Rabu, 07 November 2018

Gus Mus: Hindari Politisasi Agama

KH Mustofa Bisri (Gus Mus) meminta politikus tidak menyeret agama untuk kepentingan politik praktis dan merebut kekuasaan saja. Karena hal itu dapat merugikan agama Islam sendiri, apalagi digambarkan pembuat kerusuhan dan haus kekuasaan.

Sekarang banyak politikus yang menarik-narik agama ke politik. Allah dibawa-bawa ke ranah kampanye. Suriah dulu rusak karena agama digunakan untuk kepentingan politik.

Hal itu disampikan Gus Mus pada acara Haul ke-3 KH Aziz Manshur di Pesantren Pacul Gowang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Senin (6/11) kemarin.

"Dalil tidak digunakan pada tempatnya. Bisa-bisanya surat Al Maidah ditarik ke politik, perkara lima tahun sekali kok dibelain sampai kayak mau kiamat, padahal lima tahun lagi akan ada pemilihan baru," katanya.

Gus Mus juga menyoroti banyaknya politikus yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur'an untuk menjatuhkan lawan politik. Ayat suci tersebut digunakan untuk membenarkan tindakannya. Terkesan memaksakan dalil. Bahkan karena saking fanatiknya pada pilihan politik sampai-sampai merusak persaudaraan. Kakak dan adik tidak lagi akur. Sama tetangga tidak berteguran karena beda pilihan.

"Jadi saya tidak terlalu percaya kalau politikus suka dalil-dalil, kepentingan sesaat. Bahayanya kalau seandainya dalil lima tahun lalu berbeda dengan tahun sekarang. Karena keadaan politik, padahal jejak digital itu kejam. Malah kelihatan tidak konsisten, dulu mengharamkan tapi sekarang membolehkan," ujar Gus Mus.

Gus Mus pun mengaku heran dengan kelompok Islam gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits. Kelompok ini merasa paling benar dan teriak ke sana ke mari merasa paling gagah. Mereka berdemo-demo seolah paling benar. Ia berpendapat gerakan ini subur juga karena sekarang orang waras banyak yang mengalah. Ini harus dibalik sekarang, orang waras harus bicara.

"Kok ya ada gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Al-Hadits tapi Al-Qur'an yang dimaksud adalah Qur'an terjemahan Departemen Agama (Depag). Padahal bahasa Indonesia itu tidak bisa sempurna memaknai bahasa Al-Qur'an. Karena keterbatasan kosa kata. Bersyukurlah santri yang masih belajar di pesantren," beber Gus Mus.

Oleh karenanya, Gus Mus usul untuk melawan gerakan kembali ke Al-Qur'an dan Hadits dengan ngaji kepada para ahli di pesantren. Ditambah lagi dengan memperbanyak kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kalau tidak begitu, orang tidak paham agama secara mendalam akan berfatwa terus.

"Maulid nabi dan Haul kalau bisa setiap malam, biar tidak lali (lupa-red) sama kebaikan nabi dan kiai. Biar tidak ada lagi istilah nabi dawuh ngulon (barat), orangnya malah ngetan (timur). Sudah salah, ditambahi takbir lagi. Kembali ke Al-Qur'an itu ya ngaji, kembali ke pesantren," tandas Gus Mus. (Syarif Abdurrahman/Muiz)



http://www.nu.or.id

Selasa, 06 November 2018

Indonesia merupakan negara dengan beraneka ragam bahasa, budaya dan agama. Semua hidup dalam satu kesatuan yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Indonesia dengan falsafah bangsa yang dimiliki yaitu pancasila mampu memberikan semangat dan arahan yang positif untuk melawan kebodohan dan kemiskinan yang ada dalam bangsa ini. Dengan pancasila sebagai falsafah serta ideologi bangsa indonesia tercinta ini, itu artinya setiap warga negara republik indonesia terikat dengan nilai-nilai kebersamaan atau kekeluargaan dan menolak segala organisasi yang bersifat individualis yang bisa melahirkan berbagai organisasi seperti liberalisme, kapitalisme, kolonialisme, imperialisme, otoriterianisme dengan hanya mementingkan kelompoknya dan berniat sebagai penghancur untuk kelompok lain. Ideologi yang ada dalam negara indonesia merupakan sebuah perkembangan dari ideologi bangsa, pancasila bukan hanya sebuah ide atau fikiran yang tertuang sementara tetapi pancasila merupakan sebuah nilai yang diangkat dengan derajat tinggi dari banyaknya unsur yaitu adat istiadat atau kebudayaan serta nilai-nilai religius yang tertanam dalam setiap diri manusia.
Dalam pembukaan UUD 1945, pancasila merupakan dasar negara, hal ini menjadikan pancasila sebagai satu bagian yang menyeluruh dengan berbagai sifat yang memuat norma-norma terhadap terselenggaranya negera indonesia dengan baik. Sesuai yang dijelaskan diatas dalam sebuah kutipan menyatakan bahwa pancasila merupakan falsafah negara atau ideologi negara , karena memuat norma-norma yang paling mendasar untuk mengukur dan menentukan keabsahan bentuk-bentuk penyelenggaraan negara serta kebijaksanaan-kebijaksanaan penting yang diambil dalam proses pemerintahan. (Soerdjanto Poespowardojo :1991)
Dengan ideologi yang dimiliki oleh bangsa indonesia bukan berarti sebagai bangsa indonesia terbebas dari berbagai masalah. Indonesia dengan masalah terbesarnya yaitu masalah identitas nasional atau karakter bangsa. Dalam permasalah tersebut muncul berbagai cabang permasalahan, seperti : 1)Disorientasi dan belum dikhayatinya nila-nilai pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa indonesia.2)Bergesernya nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 3)Menurun serta memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, dan ancaman disentegrasi bangsa. 
Berbagai hal-hal tersebut merupakan suatu cabang-cabang permasalahan yang muncul seiring dengan canggihnya transformatika, sehingga menjadi sebuah penghalang bangsa indoneia untuk maju.beberapa hal yang menjadikan sebuah mentalitas negatif bangsa indonesia yaitu dengan hal-hal yang dianggap itu sebuah masalah kecil. Seperti : 1) meremehkan mutu, bisa diatur, jam karet, satu meja satu amplop, urursan diselesaikan dengan damai, 2) tidak adanya sikap percaya diri dan optimistis terhadap segala hal yang ada didepan mata, 3) kurang disiplin, mengabaikan tanggung jawab. (Koentjaraningrat:1974)
Adanya masalah-masalah tersebut itu merupakan sebuah bukti bahwa masyarakat indonesia dengan falsafah dan ideologi pancasila tetapi belum mampu menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh menuju pancasila yang nyata. Penulis disini menjadikan sebuah hal yang sangat fenomenal di Indonesia sendiri sebagai contoh banyaknya pejabat dengan pendidikan yang sangat tinggi tetapi beberapa banyak dari mereka yang tidak begitu sadar tentang makna pancasila dalam kehidupannya. Masih adanya korupsi, individualitas yang tinggi, dan tidak adanya rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diemban. 
Sebuah hal yang juga dianggap tidak asing dalam pandangan setiap manusia yaitu banyaknya manusia yang hidup dinegeri ini tetapi mereka hanya sekedar hidup tanpa mengerti pancasila sebagai ideologi dengan berjuta makna. Banyaknya organisasi sosial dan politik yang ada di Indonesia tidak berlandaskan pada pancasila dengan tujuan untuk menggantikan pancasila dengan sistem pemerintahan yang menurut organisasi tersebut paling benar dan sesuai, seperti organisasi Hizbut Tahrir yang sudah semakin berkembang di Indonesia .
Dari sekian masalah dinegeri ini, pancasila adalah sebuah lambang kemenangan yang tidak terkalahkan dengan tetap berjiwa nasionalisme tinggi, mempersatukan banyaknya organisasi dan tetap konsisten tanpa mau merubah 1 huruf sedikitpun didalamnya. Pancasila sebagai ideologi bangsa dalam mengatasi berbagai masalah pada saat ini melakukan berbagai usaha yang dituju. Seperti: pengembangan politik kenegaraan untuk menjaga keutuhan dan keberlangsungan bangsa, mampu mengembangkan muatan pancasila dalam sistem pendidikan nasional serta pembentukan badan khusu perumusan dan pemberdayaan pancasila. 
Dari ketiga hal tersebut dapat dicapai dengan adanya kerjasama antara pemerintah dengan lembaga yang terkait. Untuk mewujudkan pancasila dengan kelima sila bukan hanya dengan sebuah teks yang terpampang tetapi melalui pengkhayatan serta penerapan makna dalam setiap sila pancasila dalam kehidupan. Dengan berjuta generasi muda yang semakin berkembang untuk digerakkan secara benar sebagai generasi pancasila bukan hanya sebagai pengakuan semata. Banyaknya generasi muda penerus masa depan yang benar-benar berjiwa nasionalisme tinggi, tidak menoleh kebelakang untuk menyerah dan berusaha untuk meminimalisir banyaknya organisasi yang bermunculan
Indonesia dengan falsafah dan ideologi bangsa yaitu pancasila akan sangat mudah membentuk sebuah persatuan bangsa dan mewujudkan cita-cita bangsa sehingga dalam setiap permasalahan yang dihadapi bukan hanya diselesaikan semata tetapi diselesaikan secara tuntas. Penulis berharap pancasila bukan sekedar sebuah gambar dan tulisan semata tapi pancasila adalah jiwa manusia.
#muslimsejati
Sumber : https://www.kompasiana.com/hidayahiir/5954a218727e616e17df8858/pancasila-ideologiku-dan-relevansinya-terhadap-zaman-sekarang

Senin, 05 November 2018

Islam Aswaja Berkembang, Paham Radikal Hilang

Islam Aswaja Berkembang,  Paham Radikal Hilang
Syaifullah, NU Online | Ahad, 04 November 2018 22:15
Sambas, NU Online
Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat masa khidmat 2018-2019 resmi dikukuhkan. Kegiatan berlangsung di Balairung Bupati Sambas, Sabtu (3/11). 

Setidaknya ada 34 pengurus yang dilantik oleh Ketua Bidang Keagamaan Pengurus Besar (PB) PMII Rahmatul Fitrah dan Sekjen, Sabolah Alkalamby.

Ketua Umum PC PMII Sambas, Heriansyah bertekad mencegah gerakan radikal dengan mengoptimalkan kaderisasi. “Walaupun PMII masih tergolong muda, namun kaderisasi di Sambas sangat massif,” ungkapnya. 

Di hadapan sejumlah tokoh yang hadir, dirinya menjamin PMII semakin berkembang. “Seiring dengan kian bergemanya Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang memberikan makna berkurangnya paham radikal,” jelasnya.

Pada saat yang sama, Heriansyah mengapresiasi pengembangan kepengurusan PMII hingga ke luar negeri yakni dengan melakukan pendirian Pengurus Cabang Istimewa atau PCI PMII. 

"Kita sangat mengapresiasi pembentukan PCI PMII Maroko oleh PB PMII, serta kami siap seandainya diajak bekerja sama membentuk PCI PMII Malaysia mengingat jarak tempuh ke negara tetangga sangat dekat," katanya. 

Ketua Pengurus Koordinator Cabang PMII Kalbar, Mua'amar Kadafi berpesan agar PC PMII fokus pada kaderisasi sesuai bidangnya. "Saya berharap PC PMII yang baru dilantik ini fokus pada bidang kerjanya masing-masing.  Fokus kaderisasi juga adalah utama yang harus dilakukan," ucapnya. 

Sekretaris Jenderal PB PMII Sabolah Al Kalamby menekankan pentingnya meredam organisasi radikal di dalam kampus, khususnya mereka yang tidak setuju dengan Pancasila.

"PMII dengan jumlah cabang terbanyak dari OKP lain memiliki peran strategis  dalam menjaga keutuhan bangsa, di antara yang dilakukan adalah mencegah radikalisme,” tegasnya. 

Menurutnya, misi PMII yang tak lain punya kultur sama dengan NU harus turun menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah ke berbagai perguruan tinggi. “Karena tidak mungkin NU selaku orang tua yang turun ke kampus,” ucapnya. 

Majelis Pembina Cabang (Mabincab) PMII Sambas, Serli, mengingatkan PMII menentukan arah pergerakan, mengingat umur kepengurusan yang masih tergolong balita.  “Tapi dalam bergerak, jangan lupakan tri-khidmat PMII," pesannya.

Pelantikan dihadiri Wakil Bupati Sambas Hj Hairiah,  ada Ketua Muslimat NU Sambas, Ketua Mabincab PMII Sambas, pembina IKA PMII,  Sekjend PB PMII Sabolah Al Kalamby, Kabid Keagamaan PB PMII Rahmatul Fitrah.

Dari kepengurusan PKC PMII Kalbar hadir Mu'ammar Kadafi, bendahara umum Uray Ferry Syahbana, Kopri yakni Sri Yulandari serta Kabid Hukum Ali Akbar ARL. 

Pada acara ini juga hadir perwakilan dari BEM IAIS, Poltesa serta HMI, KAMMI dan PMKRI. (Ibnu Nawawi)
#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/98466/antisipasi-gerakan-radikal-ansor-dan-polsek-wuluhan-gelar-pertemuan

Minggu, 04 November 2018

Antisipasi Gerakan Radikal, Ansor dan Polsek Wuluhan Gelar Pertemuan

Antisipasi Gerakan Radikal, Ansor dan Polsek Wuluhan Gelar Pertemuan
Aryudi, NU Online | Sabtu, 03 November 2018 20:00
Jember, NU Online 
Pembelokan opini terkait dengan kasus pembakaran simbol HTI semakin masif. Ini terbukti dengan munculnya gelombang unjuk rasa yang terjadi di Jakarta dan sejumlah daerah yang rata-rata ingin “membersihkan”  nama HTI dalam kasus pembakaran tersebut. 
Dalam rangka mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terkait dengan kasus tersebut, PAC Ansor Kecamatan Wuluhan, Jember, Jawa Timur menggelar pertemuan dengan jajaran Polsek Wuluhan, di kantor Polsek setempat, Jumat (2/11).
Menurut PAC Ansor Kecamatan Wuluhan, Masdian Zainul Ilmi, pertemuan tersebut adalah koordinasi untuk memetakan dan menangkal pergerakan HTI atau orang-orang yang terpapar pengaruh HTI di wilayah Kecamatan Wuluhan.
“Gerakan radikal sekarang seolah menemukan angin baru setelah terjadinya kasus pembakaran di Garut itu.  Kita harus antisipasi. Kita tidak ingin Jember ikut-ikutan, menjadi pemanas suasana,” jelasnya kepada NU Online usai pertemuan.
Sementara itu, Kapolsek Wuluhan, Zaenuri mengajak masyarakat untuk menjaga agar suasana Jember  tetap  kondusif, dan mewaspadai gerakan pihak-pihak yang berusaha membelokkan kesan dalam pembakaran di Garut tersebut. Selain itu, ia juga meminta Ansor untuk selalu berkoordinasi dan bergandengan tangan dengan polisi untuk mewaspadai munculnya gerakan-gerakan radikal yang bertopeng membela agama.
“Kami butuh Ansor dan Banser untuk koordinasi. Mari kasus-kasus yang berpotensi memecah belah umat, kita atasi bersama,” ujanya (Red: Aryudi AR). 

#muslimsejati
Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/98466/antisipasi-gerakan-radikal-ansor-dan-polsek-wuluhan-gelar-pertemuan

Sabtu, 03 November 2018

Inilah Upaya agar Indonesia Tak Hancur seperti Suriah

Inilah Upaya agar Indonesia Tak Hancur seperti Suriah
Ilustrasi (via Yeni Safak)
Fathoni, NU Online | Jumat, 02 November 2018 11:25
Jakarta, NU Online
Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) M. Najih Arromadloni menyatakan, hal yang paling fundamental agar Indonesia tidak jatuh ke dalam kondisi (hancur, luluh lantak, krisis multidimensi) seperti Suriah adalah dengan tidak mempolitisasi agama.

Ia menyatakan demikian saat melihat adanya beberapa kelompok yang gemar menggunakan mimbar masjid untuk hujatan politik. Menurutnya segala usaha ‘melacurkan’ agama untuk kepentingan politik harus ditolak.

Dia tidak menampik, bahasa dan simbol agama memang efektif untuk mengelabui masyarakat, seperti akhir-akhir ini ramai klaim ‘bendera tauhid’ atau ‘bendera Rasul’. Padahal menurut Najih yang juga dosen ilmu hadis ini, tidak ada teks Al-Qur’an maupun hadits yang mendukung klaim tersebut.

“Dengan kata lain klaim tersebut (bendera tauhid, bendera Rasul) adalah propaganda palsu. Karena tauhid adalah untuk diinternalisasi dalam hati dan diejawantahkan dalam perilaku akhlak yang luhur, bukan untuk mainan bendera,” ujar Najih kepada NU Online, Jumat (2/11).

Hal kedua menurut penulis buku Bid’ah Ideologi ISISini, adalah dengan senantiasa menjaga kedamaian dan ketertiban umum, termasuk tidak membuat kegaduhan dengan langganan melakukan aksi massa yang bisa menimbulkan gejolak di masyarakat.

Pengalaman di Suriah, tuturnnya, membuktikan bahwa kondisi instabilitas akan mengundang pihak luar untuk masuk menginfiltrasi, menyusup dan menunggangi.

“Ketika ‘api’ kekacauan sudah membesar, maka akan sulit dipadamkan, sebagaimana Suriah yang delapan tahun hidup dalam kepahitan, tak kuasa lagi mengembalikan kondisi semula,” jelas alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus ini.

Pesan lain yang ia sampaikan ialah agar berpegang teguh pada ulama-ulama yang perilakunya adalah cerminan akhlak Nabi. Ia mencontohkan seperti KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Mustofa Bisri, Buya Syafi’i Maarif, Habib Quraish Shihab, dan seterusnya.

“Mereka adalah pelita-pelita umat yang mampu menuntun perjalanan bangsa ini ke arah yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur,” ucap Najih.

Mengenai fenomena munculnye pemeran agamawan, yang mendadak ustadz, ia menyatakan perlu diuji dulu, apakah perilakunya sesuai dengan tuntunan Nabi atau tidak. Ustadz tukang caci dan mengaku paling benar, tentu bukan panutan. “Cari tahu, dimana dia belajar? Kepada siapa? Belajar apa?” jelasnya.

Terakhir, ia menyampaikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah ‘sajadah’ kita, yang merupakan warisan para ulama. Karena itu, sudah penuh nilai-nilai keislaman.

“Merupakan kewajiban kita untuk menjaga, melestarikan, dan mewujudkan kemakmurannya. Tanpa negara tidak mungkin kita beragama. Karena itu, menjaga negara adalah bagian pokok dari menjaga agama,” tandas Najih. 

Tidak ingin Indonesia yang damai menjelma menjadi negara terpuruk seperti Suriah, Alsyami menggelar seminar kebangsaan bertajuk Jangan Suriahkan Indonesia..! pada Kamis (1/11) malam di Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menghadirkan Syekh Adnan al-Afyouni (Mufti Damaskus, Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), Djoko Harijanto (Dubes RI untuk Suriah), Ziyad Zahruddin (Dubes Suriah untuk Indonesia), Ahmad Fathir Hambali (Ketua Alsyami), Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Damaskus), dan  Ainur Rofiq (mantan petinggi HTI).

Seminar tersebut merupakan bagian dari kampanye dakwah Alsyami menolak segala upaya yang bisa menjadikan Indonesia luluh lantak seperti Suriah. Seminar ini disambut antusias oleh masyarakat Indonesia, baik yang datang langsung ke lokasi seminar, maupun menyimak secara live streaming.Sampai dengan dini hari tadi, tagar #JanganSuriahkanIndonesia menjadi top trending topic di Twitter. (Fathoni)
#muslimsejati
Sumber http://www.nu.or.id/post/read/98410/inilah-upaya-agar-indonesia-tak-hancur-seperti-suriah

Jumat, 02 November 2018

Nashih Nashrullah/Republika
Seminar Internasional
Seminar Internasional
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mufti Agung Damaskus Suriah Syekh Adnan al-Afyouni menyampaikan nasehat menyikapi dinamika yang berkembang saat ini di negara-negara Islam, tak terkecuali Indonesia. Nasehat ini penting agar krisis Suriah tak lagi dialami negara mayoritas Muslim lainnya. 
“Letakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan,” kata dia, dalam Seminar Internasional bertajuk “Jangan Suriahkan Indonesia”, di Jakarta, Kamis (1/11) malam. 
Dia mengatakan, yang terjadi di Suriah memang tak terlepas dari berbagai kepentingan lokal dan internasional. Kepentingan-kepentingan inilah yang memakai isu agama sebagai tameng meloloskan ambisi-ambisi mereka. 
Menurut sosok yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Rekonsilisiasi Nasional Suriah itu, selama ini Suriah adalah negara yang aman dan tenteram. Masyarakat hidup berdampingan tanpa melihat latar belakang agama. “Ekonomi dan pendidikan kita terjamin, para pelajar Indonesia di Suriah menjadi saksi atas hal itu,” tutur dia 
Akan tetapi, kata dia, ambisi politik, perang kepentingan, dan adu domba luar telah berhasil memporak-porandakkan Suriah. Kepentingan dunia internasional begitu kuat di Suriah. Lihaltlah bagaimana Qatar berkeinginan membuat jalur gas di Suriah. Israel yang tak ingin Suriah kuat dan stabil.
Namun, kata dia, ironisnya, agenda-agenda itu tidak dibaca dengan baik oleh sebagian masyarakat Suriah di awal krisis. Kini, tak ada satupun keluarga Suriah yang tak merasakan betapa getirnya dan harga mahal yang mereka harus bayar atas krisis ini.  
“Kita membayar mahal lebih dari apa yang kalian kira,” kata dia. 
Syekh Adnan mengingatkan, hendaknya segenap eleman bangsa saling mengalah. Dia menenekankan sekali api fitnah berkobar, akan merambat dengan cepat ke tempat lain dan kemudian sangat susah memadamkannya.
Saling mengalahlah, kata Syekh Adnan, untuk bangsa dan negara. Ingat bagaimana Rasulullah SAW yang memilih jalan diplomasi melalui Perjanjian Hudaibiyah. Padahal dari segi militer, umat Islam sangat memungkinkan menang saat dihadang kafir Quraisy ketika hendak ke Makkah. 
Syekh Adnan bersyukur, Suriah kini perlahan mulai berbenah dan kondisi jauh lebih baik. Pihaknya membuka lebar pintu rekonsiliasi bagi mereka yang ingin kehidupan bangsa dan negara lebih baik. 
“Tiap warga negara ingin rekonsilisiasi. Kita tanyakan ke oposisi, apakah kekacauan ini yang kalian inginkan? Apakah ini yang diajarkan Rasulullah dan agama? Mereka menjawab tida. Baik mari kita bersama menuju rekonsiliasi. Hari ini kami bersyukur kita berbondong-bondong menuju rekonsiliasi,” tutur dia.
Sebagai informasi, hadir dalam seminar yang diinisiasi Ikatan Alumni Syam (Alsyami) ini, Duta Besar untuk Indonesia Ziyad Zahruddin, Duta Besar Indonesia untuk Suriah Djoko Hariyanto, dan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Suriah Ahsin Mahrus. 

Kamis, 01 November 2018

IKHLAS DALAM BERAMAL

Image result for gambar ikhlas dalam beramal
ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Mayoritas ulama salaf berpendapat bahwa hadits ini sepertiga Islam. Mengapa demikian?

Menurut Imam Baihaqi, karena tindakan seorang hamba itu terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya, dan niat yang tempatnya di hati adalah salah satu dari tiga hal tersebut dan yang paling utama. Menurut Imam Ahmad adalah, karena ilmu itu berdiri di atas tiga kaidah, di mana semua masalah kembali kepadanya, yaitu:

Pertama, hadits “Innamal a’maalu bin niyyah” (Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

Kedua, hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa radd” (Barang siapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak kami perintahkan, maka amal itu tertolak).

Ketiga, hadits “Al Halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).”

Di samping itu, niat adalah tolok ukur suatu amalan; diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat. Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya.

Perkara ikhlas dalam beramal ini sangat penting kedudukannya dalam ajaran Islam.  Sebesar apapun amalan seseorang jika tidak ikhlas maka akan tertolak di sisi Alloh SWT.

Saudaraku
Belakangan kita melihat begitu banyak aksi sekelompok kaum muslimin dengan selogan membela Islam,  menjaga agama Islam dari pelecehan orang – orang kafir.  Dan bahkan banyak yang mengangkat isu menjaga Islam dari rongrongan kaum munafikin.  Membela Islam itu sangat baik dan dianjurkan oleh agama akan tetapi jika dalam pelaksanaannya tidak murni dalam rangka membela Islam maka ini justru akan merusak Citra Islam itu sendiri.  Sebagai sebuah contoh peristiwa terakhir belakangan ini yaitu mengenai pembakaran bendera “Laa ilaha illallaah”, maka marak muncul kelompok islam tertentu melakukan aksi dengan dalih membela kalimat tauhid.

Betulkah membela kalimat tauhid?
Peristiwa ini sebenarnya peristiwa internal umat Islam yang bentuk penyelesaiannya bisa selesai dengan dialog.  Membangun dialog dengan asas kekeluargaan insya Alloh akan selesai.  Dan segala bentuk kesalah pahaman akan berakhir dengan baik.  Tetapi bukan cara itu yang ditempuh,  beberapa kelompok Islam turun ke jalan dan seolah – olah akan berperang menghadapi musuh yang besar.  Jargon – jargon jihad diteriakkan dan ujaran memprovokasi umat terus dikumandangkan.  Bahkan mereka menganggap ini adalah bagian dari jihad. 

Ketika persoalan ini sudah selesai dalam forum diskusi tapi tetap saja isu membela kalimat tauhid digaungkan.  Ada motif apa dibalik ini semua.  Bukan suatu kebetulan peristiwa ini terjadi bersamaan dengan masa kampanye pemilihan presiden.  Dan sangat nampak jelas pada akhirnya gerakan membela tauhid dijadikan alasan untuk menggerakkan masa dalam rangka mendukung PASLON tertentu. Ini maknanya kalimat tauhid yang suci malah dikotori oleh mereka yang katanya sedang membela kalimat tauhid.  Isu ini hanya dijadikan alasan untuk kepentingan politik sesaat.  Saya berharap umat Islam sudah semakin pintar melihat persoalan ini dan tidak terpengaruh oleh mereka – mereka yang mengklaim sebagai pembela kalimat tauhid tapi sebenarnya tidak lebih dari hanya sekedar memuaskan syahwat politik mereka. 

Rasulullah saw memperingati kepada kita betapa bahayanya orang yang merasa berjuang untuk Islam tapi itu hanya sekedar dalil pembenaran sikap meraka padahal niat yang sebenarnya adalah untuk kepentingan dunia mereka.  Mari kita camkan satu hadits Rasulullah saw:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، حَدَّثَنِي يُونُسُ بْنُ يُوسُفَ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: تَفَرَّقَ النَّاسُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فَقَالَ لَهُ نَاتِلُ أَهْلِ الشَّامِ: أَيُّهَا الشَّيْخُ، حَدِّثْنَا حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَعَمْ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:


" إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ، وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ "

"(Imam Muslim berkata) Telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, (Dia - Yahya bin Habib Al-Haritsi telah berkata) Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Al-Haritsi, (Dia - Khalid bin Al-Haritsi berkata) telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij, (Ibnu Juraij berkata) telah mengabarkan kepadaku Yunus bin Yusuf, dari Sulaiman bin Yasaar, Dia (Sulaiman bin Yasaar) berkata, Ketika orang-orang telah meninggalkan Abu Hurairah, maka berkatalah Naatil bin Qais al Hizamy Asy-Syamiy (seorang penduduk palestine beliau adalah seorang tabiin), "Wahai Syaikh, ceritakanlah kepadaku suatu hadits yang Engkau telah dengar dari Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam, Ya (Aku akan ceritakan - Jawab Abu Hurairah), Aku telah mendengar Rasulullah Shollallahu'alaihi wassalam bersabda: "Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : 'Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Ia menjawab : 'Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: 'Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?' Ia menjawab: 'Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.' Allah berkata : 'Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang 'alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari' (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : 'Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?' Dia menjawab : 'Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.' Allah berfirman : 'Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).' Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.(HR. Muslim)

Semoga kita menjadi hamba Alloh yang dirahmati oleh Alloh SWT yang tetap mampu menjaga kemurnian niat kita daan tidak terpengaruh dengan berbagai retorika yang indah dan bersemangat membela Islam akan tetapi sebenarnya justru merusak Islam dan menodai ajaran Islam. 
Wallohu a’lam