Jumat, 14 September 2018

Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Internasional dalam Penanggulangan Terorisme

Jakarta, NU Online 
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan kerja sama di bidang penanggulangan terorisme dengan Lembaga Kontra Terorisme Amerika Serikat. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan Memorandung of Outstanding (MoU) antara Kepala BNPT Suhardi Alius dengan Counterterrorism Coordinator AS Nathan A Sales.

Penandatanganan yang disepakati di Jakarta pada Jumat, (14/9) dilakukan untuk meningkatkan kerjasama antar kedua negara mengingat banyaknya warga AS yang melakukan travel baik ke Indonesia, maupun sebaliknya dari Indonesia ke AS.

“Kami akan terus bertukar informasi dan berkomunikasi agar kedua negara bisa sama-sama mengantisipasi aksi terorisme,” ujar Suhardi Alius. Kerja sama ini selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan keamanan di kedua negara. 

Ia meyakini, negara yang aman akan menigkatkan kondusivitas iklim ekonomi dan menarik perhatian investor dari luar negeri termasuk juga dalam sektor pariwisata.

Kerja sama ini merupakan salah satu dari bentuk kerja sama secara eksternal yang dilakukan BNPT. Secara internal, BNPT melakukan koordinasi dengan puluhan untuk tujuan penanggulangan terorisme. Penaggulangan terorisme, lanjutnya, memerlukan kerja sama dengan banyak pihak, baik dalam negeri maupun kerjasama internasional.

Sementara itu Counterterrorism Coordinator AS Nathan A Sales mengungkapkan, bahwa MoU ini akan sangat bermanfaat bagi kedua negara dalam menanggulangi terorisme, mengingat kedua negara selama ini banyak dijadikan sasaran aksi dan ancaman teror, terutama dari kelompok ISIS.

“Kami akan menjadi partner yang solid dalam melawan terorisme karena Indonesia dan AS sama-sama memiliki pengalaman dalam menangani terorisme,” ungkap Sales. 

Menurutnya, MoU ini akan memberikan bermanfaat dalam mendeteksi setiap upaya berbau terorisme. Dengan saling bertukar informasi, nantinya akan bisa ditelusuri sumber pendanaan terorisme, data orang yang keluar masuk ke dalam negara, dan sebagainya.

Semangat ini senada dengan pendapat Rais Syuriyah PCINU Australia dan Selandia Baru, Nadirsyah Hosen yang menyatakan bahwa terorisme yang bersumber dari dunia global tidak dapat ditanggulangi ‘sendirian’. 

“Ada unsur global dan lokal yang mempengaruhi menghangatnya Islam radikal,” jelas Nadirsyah Hosen di PBNU beberapa waktu lalu.

Radikalisme global cenderung lebih kompleks dan membutuhkan tenaga yang lebih besar untuk menyelesaikannya. Sebab menurutnya, jenis radikalisme ini berhubungan dengan banyak hal yang kompleks.

Ia menyontohkan bagaimana radikalisme global lahir dari ketimpangan dan ketidakadilan dalam skala global, antara negara-negara berkembang dengan negara-negara maju. 

Dalam konteks negara-negara di Timur Tengah, ketidakadilan sosial semacam ini melahirkan narasi seperti ‘Islam dulu jaya, sekarang berantakan’. Narasi tersebut kemudian melahirkan gerakan dalam yang berskala global pula.

“Maka muncullah gerakan yang juga bersifat global seperti gerakan Salafi, Ikhwanul Muslimin, termasuk gerakan Hizbut Tahrir, di mana mereka merasa bahwa ketidakadilan global ini juga harus dilawan dengan gerakan global,” kata Nadirsyah.

Semangat ini kemudian menjelma menjadi gerakan global yang juga mempengaruhi meningkatnya suhu radikalisme di Indonesia.

Radikalisme jenis ini, lanjutnya, tidak dapat dihadapi sendirian tanpa kerja sama yang baik dalam level global. Masalah semacam ini mestinya diselesaikan dengan bekerja sama dengan kelompok dan negara-negara lain.

“(Sebab) Radikalisme global ini seringkali kemudian di luar kapasitas kita sendiri,” kata Gus Nadir. (Ahmad Rozali)
#muslimsejati 

Kamis, 13 September 2018

MELINDUNGI ANAK DARI BIBIT RADIKALISME

Seiring dengan perkembangan jaman, radikalisme tidak lagi menyasar kelompok dewasa. Namun radikalisme juga menyasar kalangan anak-anak. Dari pelaku kasus terorisme yang ditangkap telah menunjukkan bahwa usia mereka sudah semakin muda. Bahkan, dari 9 pelaku yang ditangkap di Poso beberapa saat lalu, dua diantaranya masih dibawah umur.
Menurut catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), jumlah peningkatan pelanggaran terhadap anak pada 2016 lalu mencapai 4.482 kasus. Dari jumlah tersebut, radikalisme menjadi salah satunya. Kemudian anak yang terpapar radikalisme juga meningkat 42 persen, dari 180 kasus menjadi 256 kasus.
Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari propaganda kelompok radikal melalui media massa. Berbagai aksi kekerasan yang diunggah di media sosial, tidak jarang melibatkan anak-anak. Bahkan, di Suriah, sempat beredar ana-anak yang diduga berasal dari Indonesia, sedang dilatih perang oleh militan ISIS. Fakta ini tentu sangat mengejutkan. Disisi lain, kelompok radikal juga telah menyasar lembaga pendidikan untuk menyebarluaskan radikalisme. Di Depok, Jawa Barat, sempat ditemukan buku bacaan untuk pendidikan anak usia dini (PAUD) yang berisi tentang jihad dengan cara bom bunuh diri.
Disisi lain, bibit radikalisme secara tidak langsung juga telah dipertontonkan oleh televisi melalui sinetron setiap hari. Salah satunya adalah ujaran kebencian. Ujaran kebencian ini kemudian berkembang melalui sekolah dan keseharian. Dampaknya apa? Mereka mulai tidak senang berteman dengan pemimpin yang berbeda agama. Mereka juga ikut terpapar paham radikalisme di media sosial. Bahkan, kasus dugaan penodaan agama yang muncul dalam pilkada DKI Jakarta, juga membekas dalam benaknya.
Mari kita jaga anak-anak kita, dari propaganda radikalisme. Jangan dianggap remeh ujaran kebencian yang saat ini terus berkembang. Jika orang tua membiarkan, anak memang tidak lantas menjadi radikal. Namun, mereka mempunyai bibit radikal dan bisa berkembang menjadi tindakan radikal, bahkan ketika remaja bisa berpotensi menjadi teroris.
Kepala BNPT Jenderal Komjen Suhardi Alius dalam sebuah media online mengatakan, pemahaman radikal bisa diterima mulai dari kelas 5 SD keatas. Di usia yang relative muda tersebut, mereka bisa membuat sesuatu yang membahayakan. Bahkan, ketika usia SMA, anak yang sudah terpapar radikalisme sudah bisa membuat senjata rakitan karena pendidikannya terus berkembang.


Tentu kita tidak ingin generasi penerus bangsa, menjadi generasi radikal yang bisa berpotensi menjadi teroris. Jika kita tidak ingin hal itu terjadi, mari mulai saat ini terus aktif memberikan perlindungan kepada anak-anak kita. Berikanlah perhatian yang cukup, agar anak bisa mendapatkan kasih sayang. Tanamkan nilai-nilai agama yang tepat, agar anak bisa mengikuti apa yang diajarkan oleh Nabi Muhamammad SAW. Dan jangan lupa untuk mengajarkan nilai-nilai luhur budaya Indonesia, agar anak kita bisa menjadi generasi yang toleran, mau menghargai perbedaan dalam keberagaman.

#muslimsejati #kontranarasi 

Rabu, 12 September 2018

TAMPARAN KERAS GUS MUWAFIQ UNTUK POLITISI YANG GUNAKAN SHALAT SUBUH DAN JUM’AT UNTUK SYAHWAT POLITIK



Tamparan Keras Gus Muwafiq untuk Politisi yang Gunakan Shalat Subuh dan Jum’at untuk Syahwat Politik
Mereka gemar mempolitisasi masjid dan gunakan masjid hanya untuk menebar kebencian kepada pemimpin dan umat beragama lainnya.
Gus Muwafiq mengatakan bahwa hanya orang-orang bodoh yang ingin menabrakkan (membenturkan) agama dengan negara.
“Sholat Subuh jadi alasan untuk nabrak negara, sholat Jumat jadi alasan untuk nabrak negara, “ ujar Gus Muafiq
Dia juga menanyakan apakah mereka sudah kehabisan akal, sehingga mereka tidak punya cari lain selain gunakan masjid untuk memuluskan syahwat politik mereka.
“Kalian bisa berdemonstrasi, kalian bisa tunjukkan kekuatan, ribuan bahkan jutaan spanduk bisa kau bentangkan,” tegas Gus Muwafiq.
Gus Muwafiq bahkan meminta mereka untuk belajar dari Timur Tengah dan Negara-negara yang lain yang terkena imbas dari politisasi agama.
“Jika kalian tidak mau belajar, menyingkirlah dari Indonesia,’’ ujar Gus Muwafiq
#muslimsejati #kontranarasi

Selasa, 11 September 2018

PENJELASAN GUS NADIR TENTANG MENGUATNYA RADIKALISME AGAMA DI INDONESIA



Rozali, NU Online | Selasa, 11 September 2018 09:25
Jakarta, NU Online
Dalam diskusi ‘Forum Tashwirul Afkar’ yang bertajuk ‘Islam Agama Kemanusiaan’, di PBNU, Dosen Senior Monash University Melbourne Australia, Nadirsyah Hosen menjelaskan dua unsur yang memperngaruhi maraknya radikalisme di Indonesia.

“Ada unsur global dan lokal yang mempengaruhi menghangatnya Islam radikal,” jelas 

Berbeda dengan radikalisme global, radikalisme lokal relatif dapat lebih mudah ditangani. Sementara radikalisme global cenderung lebih kompleks dan membutuhkan tenaga yang lebih besar untuk menyelesaikannya. Sebab jenis radikalisme ini berhubungan dengan banyak hal.

Ia menyontohkan bagaimana radikalisme global lahir ketimpangan dan ketidakadilan dalam skala global, antara negara-negara berkembang dengan negara-negara maju. 

Dalam konteks negara-negara di Timur Tengah, ketidakadilan sosial semacam ini melahirkan narasi seperti ‘Islam dulu jaya, sekarang berantakan’. Narasi tersebut kemudian melahirkan gerakan dalam yang berskala global pula.

“Maka muncullah gerakan yang juga bersifat global seperti gerakan Salafi, Ikhwanul Muslimin, termasuk gerakan Hizbut Tahrir, di mana mereka merasa bahwa ketidakadilan global ini juga harus dilawan dengan gerakan global,” kata Nadirsyah.

Semangat ini kemudian menjelma menjadi gerakan global yang juga mempengaruhi meningkatnya suhu radikalisme di Indonesia.

Radikalisme jenis ini, lanjutnya, tidak dapat dihadapi sendirian tanpa kerja sama yang baik dalam level global. Masalah semacam ini mestinya diselesaikan dengan bekerja sama dengan kelompok dan negara-negara lain.

“(Sebab) Radikalisme global ini seringkali kemudian di luar kapasitas kita sendiri,” kata Gus Nadir.(Ahmad Rozali)

Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/95520/penjelasan-gus-nadir-tentang-menguatnya-radikalisme-agama-di-indonesia-
#muslimsejati

Senin, 10 September 2018

Menangkal Radikalisme di Media Sosial

AKURAT.CO, Sejumlah penelitian menunjukkan, terjadi perkembangan menghawatirkan dalam desseminasi paham radikal, termasuk aksi-aksi kekerasan berjubah agama. Di tahun 2017 misalnya, Wahid Institute melakukan survei terhadap 1.520 responden dengan metode multi stage random sampling. Berdasarkan survei tersebut, sebanyak 0,4 persen penduduk Indonesia pernah bertindak radikal. Sedangkan 7,7 persen mau bertindak radikal kalau memungkinkan. Kalau dari populasi berarti 600 ribu pernah bertindak radikal dan 11 juta orang mau bertindak radikal. Sama seperti penduduk Jakarta dan Bali.  Menurut Direktur Wahid Institut Yenny Wahid, kesenjangan ekonomi dan ceramah sarat kebencian menjadi penyebab berkembangnya radikalisme di Indonesia.
Sedangkan BNPTmencatat, sepanjang 2000 sampai 2017 sebanyak 16 anak dan remaja terlibat terorisme. Dari total 1.800-an pelaku terorisme di berbagai daerah.  Penelitian Ma'arif Institut pernah menyebutkan guru, Kepala Sekolah dan alumni berpotensi menebarkan bibit radikalisme. Mereka berpotensi menjadi aktor atau ideolog yang membuat doktrin kepada para pelajar. Terakhir, remaja yang menjadi pelaku aksi bom bunuh diri di kampung Melayu. Dalam kesempatan itu, juga diputar video testimoni pelaku bom hotel 2009, Nana Maulana. Tampak Nana telah dipengaruhi doktrin sehingga secara sadar melakukan aksi bom bunuh diri. Padahal Nana baru lulus SMA.
Kemudian yang menggegerkan, BNPT merilis adanya sebanyak tujuah Perguruan Tinggi (PTN) terpapar radikalisme. Ketujuh PTN tersebut adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), hingga Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikal. Bahkan cendekiawan muslim Azyumardi Azra punya cerita serupa.  Rilis ini disampaikan ke publik oleh  Direktur Pencegahan BNPT, Hamli pada Jumat (25/5/2018).
Belum bisa tidur nyenyak dengan temuan BNPT yang cukup mengagetkan sejumlah kalangan, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)  dan Rumah Kebangsaan pada 8 Juli 2018 merilis hasil penelitian yang tidak kalah mengejutkan. Yakni: sebanyak 41 masjid di kantor pemerintahan, lembaga negara, dan kantor BUMN di Jakarta terindikasi terpapar radikalisme. Penelitian ini dilakukan selama satu bulan sejak 29 September hingga 21 Oktober 2017  dengan meneliti khutbah Salat Jumat serta bahan-bahan bacaan yang ada di masjid tersebut. Setiap masjid didatangi oleh satu orang relawan untuk merekam video dan audio khutbah dan mengambil gambar brosur, buletin dan bahan bacaan lain yang ada di masjid.
Pisau Bermata Dua
Isu seputar radikalisme dan terorisme menjadi rumit dan sangat mungkin mengakibatkan berbagai upaya pencegahan paham radikal juga menjadi tidak efektif dan sebaliknya bergerak liar karena dikontribusi oleh media, khususnya melalui media sosial. Indonesia dewasa ini memang sudah menjadi ladang subur media sosial.  Bahkan kini sudah menjadi life styledimana banyak manusia menjadi tergantung ‘benda ajaib’ tersebut. Laporan Tetra Pak Index 2017 yang belum lama diluncurkan, mencatatkan ada sekitar 132 juta pengguna internet di Indonesia.
Dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh We Are Social dan Hootsuite, terungkap bahwa masyarakat Indonesia sangat gemar mengunjungi media sosial. Tercatat, setidaknya kini ada sekira 130 juta masyarakat Indonesia yang aktif di berbagai media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter dan lainnya. Dalam laporan ini juga terungkap jika pada Januari 2018, total masyarakat Indonesia sejumlah 265,4 juta penduduk. Penetrasi penggunaan internet mencapai 132,7 juta pengguna. Jika membandingkan antara jumlah pengguna internet dengan pengguna media sosial, ini berarti sekitar 97,9 pengguna internet di Indonesia sudah menggunakan media sosial.
Problemnya, media sosial di Indonesia selain mempunyai sisi positif, juga negatif.  Ibarat pisau bermata dua.  Sisi positif atau manfaatnya antara lain cepat dan murah dalam memperoleh pengetahuan, informasi, berita dan lain sebagainya.Negatifnya dapat dengan mudah pula disalahgunakan untuk melakukan tindakan kriminal, perselingkuhan, penyebaran informasi menyesatkan, dan lain sebagainya. Dalam kontek penyebaran paham radikal yang destruktif, media sosial ditengarai memberikan kontribusi yang sangat signifikan. Sejumlah temuan penelitian menunjukkan, kelompok terpapar doktrin radikalisme destruktif karena mengakses informasi, bulletin, buku dan sejenisnya dari media sosial yang ditulis oleh orang yang tidak mempunyai kompetensi memadai tentang agama. Bahkan diantaranya cenderung menyesatkan.
Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia (UI) pernah melakukan penelitian tentang pengembangan paham radikal melalui media sosial. Hasilnya, menemukan media sosial mempercepat radikalisasi karena seseorang dapat terpapar pesan radikal dalam frekuensi tinggi. Sebanyak 85% narapidana terorisme mengaku melakukan aksi teror hanya dalam rentang kurang dari satu tahun setelah terpapar radikalisme melalui media sosial. Sebuah akselerasi yang signifikan jika dibandingkan dengan sebelum populernya media sosial. Pasalnya, terpidana terorisme 2002-2012 rata-rata mulai radikal dalam kurun lima sampai 10 tahun sejak pertama terpapar hingga melakukan aksi terorisme. Itu artinya keberadaan media sosial jelas memudahkan kelompok teroris dan radikal melakukan propaganda dalam menunjukkan eksistensi, bahkan melakukan rekrutmen anggota baru.
Hasil penelitian John Obert Voll tentang jaringan teroris bukan lagi mata rantai terpenting dalam kaiatan dengan mentransformasikan politik komunitas muslim di seluruh  dunia, melainkan jaringan intelektual dan pertukaran ideologi melalui media internet (email).  Pilihan media sosial sebagai media propaganda bukan sekadar alas an praktis dan mudah tetapi mereka sadar bahwa secara demografis para penghuni media sosial adalah kelompok remaja. Sedangkan di kalangan kaum terdidik, hadirnya propaganda melalui media sosial menandai suatu pola baru radikalisasi di kalangan terdidik dan kelas menengah yang tidak semata terimingi oleh sejumlah uang. Selain itu, media on line atau dalam jaringan (daring) dan media sosial merupakan ruang publik baru yang terbuka dan bebas.
Dalam pandangan pengamat Terorisme Universitas Indonesia Solahudin, media sosial dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teroris di Indonesia untuk proses radikalisasi. Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap narapidana terorisme, sebanyak 85 persen. Di antaranya, melakukan aksi teror hanya dalam rentang kurang dari satu tahun, sejak pertama kali terpapar paham ISIS. Kemudian dia mencoba membandingkan dengan terpidana terorisme sejak 2002 hingga 2012. Ternyata, para napiter ketika itu rata-rata memerlukan waktu 5 hingga 10 tahun, sejak pertama kali terpapar sampai dengan terlibat dalam aksi terorisme dan menemukan hampir semua terpidana kasus teroris itu memiliki akun sosial media. Kesimpulannya, semua pelaku aksi terorisme memang memiliki keterkaitan dengan sosial media. Salah satu contoh peran media sosial mendorong percepatan peradikalisasian, terpidana terpidana teroris bernama Anggi.
Gabriel Weimann (2014),  sebagaimana dikutip Agus Surya Bakti, Deputi Bidang Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT menduga, salah satu alasan kelompok teroris menyukai media sosial sebagai media propaganda karena secara demografis banyak dihuni kalangan muda yang menjadi target dan sasaran potensial radikalisasi dan rekrutmen. Contohnya,  dua remaja asal Inggris, Yusuf Sarwar dan Mohammed Ahmed, yang ke Suriah beberapa bulan sebelum berangkat tercatat memesan dua buku di Amazon. Dua buku itu tentang pengantar Islam, Islam for Dummies dan the Koran for Dummies. Artinya, kebanyakan remaja yang direkrut paham keagamaannya rendah. Mereka mencari pengetahuan keagaman dari media online. Saat itulah, mereka bertemu pemahaman keagamaan yang radikal. Di sinilah bisa dilihat efektivitas media sosial karena lebih komunikatif, interaktif, dan langsung menyasar ke sasaran. Dari proses itulah radikalisasi berjalan di dunia maya.
Kampus, Kemkominfo dan Kepolisian
Infiltrasi dan desseminasi paham radikal destruktif melalui media sosial tampaknya tengah ngetrenddan di masa depan.  Hal ini disebabkan karena kemudahan, kecepatan dan kemurahan yang harus dikelurkan namun di sisi hasilnya jauh lebih efektif. Hal tersebut berjalin berkelindan dengan berbagai faktor lainnya yang sudah lama diketahui publik. Seperti  faktor yang sifatnya ideologis, agama, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dan sebagainya, turut menjadi pemicunya. Bahkan konspirasi global, juga bukan tidak mungkin turut andil dalam memperkeruh suasana.
Kalangan remaja dan pemuda merupakan segmen penduduk yang paling banyak disasar oleh penebar doktrin radikalis destruktif. Hal ini mudah dipahami karena kelompok inilah yang sudah melek teknologi namun secara ekonomi dan emosional terkadang masih banyak yang labil. Selain darurat narkoba, korupsi dan judi, tampaknya tidak salah manakala dikatakan bahwa Indonesia mengalami problem serius terkait infiltasi dan dessimasi radikalisme destruktif dan terorisme, khususnya melalui media sosial.  Sekalipun belum sampai pada derajat darurat, namun urutan problemnya sudah mulai mengarah kesana.
Untuk menangkalnya, diperlukan partisipasi berbagai elemen dan komponen bangsa.  Namun jelas hal tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial dan individual, melainkan harus dilakukan secara sinerjis dan kerjasama semua pihak.  Menghadapi serbuan dunia maya yang dapat membahayakan NKRI, pemerintah tidak tinggal diam. Berdasarkan data dariKementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), kementerian ini  sudah memblokir 22 situs/website karena dianggap terkait penyebaran paham radikal. Pemblokiran ini dilakukan atas permintaan BNPT.
Namun kemudian BNPT meminta Kemkominfo untuk memblokir 19 situs lagi berdasarkan surat No 149/K.BNPT/3/2015 tentang Situs/Website Radikal ke dalam sistem filtering Kemkominfo. Total ada 22 situs yang diblokir. Terkait pemblokiran 19 situs tambahan tersebut, Kemkominfo telah mengirimkan surat edaran kepada para penyelenggara ISP dan meminta mereka untuk memasukkan daftar situs tersebut ke dalam sistem filtering para ISP. Dalam surat edaran yang disebarkan ke para ISP, tidak dijelaskan alasan situs-situs ini diblokir karena dianggap penggerak paham radikalisme dan/atau sebagai simpatisan radikalisme," tulis Kemkominfo mengenai alasannya. 
Kini dan ke depan, diperlukan suatu kerjasama yang lebih baik antara berbagai elemen dan komponen bangsa dengan melibatkan terutama Kemkominfo dengan kepolisian karena kedua instansi inilah yang memiiki kewenangan, sarana dan prasarana, serta sumber daya yang memadai. Bahkan diharapkan, kalangan universitas diharapkan dapat dilibatkan dalam untuk melakukan patroli siber (cyber patrole) untuk memerangi kejahatan di dunia maya, khususnya terkait dengan kejahatan desseminasi doktrin radikal destruktif oleh pihak kepolisan maupun Kemkominfo.
Selain itu, kalangan Perguruan Tinggi atau kampus dituntut untuk memberi kontribusi penting dalam riset, sosialiasi dan pencegahan bagi berkembangnya pemikiran, paham dan doktrin radikalisme destruktif. Meminjam pandangan Ketua Umum PB NU Said Aqil Siraj, di era digital ini, semua pihak khususnya kalangan universitas harus berada di garda terdepan berperan melawan agen, distributor, pelaku dan simpatisan doktrin radikal di dunia media maya atau media sosial dengan cara menjadi jihadist literasi. Jihad literasi khususnya di media sosial tidak mudah dan tidak bisa semua orang mampu dan mau melakukannya. Tapi disitulah tantangannya yang harus dijawab secara nyata dan dicarikan solusinya.[]

Sumber https://m.akurat.co/id-312850-read-menangkal-radikalisme-di-media-sosial
#muslimsejati


Minggu, 09 September 2018

Kisah Umat Hindu Mengurus Masjid Puluhan Tahun di India


Muzaffarnagar, NU Online
Di tengah sejumlah cerita ketegangan antara komunitas Hindu dan Muslim di India, ada kisah harmoni di desa Nanhera, kota Muzaffarnagar, Uttar Pradesh, India. Sebuah masjid tua di kampung tersebut hingga kini terurus cukup baik di tengah-tengah komunitas Hindu.

Seorang pemeluk Hindu, Ramveer Kashyap, rela merawat masjid berusia 120-an tahun itu selama puluhan tahun. Ia menjaga, membersihkan, menyalakan lilin di kala petang, juga memperbaiki bangunan bila ada bagian yang rusak. Keahlianya sebagai tukang batu bermanfaat ketika masjid butuh sedikit renovasi.

Pria 59 tahun ini mengaku ikhlas melaksanakan semua ini sebagai tugas agama. "Iman saya mengajarkan saya untuk menaruh hormat terhadap semua tempat ibadah," kata Ramveer, seperti dilaporkan India Times, Sabtu (8/9).

Uniknya, di kampung tersebut sekarang tidak ada satu pun penduduk yang beragama Islam. Nanhera merupakan desa yang didominasi Jat, komunitas tradisional setempat yang beragama Hindu dan banyak bergerak di bidang pertanian.

Menurut Ramveer, umat Islam di Nanhera cukup banyak semasa penjajahan Inggris. Namun mereka secara bertahap pindah setelah India merdeka. Kini, sesekali masjid dijadikan tempat shalat oleh para palancong atau Muslim yang kebetulan melintas.

Ramveer tinggal sekitar 100 meter dari masjid yang ia urus. Sejak kecil ia tumbuh dan bermain di sekitar masjid itu. "Bagi saya ini adalah tempat ibadah yang pantas dihormati. Karena tak ada yang mengurusnya, saya sebagai pemuda mengambil tanggung jawab ini. Selama 25 tahun terakhir, saya menyapu dan menjamin perawatan dasar," paparnya.
Masjid desa Nanhera, kota Muzaffarnagar. (Foto: India Times)

Atas dedikasinya ini, Ramveer mendapat simpati banyak pihak. Kepala desa setempat, Dara Singh mengatakan, peristiwa perpindahan keluarga Muslim terakhir dari Nanhera sudah berlangsung hampir 50 tahun. Namun, tempat ibadah mereka masih tersisa dan terpelihara sebagaimana mestinya.

Menurut Dara Singh, terawatnya masjid saat ini tak lepas dari kontribusi Ramveer, yang tak hanya berkorban waktu dan tenaga, tapi kadang juga uang, misalnya untuk membeli cat. "Kadang anggota keluarga Ramveer juga turut membantu membersihkan masjid," tutupnya.

Masjid Nanhera pernah hendak diruntuhkan dalam sebuah ketegangan komunal pada tahun 2013. Ramveer saat itu berani pasang badan dan memberi pembelaan penuh atas tempat ibadah yang ia hormati tersebut. (Red: Mahbib)
#muslimsejati 

Sabtu, 08 September 2018

Keluarga Garda Terdepan Lindungi Anak dari Radikalisme



JAKARTA - Belum lama ini ditemukan kasus kirab anak-anak di Jawa Timur dengan simbolisasi perjuangan agama melalui kekerasan.

Hal itu menyadarkan masyarakat bahwa pemahaman tentang radikalisme perlu diberikan secara sistematis sejak usia dini. Bahkan kasus lain juga ditemukan unsur narasi kekerasan dalam pelajaran sekolah anak usia dini.



Hal itu dinilai sudah sangat berbahaya apabila penanaman radikalisme seperti intoleransi, penamanam militansi kebencian terhadap orang lain dan sikap acuh atau apatis terhadap kebangsaan sudah ditanamkan sejak dini. Padahal anak-anak adalah investasi bangsa Indonesia di masa depan.

Keluarga melalui orang tua sangat berperan penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini agar ideologi-ideologi radikal yang berkonotasi negatif seperti intolerasi, anti-Pancasila dan anti-NKRI tidak menyebar ke kalangan anak-anak apalagi melalui menyebar melalui sekolah.

“Anak-anak usia playgroup, TK, SD seperti itu memang masih punya keterbatasan pola pikir, sehingga mereka biasanya apa yang dia lihat, maka itu yang dia tiru tanpa melalui saringan yang lebih kritis seperti halnya orang dewasa. Untuk itu anak sangat butuh pendampingan orang tua dari apa yang mereka dengar dan  lihat,” ujar psikolog anak dan keluarga, Putri Langka, di Jakarta, Kamis 6 September 2018.

Menurut Putri, tontonan di media sekarang ini kadang juga tidak bersahabat sehingga semua berita yang ditayangkan seperti adanya ujaran kebencian dan sebagainya seakan-akan mudah ditiru oleh anak-anak.



“Itulah fungsi orang tua untuk mendampingi anaknya supaya anak tersebut bisa memilah-milah mana yang boleh dilakukan anak dan tidak boleh dilakukan. Bahasa yang disampaikan ke anak pun juga yang  sederhana agar mudah diterima oleh anak tersebut,” tuturnya.

Menurut dia, kasus bom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu dalam satu keluarga yang juga melibatkan anak di bawah umur tentunya menjadi sesuatu yang sangat miris.

Dia mengatakan, orang tua harus mengajarkan kepada anaknya untuk masuk surga, namun bukan dengan ajaran agama yang salah untuk melakukan jihad yang berujung melakukan aksi bom bunuh diri tersebut.

“Untuk mencegah radikalisme pada anak tentunya cegah dulu orang tuanya. Orang tua seperti ini justru perlu mendapatkan wawasan kebangsaan lebih dulu, yang perlu diajarkan mengenai toleransi dan mendapatkan pemahaman agama yang penuh. Karena dengan begitu mereka bisa mengarjakan hal tersebut kepada anaknya,” tuturnya.


Dia menambahkan, peran guru di sekolah juga menjadi hal terpenting karena lingkungan anak setelah rumah adalah sekolah. Guru-guru di sekolah harus punya wawasan kebangsaan dan memiliki  toleransi tinggi, karena hal tersebut akan dicontoh juga oleh anak-anak.

“Untuk menjadi guru juga harus sangat hati-hati, karena  apa yang ditampilkan dan diucapkan itu pasti akan ditiru oleh murid-muridnya,” ujarnya.  
Sumber : https://nasional.sindonews.com/read/1336470/15/keluarga-garda-terdepan-lindungi-anak-dari-radikalisme-1536310615
#muslimsejati