasa menjaga marwah ulama. "Jangan pernah jauh dari ulama dan kiai," kata dia.

Ditambahkan dia, setiap anggota GP Ansor sudah semestinya untuk meletakkan kepentingan bangsa serta syiar Islam di atas kepentingan pribadi. "Selalu bermunajat kebaikan untuk kedamaian, kesejahteraan, dan kemakmuran," ungkapnya.

Sementara itu, dalam pidato sambutannya, Ketua PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), menegaskan GP Ansor menolak digunakannya agama sebagai alat politik.

"GP Ansor menolak kelompok yang mengklaim kebenaran tunggal, dan menyalahkan keyakinan kelompok lain yang tak sejalan dengan mereka!" tegas Gus Yaqut.

Lebih lanjut dikatakn Gus Yaqut, bangsa Indonesia harus waspada, dengan pola gerakan intoleransi dan radikalisme yang sudah dipraktikkan kelompok teroris berkedok agama di sejumlah negara lain. "Inti dari ajaran Islam adalah rahmah atau kasih sayang," kata dia.

Pesan rahmah ini pula yang mendasari kiai-kiai yang menyatakan bahwa NKRI adalah rumah bersama yang harus dijaga.

Selain pembacaan doa dan pidato, terdapat beberapa rangkaian acara, antara lain teater yang menampilkan sejarah terbentuknya NU dengan latar belakang konflik di tanah Hijaz; momen sumpah pemuda; proklamasi kemerdekaan; fatwa Resolusi Jihad; dan perlawanan 10 November. (Rodif/Ajie/Muiz)

Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/99374/inti-ajaran-islam-adalah-kasih-sayang

Kamis, 22 November 2018

BAGAIMANA CARA MEMBUAT UMAT ISLAM BERSATU...? - Agustus 06, 2018 Apakah menyatukan kaum muslimin di atas akidah yang beraneka rupa...? MUSTAHIL bisa bersatu dengan kondisi seperti itu. Yang terjadi adalah persatuan yang SEMU. Raganya saja terlihat bersatu, banyak... tapi hatinya bercerai berai. Adalah kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri jika umat Islam pada zaman ini telah berpecah belah dan terkotak-kotak, setiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka. Padahal Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk membuang perpecahan, dan bersatu padu diatas tali-Nya. ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮْﺍ ﺑِﺤَﺒﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮْﺍ “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai.“ (QS Ali Imran : 103) Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ”Allah memerintahkan untuk bersatu dan melarang berpecah belah." Banyak hadits yang melarang berpecah belah dan menyuruh bersatu. Sebagaimana dalam Shahih Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (artinya), ”Sesungguhnya Allah rela untuk kalian tiga perkara… (diantaranya disebutkan) : dan agar kalian berpegang dengan tali Allah dan tidak berpecah belah.“ (Tafsir Ibnu Katsir 1/397) Allah Tabaraka wa Ta’ala juga menyebutkan bahwa perpecahan adalah sifat orang yang tidak mendapat rahmatNya. ﻭَﻻَ ﻳَﺰَﺍﻟُﻮﻥَ ﻣُﺨْﺘَﻠِﻔِﻴْﻦَ ﺇِﻻَّ ﻣَﻦْ ﺭَﺣِﻢَ ﺭَﺑُّﻚَ “Dan mereka senantiasa berselisih kecuali orang yang Allah rahmati.” (Hud : 118-119) Abu Muhammad bin Hazm berkata, ”Allah mengecualikan orang yang dirahmati dari himpunan orang-orang yang berselisih.“ (Al Ihkam 5/66) Imam Malik berkata, ”Orang-orang yang dirahmati tidak akan berpecah belah.“ (idem) Syaikhul islam Ibnu Taimiyah berkata, ”Allah mengabarkan bahwa orang yang diberikan rahmat tidak akan berpecah belah. Mereka adalah pengikut para nabi baik perkataan maupun perbuatan, mereka adalah ahli Al Qur’an dan hadits dari umat ini. Barangsiapa yang menyalahi mereka akan hilang rahmat tersebut darinya sesuai dengan kadar penyimpangannya.“ (Majmu’ fatawa 4/25) Firman Allah Tabaraka wa Ta’ala, ﻭَﻻَ ﺗَﻜُﻮْﻧُﻮْﺍ ﻛَﺎﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮْﺍ ﻭَﺍﺧْﺘَﻠَﻔُﻮْﺍ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣَﺎ ﺟَﺎﺀَﻫُﻢُ ﺍﻟْﺒَﻴِّﻨَﺎﺕُ ﻭَﺃُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻋَﻈِﻴْﻢٌ “Janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan. Dan bagi mereka adzab yang pedih.“ (Ali Imran : 105) Al Muzany rahimahullah berkata, ”Allah mencela perpecahan, dan memerintahkan untuk kembali kepada Al Qur’an dan sunnah. Kalaulah perpecahan itu termasuk dari agamaNya tentu Dia tak akan mencelanya. Kalaulah perselisihan itu termasuk dari hukumNya, tentu Allah tidak menyuruh untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah.“ (Jami’ bayanil ‘ilmi wa fadllihi 2/910) Dalil-dalil tersebut diatas sudah cukup menunjukkan bahwa islam mencela dan membenci perpecahan serta menganjurkan persatuan. HADITS TENTANG PERPECAHAN UMAT Mungkin diantara kita ada yang bertanya-tanya, ”Bukankah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa umat islam ini akan berpecah belah...?” Jawabannya adalah, Tidak ada bedanya antara perpecahan dengan maksiat. Maksudnya bahwa Allah menghendaki adanya maksiat, tapi bukan untuk dilaksanakan tapi untuk dijauhi. Nabi juga mengabarkan bahwa nanti akan datang suatu zaman dimana arak akan dinamai dengan bukan nama sebenarnya. Hal tersebut tidak menunjukkan bolehnya perbuatan tersebut, demikian pula perpecahan. Nabi mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah, akan tetapi hal tersebut tidak menunjukkan boleh dilakukan. Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah berkata, ”Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyatakan bahwa perpecahan bukan dari sisiNya, maknanya bahwa Allah tidak meridhainya, tapi Allah menghendaki keberadaanya hanya sebatas iradah kauniyyah saja. Sama seperti Allah menghendaki adanya kekufuran dan seluruh maksiat.“ (Al Ihkam 5/64) MAKNA PERSATUAN Sebagian kaum muslimin memandang persatuan sebagai sesuatu yang harus dikedepankan dari mengingkari bid’ah yang mereka anggap parsial, sehingga akibatnya bid’ah didiamkan dan semakin merajalela. Sedangkan sunnah menjadi semakin redup. Maka perlu kiranya kita sedikit mengupas seputar persatuan. Persatuan dalam pandangan Islam tidaklah sama dengan persatuan ala demokrasi yang lebih mementingkan persatuan badan dan tidak memperhatikan keyakinan. Demokrasi memandang bahwa jumlah mayoritaslah yang harus dijadikan pegangan, walaupun ternyata pendapat mayoritas tersebut berseberangan dengan Al Qur’an dan sunnah. Pemahaman inilah yang banyak menghinggapi pemikiran kaum muslimin, sehingga orang yang tidak mau mengikuti mayoritas dianggap telah memecah belah umat. Untuk memahami makna persatuan, perlu kita melihat beberapa pertanyaan berikut, Diatas apa kita bersatu...? Untuk tujuan apa kita bersatu...? Dan apa tolak ukur persatuan...? Untuk menjawab pertanyaan pertama, cobalah kita renungkan ayat berikut ini, ﻭَ ﺃَﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺻِﺮَﺍﻃِﻲْ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻴْﻤًﺎ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮْﻩُ ﻭَﻻَ ﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮْﺍ ﺍﻟﺴُّﺒُﻞَ ﻓَﺘَﻔَﺮَّﻕَ ﺑِﻜُﻢْ ﻋَﻦْ ﺳَﺒِﻴْﻠِﻪِ “Dan inilah jalanku yang lurus, maka ikutilah dan jangan kamu ikuti jalan-jalan lainnya, niscaya (jalan-jalan lain tersebut) memecah belah kalian dari jalannya.” (Al An’am : 153) Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuat garis lurus dan bersabda (artinya), ”Ini adalah jalan yang lurus." Kemudian beliau membuat garis-garis disamping kiri dan kanannya dan bersabda, ”Ini adalah jalan-jalan lainnya, di setiap jalan itu ada setan yang menyeru kepadanya.“ Kemudian beliau membaca ayat tadi diatas. (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Ibnu Mas’ud) Imam Mujahid seorang ahli tafsir di zaman Tabi’in menerangkan bahwa yang dimaksud dengan jalan-jalan lainnya adalah bid’ah dan syubhat. (Tafsir Ibnu Katsir) Ayat ini sangat jelas menyatakan bahwa persatuan haruslah diatas satu jalan, yaitu jalan yang lurus. Dan jalan yang lurus itu adalah jalan Rasulullah dan para sahabatnya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits hasan ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka, beliau menjelaskan tentang satu golongan yang selamat tersebut yaitu, ”apa-apa yang dipegang olehku dan para sahabatku pada hari ini.“ Jadi persatuan dalam Islam maknanya bersatu diatas jalan Rasulullah dan para sahabatnya dan perpecahan maknanya berpecah dari jalan tersebut. Maka siapa saja yang berjalan diatas jalan yang lurus yaitu jalannya Rasulullah dan para sahabatnya maka ia telah bersatu padu walaupun jumlahnya sedikit. Dan siapa saja yang menyimpang dari jalan tersebut dan mengikuti jalan-jalan lainnya maka ia telah berpecah belah walaupun jumlahnya banyak. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata, ”Al Jama’ah adalah al haq (kebenaran) walaupun engkau satu orang.“ Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮْﺍ ﺑِﺤَﺒﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺟَﻤِﻴْﻌًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮْﺍ "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai.“ (QS Ali Imran : 103) Dalam ayat ini, Allah menyuruh kita untuk bersatu memegang talinya sedangkan Tali Allah adalah agamaNya, dan agama Allah adalah yang Allah turunkan kepada RasulNya di dalam Al Qur’an dan Sunnah. Kemudian Allah melarang kita bercerai berai. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mau mengikuti agamaNya sesuai dengan yang diturunkan kepada RasulNya berarti ia telah bercerai berai.

Rabu, 21 November 2018

Tanggapi Pertanyaan Maulid Nabi Bid’ah, Mahfud MD: Jangan Memprovokasi

Tanggapi Pertanyaan Maulid Nabi Bid’ah, Mahfud MD: Jangan Memprovokasi
Foto: Angga Yuniar/Liputan6.com
Muchlishon, NU Online | Rabu, 21 November 2018 00:30
Jakarta, NU Online
Perayaan Maulid Nabi sudar berlangsung ratusan bahkan ribuan tahun. Maulid Nabi dirayakan dengan cara meriah pertama kali pada zaman Dinasti Abbasiyah. Khususnya pada masa kekhalifahan Al-Hakim Billah. Pada saat itu, Khalifah Al-Hakim Billah keluar dari istana bersama permaisurinya dengan memakai pakaian yang indah.

Sejak saat itu, perayaan Maulid Nabi terus berkembang hingga hari ini. Tergantung adat istiadat dan ‘kreasi’ komunitas Muslim setempat. Pada era sekarang, Maulid Nabi hampir diselenggarakan di semua negara Muslim atau pun negara-negara yang memiliki populasi Muslim cukup signifikan seperti Kanada, Amerika, India, Inggris, Prancis, dan lainnya. 

Meski demikian, ada saja sekelompok Muslim yang anti terhadap Maulid Nabi. Mereka menganggap Maulid Nabi sebagai bid’ah karena tidak ada dalilnya. Selain itu, mereka juga berargumen kalau Nabi Muhammad dan para sahabat tidak ada yang merayakan Maulid Nabi.

Pandangan kalau Maulid Nabi bid’ah masih saja menggejala di Indonesia. Ada saja yang mempertanyakan hal itu. Salah satunya seorang warganet @rezkymustikap. Ia mempertanyakan pandangan yang menyebut Maulid Nabi Bid’ah kepada Mahfud MD di media sosial.

“Bagaimana pandangannya terhadap Maulidan yang dikatakan bid’ah?” tanya @rezkymustikap. 

Mendapat pertanyaan tentang hal itu, Mahfud MD meminta agar tidak memprovokasi umat dengan isu Maulid Nabi bid’ah. Menurut dia, isu tersebut sudah usang dan tidak perlu untuk didiskusikan lagi.

“Jangan memprovokasi dengan isu bid'ah. Itu sudah kuno dan tidak laku untuk didiskusikan,” tulis Mahfud MD di akun Instagramnya, Selasa (20/11).


Mahfud MD kemudian menyebut salah satu ormas Islam yang dulunya memang ‘alergi’ dengan Maulid Nabi, namun saat ini tidak mempermasalahkannya lagi.     

“Muhammadiyah pun sekarang sudah tak lagi ribut dengan isu bid'ah. Itu tak menarik lagi untuk dibahas,” jelasnya.

Mahfud MD lalu meminta warganet tersebut untuk mendiskusikan isu lain yang memang perlu didiskusikan seperti radikalisme. 

“NU & Muhammadiyah sekarang sama-sama menghadapi radikalisme. Isu lain saja, Rezky,” kata Mahfud MD. (Red: Muchlishon).
#muslimsejati
Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/99229/tanggapi-pertanyaan-maulid-nabi-bidah-mahfud-md-jangan-memprovokasi

Selasa, 20 November 2018

Contohlah Nabi yang Memberikan Solusi bagi Umat

Contohlah Nabi yang Memberikan Solusi bagi Umat
Syaifullah, NU Online | Selasa, 20 November 2018 08:30
Surabaya, NU Online
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh umat Islam dalam menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad. Salah satunya adalah seperti yang dilakukan Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Airlangga Unair Surabaya.

Menyambut datangnya hari kelahiran Rasulullah SAW, PK PMII Airlangga menggelar satu acara berupa Maulid dalam Pergerakan 2.0: Refleksi Integritas Nabi Muhammad SAW di Masa Muda. Kegiatan yang menghadirkan Ustadz Ahmad Muntaha AM dan dilaksanakan di Masjid Nuruzzaman Unair Kampus B Surabaya.

Saat penyampaian materi, Ustadz Muntaha menjelaskan beberapa hal yang bisa diambil contoh dari masa muda Nabi putra Abdullah ini.

“Rasulullah tidak takut terhadap tantangan. 12 tahun ikut Abu Thalib, pamannya ke Syria untuk berdagang dan melewati padang pasir yang panas dan berdebu serta jarak yang sangat jauh,” katanya, Senin (19/11).

Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur ini melanjutkan jika Rasulullah gemar mengupayakan kemaslahatan bagi masyarakat, serta menjadi pemberi solusi di tengah permasalahan umat.

“Rasulullah selalu mengupayakan kemaslahatan bagi masyarakat, memberi pelayanan yang sakit, memberi pembelaan terhadap yang lemah,” jelas pengurus di Aswaja NU Center Jawa Timur ini.

Kepada hadirin, Ustadz Muntaha mengatakan bahwa Nabi Muhammad merupakan pribadi yang memiliki semangat belajar serta etos kerja yang tinggi. “Beliau semangat dalam belajar dan bekerja,” lanjut ustadz asal Magelang Jawa Tengah ini.

Di akhir paparannya, alumnus Pesantren Lirboyo Kediri ini berpesan agar menjaga hubungan baik antarsesama mengingat sedang banyaknya propaganda atas nama agama. “Termasuk arus negatif adalah propaganda atas nama agama yang justru membahayakan agama itu sendiri, umat, bangsa, dan negara,” tutupnya. 

Kegiatan ini diikuti puluhan peserta yang berasal dari PMII, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Unair, Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Religi (UKM SR) Unair. (Hanan/Ibnu Nawawi)

#muslimsejati
http://www.nu.or.id/post/read/99177/contohlah-nabi-yang-memberikan-solusi-bagi-umat

Senin, 19 November 2018

IKHLAS DALAM BERAMAL

Image result for gambar ikhlas dalam beramal
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa hadits ini sepertiga Islam. Mengapa demikian?

Menurut Imam Baihaqi, karena tindakan seorang hamba itu terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya, dan niat yang tempatnya di hati adalah salah satu dari tiga hal tersebut dan yang paling utama. Menurut Imam Ahmad adalah, karena ilmu itu berdiri di atas tiga kaidah, di mana semua masalah kembali kepadanya, yaitu:

Pertama, hadits “Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

Kedua, hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa radd” (Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tertolak).

Ketiga, hadits “Al Halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).”

Di samping itu, niat adalah tolok ukur suatu amalan; diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat. Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya.

Perkara ikhlas dalam beramal ini sangat penting kedudukannya dalam ajaran Islam.  Sebesar apapun amalan seseorang jika tidak ikhlas maka akan tertolak di sisi Alloh SWT.

Saudaraku
Belakangan kita melihat begitu banyak aksi sekelompok kaum muslimin dengan selogan membela Islam,  menjaga agama Islam dari pelecehan orang – orang kafir.  Dan bahkan banyak yang mengangkat isu menjaga Islam dari rongrongan kaum munafikin.  Membela Islam itu sangat baik dan dianjurkan oleh agama akan tetapi jika dalam pelaksanaannya tidak murni dalam rangka membela Islam maka ini justru akan merusak Citra Islam itu sendiri.  Sebagai sebuah contoh peristiwa terakhir belakangan ini yaitu mengenai pembakaran bendera “Laa ilaha illallaah”, maka marak muncul kelompok islam tertentu melakukan aksi dengan dalih membela kalimat tauhid.

Betulkah membela kalimat tauhid?
Peristiwa ini sebenarnya peristiwa internal umat Islam yang bentuk penyelesaiannya bisa selesai dengan dialog.  Membangun dialog dengan asas kekeluargaan insya Alloh akan selesai.  Dan segala bentuk kesalah pahaman akan berakhir dengan baik.  Tetapi bukan cara itu yang ditempuh,  beberapa kelompok Islam turun ke jalan dan seolah – olah akan berperang menghadapi musuh yang besar.  Jargon – jargon jihad diteriakkan dan ujaran memprovokasi umat terus dikumandangkan.  Bahkan mereka menganggap ini adalah bagian dari jihad. 

Ketika persoalan ini sudah selesai dalam forum diskusi tapi tetap saja isu membela kalimat tauhid digaungkan.  Ada motif apa dibalik ini semua.  Bukan suatu kebetulan peristiwa ini terjadi bersamaan dengan masa kampanye pemilihan presiden.  Dan sangat nampak jelas pada akhirnya gerakan membela tauhid dijadikan alasan untuk menggerakkan masa dalam rangka mendukung PASLON tertentu. Ini maknanya kalimat tauhid yang suci malah dikotori oleh mereka yang katanya sedang membela kalimat tauhid.  Isu ini hanya dijadikan alasan untuk kepentingan politik sesaat.  Saya berharap umat Islam sudah semakin pintar melihat persoalan ini dan tidak terpengaruh oleh mereka – mereka yang mengklaim sebagai pembela kalimat tauhid tapi sebenarnya tidak lebih dari hanya sekedar memuaskan syahwat politik mereka. 

Rasulullah saw memperingati kepada kita betapa bahayanya orang yang merasa berjuang untuk Islam tapi itu hanya sekedar dalil pembenaran sikap meraka padahal niat yang sebenarnya adalah untuk kepentingan dunia mereka.  Mari kita camkan satu hadits Rasulullah saw:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ: أَيُّهَا الشَّيْخُ، حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:


" إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ "

"(Imam Muslim berkata) Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, (Dia - Yahya bin Habib Al-Haritsi telah berkata) Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Al-Haritsi, (Dia - Khalid bin Al-Haritsi berkata) telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, (Ibnu Juraij berkata) telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yusuf, dari Sulaiman bin Yasaar, Dia (Sulaiman bin Yasaar) berkata, Ketika orang-orang telah meninggalkan Abu Hurairah, maka berkatalah Naatil bin Qais al Hizamy Asy-Syamiy (seorang penduduk palestine beliau adalah seorang tabiin), "Wahai Syaikh, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang Engkau telah dengar dari Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam, Ya (Aku akan ceritakan - Jawab Abu Hurairah), Aku telah mendengar Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.(HR. Muslim)

Semoga kita menjadi hamba Alloh yang dirahmati oleh Alloh SWT yang tetap mampu menjaga kemurnian niat kita daan tidak terpengaruh dengan berbagai retorika yang indah dan bersemangat membela Islam akan tetapi sebenarnya justru merusak Islam dan menodai ajaran Islam. 
Wallohu a’lam

Minggu, 18 November 2018

Perilaku Intoleran Dampak dari Kurangnya Ilmu

Perilaku Intoleran Dampak dari Kurangnya Ilmu
Silaturrahmi jaringan Gusdurian Bekasi RayaAbdul Muiz, NU Online | Ahad, 18 November 2018 19:30
Bekasi, NU Online
Jaringan Gusdurian Bekasi Raya diharapkan dapat mengubah wajah Bekasi yang dinilai sebagai daerah yang cukup tinggi perilaku intoleransinya.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang tokoh agama Kabupaten Bekasi Ustadz Muhib Syadzili saat menghadiri peringatan Hari Toleransi Internasional yang diadakan Gusdurian Bekasi Raya, di Kantor PCNU Kabupaten Bekasi, pada Jumat (16/11) kemarin. “Mungkin intoleran itu diakibatkan karena kurangnya ilmu,” katanya.

Ia melanjutkan bahwa seorang sahabat karib Gus Dur, yakni Habib Muhammad Quraish Shihab ingin merekrut orang-orang yang suka mendapatkan beasiswa ke berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah.

“Saat itu tidak dites satu per satu. Hanya saja, mahasiswa yang ada di sana ditanya dalam sehari dapat meluangkan waktu selama berapa jam, ada yang menjawab satu hingga dua jam,” kata Ustadz Muhib.

Lalu, Habib Quraish yang saat itu menduduki jabatan sebagai Menteri Agama mengatakan bahwa dirinya sangat sibuk. Namun dalam sehari, tidak pernah lepas untuk membaca buku selama 8 jam.

Oleh karena itu, sudah dapat dipastikan jika ada orang yang kerap melakukan aksi intoleransi adalah mereka yang kurang ilmu. Sebaliknya, orang-orang yang memiliki rasa toleransi yang tinggi maka punya ilmu yang sangat banyak.  

Niatkan tabarukan ke Gusdur

Seorang Penulis Buku Keislaman, KH Agus Mustofa pernah menyampaikan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi adalah ja’ilun fi al-ardhi khalifah yang bertugas untuk mengatur keberlangsungan kehidupan di dunia.

“Kalau misalkan kita menindas orang yang lemah malah justru kita sendiri yang akan binasa,” kata Ustadz Muhib 

Sebab, lanjutnya, orang-orang lemah yang tertindas itu lama-kelamaan akan membuat sebuah jaringan yang sangat kuat sehingga melakukan perlawanan. “Maka menindas orang-orang lemah itu merupakan perilaku bunuh diri,” kata Ustadz Muhib.

Sehingga untuk menjadi khalifah, haruslah memiliki rasa toleransi yang tinggi. Yakni sebuah sikap dalam menciptakan kehidupan yang damai, tenteram, dan tenang.

“(Karena) sesungguhnya toleransi itu adalah perintah Allah. Yakni yang termaktub dalam Al-Quran, surat Al-Hujurat ayat 13,” terangnya.

Bahwa Allah menciptakan manusia dari laki-laki dan perempuan. Itulah Nabi Adam dan Siti Hawa. Ayat ini menegaskan kepada manusia bahwa setiap orang di muka bumi ini adalah saudara.

“Sebab kita berasal dari satu rahim dan satu benih. Kemudian setelah itu Allah menjadikan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Tujuannya adalah lita’arafu. Untuk saling mengenal satu sama lain. Ini (toleransi) adalah perintah Allah,” jelasnya.

Dalam kajian ushul fiqih, tambah Ustadz Muhib, asal hukum adalah wajib. Maka menjadi wajib hukumnya untuk saling mengenal kepada sesama saudaranya.

“Orang tidak mungkin bisa saling mengenal kalau tanpa toleransi. Ketika kita melakukan perbuatan yang toleran, maka saat itu kita sedang menjalankan perintah Allah yakni lita’arafu,” ucapnya.

Ayat tersebut mengingatkan manusia untuk bisa saling mengenal kepada siapa dan apa pun latar belakang seseorang. Inilah salah satu misi yang dibawa oleh Gus Dur.

“Maka itu marilah kita masuk ke dalam Jaringan Gusdurian dengan niat tabarukan kepada Gus Dur, meneladani sikap luhur beliau, dan juga bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain,” pungkasnya. (Aru Elgete/Muiz)
#muslimsejati
Sumber http://www.nu.or.id/post/read/99093/perilaku-intoleran-dampak-dari-kurangnya-ilmu-

Sabtu, 17 November 2018

Meneladani Sang Nabi




Oleh Khairi Fuady

Istilah Sang Nabi semula populer dari karya seorang penyair legendaris asal Lebanon, Khalil Gibran. Dalam versi bahasa Inggris, bukunya bernama The Prophet. Bercerita tentang sosok Al-Musthafa yang mengembara ke sebuah kota bernama Orphalese dalam kurun waktu 12 tahun, dan mereguk tetes demi tetes hikmah dari pengembaraannya. Di Kota itu, ia bertemu dengan seorang gadis kecil bernama Almitra, seorang anak yang tak bisa bicara sejak kepergian Ayahnya.  

Sang Nabi pada tulisan ini juga Al-Musthafa, seorang pemuda yang lahir dari Klan Bani Hasyim di Tanah Arabia. Ia lah yang masyhur karena budi pekertinya, perangai elok nan memikat semua. Seorang yang dalam Sya’ir Maulid Ad Diba’i karya Al Imam Wajihuddin Abdurahman bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Yusuf  bin Ahmad bin Umar Ad Diba’i: “Kaana ahsanannaasi khuluqan wa khalqaa, sebaik-baik manusia dari segi akhlak dan juga rupa”. Dia lah Al-musthafa Muhammad SAW, yang ukiran cahaya namanya sudah lebih dulu terpahat di Surga, sebelum terciptanya Sang Adam juga Hawa.

Dialah teladan, panutan, juga obor yang menuntun kita kepada cahaya di atas segala cahaya, karena dia lah sejatinya cahaya. Fahtazzal ‘arsyu tharaban wastibsyaaraa. Arsy terguncang riang gembira. Wazdaadal kursiyyu haybatan wa waqaaraa. Kursi singgasana Allaah bertambah wibawanya. Wamtalaatis samaawaatu anwaaraa. Dan langit-langit bertambah terang kilau cahaya. Walam tazal ummuhuu taraa anwaa’an min fakhrihi wa fadhlih. Dan masih sahaja sang ibunda Aminah, menyaksikan rupa-rupa kemulyaan dan keutamaan. Ilaa nihaayati tamaami hamlih. Hingga berakhir masa kandungannya. Walammasytada bihat thalqu bi idzni rabbil khalq, dan ketika rasa sakit berada pada puncaknya dengan seizin Tuhan Sang Maha Pencipta, wadha’atil habiiba shallallaahu ‘alayhi wa salama saajidan syaakiran haamidan ka annahul badru fii tamaamih, lahirlah Sang Nabi shalllallaahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan bersujud, bersyukur, dan bertahmid laiknya rembulan dalam bentuknya yang purnama. 

Demikianlah sya’ir Ad-diba’i bercerita tentang kelahiran Sang Nabi, yang bulan maulidnya tengah kita peringati sekarang ini. Amat pantas lah tentunya jika seorang pemikir Barat bernama Michael Hart menobatkan Sang Nabi sebagai the Most Influential People among 100, orang yang paling berpengaruh di antara seratus tokoh dunia yang bukunya sempat diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi, pendekar pena dari Tanah Batavia. Lalu pada soal apa kita bisa meneledani Sang Nabi? 

Pertama, di tengah situasi kebangsaan yang semakin riuh dengan seteru dan perdebatan tak produktif, marilah meneladani Sang Nabi yang dalam Al-Qur’an disebutkan “Wamaa yanthiqu ‘anil hawaa in huwa illaa wahyun yuuhaa, tidak lah ia berbicara atas dasar hawa nafsunya, namun dituntun isyarat wahyu”. Artinya, mari kita jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman agar kita tak teperdaya oleh emosi dan hawa nafsu kita. Kadang perbedaan ideologi dan sikap politik membuat kita buta hati lalu saling mencaci, mencerca, dan seakan lupa bahwa kita satu bangsa. Kita menghardik, memvonis yang lain kafir dan munafik, hingga lupa mematut diri sendiri di depan cermin.

Kedua, tingkatkan empati. Dalam syair maulid disebutkan bahwa Nabi Muhammad itu “Idzaa da’aahul miskiin, ajaabahu ijaabatan mu’ajjalaa. Jika datang kepadanya seorang miskin, akan ia jawab dengan segera”. Di satu kesempatan Idul Fitri, Nabi keluar rumah untuk shalat ‘Id. Di tengah perjalanan ia mendapati anak-anak kecil bermain riang gembira. Namun di suatu sudut, ada seorang anak kecil menangis dalam keadaan lapar dan tak punya pakaian. Nabi bergegas menghampirinya, dan bertanya tentang apa gerangan penyebab tangisnya. Anak kecil tersebut menjawab bahwa ayahnya wafat di salah satu peperangan bersama Nabi, dan Ibunya menikah dengan lelaki lain hingga ia pun ditelantarkan sebatang kara. Nabi terenyuh dan tanpa pikir panjang ia angkat anak kecil tersebut menjadi anaknya. Ia bawa ke rumah lalu diberi makan dan pakaian hari raya.

Beruntunglah sang anak hinga membuat iri teman-temannya. Nabi Muhammad menjadi ayahnya, Aisyah menjadi ibunya, lalu Fatimah, Hasan, dan Husain menjadi saudara dan saudarinya. Karena itu di kesempatan yang lain Nabi bersabda: “Anaa ma’al yatiim kahaatayni, Aku bersama Yatim seperti dua jemari ini, jari telunjuk dan jari tengah,” yang artinya sangat dekat. 

Ketiga, berkata lembut atau diam. Fal yaqul khayran aw liyashmut (al-hadits). Di tengah fenomena emosi anak bangsa yang kerap diselimuti oleh kemarahan, anjuran tentang kelembutan harus kembali digalakkan. Bahkan Nabi bersabda di kesempatan yang lain dengan kalimat “Laa taghdhab walakal jannah. Jangan marah, maka surga untukmu. Laa taghdhab walakal jannah. Jangan marah, maka surga untukmu. Laa taghdhab walakal jannah. Jangan marah makan surga untukmu”. 

Alkisah sebagai penutup, ketika perang Khandaq, Sayyidina Ali Karramallaahu Wajhah ditantang duel oleh Amru bin abd Wad, seorang jawara dari Bani Quraish yang sangat ditakuti. Nabi Muhammad sempat khawatir lantaran usia Sayyidina Ali yang masih tergolong muda. Tapi ternyata duel tersebut berpihak kepada Ali. Amr tersungkur jatuh ketika Sayfu ‘Aliyyin/pedang Ali menyabet kaki Amr sang jawara Quraish. 

Dalam keadaan jatuh, Amr meludah ke muka Ali hingga tersulut emosi Ali, dan amarahnya bergejolak. Namun tak disangka, Ali memilih mundur dan tak jadi membunuh Amr. Seorang sahabat bertanya; “Wahai Ali, kenapa tidak kau tebas saja kepalanya padahal kamu sangat memungkinkan melakukannya dalam keadaan Amr sedang tersungkur?” 

Ali menjawab; “Ketika ia meludahiku, ketika itu pula emosiku tersulut. Jika aku membunuhnya, berarti aku membunuhnya atas emosiku, bukan atas perintah Allah”. 

Inna fil qisshati la’ibrah. Dalam sebuah kisah terdapat ibrah: belalah agamamu, jangan bela emosimu. Agama membangun kehidupan, sedangkan emosi meruntuhkan. 


Penulis adalah Ketua Pusat Syi’ar dan Dakwah Da’i Muda Al-Mahabbah

http://www.nu.or.id/post/read/99051/meneladani-sang-nabi