Jumat, 07 September 2018

ORIENTASI KEASWAJAAN, BENTENGI MAHASISWA UNWAHAS DARI PAHAM RADIKALISME



Semarang, NU Online
Dalam rangka membentengi mahasiswa baru dari paham radikalisme, Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang menggelar Orientasi Keaswajaan Bagi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018/2019 yang berlangsung di kampus setempat, Selasa-Ahad (4-9/9). 

Orientasi Keaswajaan yang bertajuk Meneguhkan Peran Unwahas dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara Berlandaskan Paham Aswaja An- Nahdliyah ini sudah dilaksanakan untuk kedua kali diikuti seluruh mahasiswa baru berjumlah 2061 dan dibagi menjadi 6 kelas. 

Adapun materi yang disampaikan di antaranya pengertian dan sejarah aswaja, prinsip-prinsip aswaja NU, NU NKRI dan tantangan kontemporer, tradisi amaliyah NU dan dalilnya, serta Aswaja dalam berbagai bidang keilmuan. Sedangkan pembicara dari Rektor, Wakil Rektor 1, 2, 3 dan para dosen Unwahas. 

Wakil Rektor 3, H Andi Purwono mengatakan Orientasi Keaswajaan dilatarbelakangi semakin berkembangnya berbagai macam aliran atau kelompok radikal. “Juga sebagai wahana untuk memperkenalkan seperti apa aswaja NU yang menjadi dasar ideologi Unwahas,” kata Andi. 

kepada NU Online Andi menjelaskan, selain bertujuan untuk memperkenalkan paham aswaja kepada mahasiswa baru juga memberikan pemahaman tentang aswaja sehingga mahasiswa terbentengi dari gerakan paham lain terlebih paham radikalisme. 

Andi Purwono saat mengisi materi Prinsip-prinsip Aswaja NU kepada mahasiswa baru mengemukakan bahwa perbedaan merupakan sunatullah. Perbedaan lanjut dia bukan menjadi sumbu untuk menyulut perselisihan apalagi pertengkaran karena itu pasti kerugian yang didapat. 

“Untuk itu dibutuhkan cara atau sikap agar dapat menerima berbagai bentuk perbedaan sehingga kedamaian dapat tercipta,” tandas Andi. 

Dijelaskan, salah satu prinsip yang dipegang teguh NU yakni tawasuth, toleran, atau moderat. Dia berharap dengan orientasi tersebut mahasiswa Unwahas menjadi tahu dan paham apa itu aswaja, NU ataupun prinsip serta kiprah NU di Indonesia bahkan di dunia.

Irvan, mahasiswa baru dari Fakultas Pertanian menyatakan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat,  karena memberikan gambaran seperti apa kampus Unwahas. 

“Kampus Unwahas merupakan kampus yang didirikan oleh Ulama dan kiai NU sehingga nilai-nilai amaliyah NU menjadi napas dan terkristalisasi pada semua mahasiswa Unwahas,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Muiz).

Sumber :http://www.nu.or.id/post/read/95365/orientasi-keaswajaan-bentengi-mahasiswa-unwahas-dari-paham-radikalisme-
#muslimsejati

Kamis, 06 September 2018

KIAI SAID : NASIONALISME BAGIAN DARI IMAN


Probolinggo, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, Islam dan nasionalisme harus saling memperkuat dan tidak boleh dipertentangkan. Nasionalisme yang merupakan bagian dari keimanan Islam orang Indonesia, khususnya masyarakat NU, telah ada sejak zaman pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari.
“Nasionalisme bagian dari iman. Oleh karena itu saya berpesan agar warga muslim di negeri ini mencintai tanah air ” katanya.
Hal tersebut disampaikan saat dirinya memberi kuliah umum dengan tema Ngaji Bareng Ke-NU-an dan Kebangsaan di kampus Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong Kraksaan, Rabu (5/9).
Kiai Said Aqil Siroj mengingatkan, jangan menggunakan agama untuk tujuan politik. “Mari kita gunakan politik untuk memperkuat agama. Memperkuat agama bukan harus menghantam yang lain,” terangnya.
Pada masa kini, lanjutnya, amanah menjaga ukhuwah wathaniyah dituntut semakin nyata. Di tengah gejolak sentimen kesukuan, keagamaan, golongan dan ras, spirit wathaniyah menjadi hal mendasar, yaitu menyelamatkan dan merawat keutuhan NKRI.
“Perkembangan informasi semakin masif lewat berbagai saluran pesan, terutama media sosial yang tanpa filter, mendorong potensi konflik berujung perpecahan. Apalagi pada masa mendekati pemilihan umum, banyak pihak khawatir persoalan SARA makin besar,” tegasnya.
Kiai Said Aqil Siroj menerangkan kehidupan demokrasi bukan berarti kebebasan tanpa ujung, namun suara rakyat menjadi pilar utama. Bukan demokrasi liberal yang diagungkan, tetapi demokrasi Pancasila.
“Islam Nusantara bukan aliran, bukan agama baru, tapi khashaish, mumayyizaat, tipologi. Ini yang harus dipahami secara mendalam,” jelas Kiai Said.
Kuliah umum juga dihadiri jajaran Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan (Zaha) Genggong diantaranya, KHM Hasan Mutawakkil Alallah, KHM Hasan Abdil Bar, KHM Hasan Saiful Islam, Kiai Arif Umar, KHM Hasan Naufal dan Gus Haris Damanhuri.
Selain itu hadir pula Rektor Inzah Genggong Abdul Aziz Wahab, Kapolres Probolinggo Fadly Samad, Ketua PCNU Kota Probolinggo H Samsur, Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i serta segenap pengurus lembaga dan badan otonom (banom) NU.
Selain mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong, hadir pula mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Zainul Hasan dan STIKES Hafsawaty Zainul Hasan bersama dosen dan civitas akademika 3 perguruan tinggi di bawah naungan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. (Syamsul Akbar/Muiz)
#muslimsejati #mediamuslim #kontranarasi
sumber : http://www.nu.or.id/post/read/95321/kiai-said-nasionalisme-bagian-dari-iman

Selasa, 04 September 2018

DA'WAH BIL HIKMAH


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs.  An nahl ayat 125)
Fenomena munculnya da’wah islam yang marak baik di media massa cetak maupun elektronika dan juga di sosial media patut di syukuri oleh kaum muslimin.  Dan juga munculnya para da’i yang sangat bersemangat dalam menyampaikan ajaran islam juga sesuatu yang menggembirakan umat islam.  Namun di tengah – tengah maraknya da’wah ini ada yang memprihatinkan kita dimana menyampaian materi da’wah yang kadang tidak bijak.  Dan lebih ironis lagi ada sebagian da’i berubah fungsi,  dia tidak lagi menjadi da’i yang menyampaikan ajaran islam akan tetapi dia menjadi hakim yang memvonis objek da’wahnya.
Saudaraku….
Bilhikmah,  itulah prinsip yang harus dilaksanakan dalam mengemban da’wah.  Bilhikmah dalam makna bijaksana,  da’wah diamalkan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw.  Dimana beliau Rasulullah saw dalam melakukan da’wah menggunakan bahasa – bahasa yang tegas,  hujjah – hujjah yang kuat,  menyentuh hati.  Walaupun tegas,  bahasa yang beliau gunakan bukanlah bahasa yang kasar yang menyinggung objek da’wah (mad’u).  Da’wah yang Rasulullah saw jalankan adalah mengajak manusia menuju islam bukannya mengejek manusia.  Sasarannya da’wah adalah hati,  jika hati seseorang telah tersentuh maka akan menjadi media menghantarkan seseorang menuju hidayah Alloh SWT.  Hindari kata – kata kasar yang menyakitkan hati,  jangan mengejek tapi mengajak,  tegakkan hujjah bukan menghujat itulah da’wah bilhikmah.
Saudaraku…
Prinsip bijaksana yang terkandung dalam da’wah juga termasuk menggunakan bahasa da’wah yang bisa dipahami dengan jelas oleh objek da’wah.  Meskipun seorang da’i mengerti berbagai bahasa namun ketika berda’wah ia bukan sedang mendemonstrasikan ilmunya,  akan tetapi ia sedang menyampaikan pesan – pesan Ilahi kepada manusia.  Amat bijak jika dalam penyampaian pesan – pesan itu,  dia menggunakan bahasa yang dimengerti oleh orang yang sedang di da’wahi,  sebagaimana Firman Alloh SWT:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Qs Ibrahim ayat 4)
Saudaraku…
Hal yang juga tidak boleh dilakukan dalam da’wah adalah memaki orang kafir yang bisa menyebabkan mereka kembali memaki Alloh SWT,  sebijaksana mungkin hal ini harus diperhatikan sebaik – baiknya.  Jangan sampai akibat makian para da’i menjadi penyebab orang – orang kafir itu memaki Alloh SWT,  sebagaimana Firman Alloh:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (Qs al an’am ayat 108)
Saudaraku
Yang harus menyertai para da’i dalam melaksanakan da’wah bilhikmah adalah sikap sabar.  Sabar dalam menyebarkan da’wah Islam.  Dengan kesabaran ini insya Alloh para da’i akan bijaksana dalam menghadapi segala jenis tantangan da’wah.  Menghadapi musuh – musuh da’wah tidak boleh asal hantam kromo yang berakibat merugikan da’wah itu sendiri.  Seorang da’i harus mampu membalas segala bentuk keburukan yang dilakukan oleh mereka yang menentang da’wah dengan kebaikan dan keindahan akhlak.  Alloh SWT berfirman:
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Dan tidaklah sama perbuatan yang baik dan yang jahat. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba antara kamu dan dia ada permusuhan jadikan seolah-olah ia adalah teman yang sangat setia”.(Qs: Fushilat : 34).
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. (Qs: Fushilat : 35).
Hadits Rasulullah saw
وعن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الطهور شطر الإيمان والحمد لله تملأ الميزان وسبحان الله والحمد لله تملآن أو تملأ ما بين السموات والأرض والصلاة نور والصدقة برهان والصبر ضياء والقرآن حجة لك أو عليك كل الناس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها رواه مسلم
Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Kesucian itu sebagian dari iman, dan kalimat alhamdulillah memenuhi timbangan. Kalimat subhanallah dan alhamdulillah memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu cahaya, sedekah itu bukti, sabar itu cerminan, Al-Qur’an itu hujjah yang akan membela atau menuntutmu. Setiap manusia bekerja. Ada yang menjual dirinya, ada yang membebaskan dirinya, dan ada pula yang menghancurkan dirinya.” (HR. Muslim)
DA’WAH MENGAJAK MANUSIA BUKAN MENGEJEK MANUSIA,  MENYAMPAIKAN HUJJAH BUKAN MENGHUJAT MANUSIA DAN MENDIDIK BUKAN MENDADAK…
الحمد لله رب العالمين
Haris Amir Falah
#muslimsejati #zonamuslim #indonesia #nusantara #khilafah #bhinekatunggalika #intoleran #Islam #merahputih #islampedia #bangsa #negara

Gus Muwafiq: Gerakan #2019GantiPresiden Gerakan Makar





Baldatuna.com — Tagar itu tidak ada hukumnya. Tapi begitu jadi gerakan #2019GantiPresiden dia bermasalah. Karena presiden adalah struktur kelembagaan perangkat dari yang namanya goverment (pemerintah). Ada nation (bangsa), ada state (negara) dan ada goverment (pemerintah). Simbolnya presiden. Isinya civil. Kalau presiden sebagai bentuk kekuasaan daripada pemerintah gantinya apa? Ya khilafah, perdana menteri, kaisar atau raja.


Demikian disampaikan oleh Gus Muwafiq merespon gerakan #2019GantiPresiden melalui sebuah video singkat berdurasi 1 menit lebih 58 detik. Video tersebut dipublikasika oleh Chanel Youtube Yayasaan Jannur, Sabtu (1/09/2018).

“Kalau dulu ganti soeharto, bukan ganti presiden. Turunkan Soekarno bukan ganti presiden. Makanya kalau gerakan ganti presiden ini gerakan makar. Paling mereka nanti bilang, ‘ini kan maksudnya positif.’ Nggak usah pakai maksudnya. Kami buat Islam Nusantara, kamu bilang agama baru. Padahal kamu kan mestinya ngerti, artinya Islam di Nusantara,” jelas Gus Muwafiq.

Maka untuk urusan ganti presiden, lanjut Gus Muwafiq, saya tidak mau ngerti. Bahasa ganti presiden adalah bahasa ganti sitem. Karena presiden itu sistemnya. Siapa pun yang jadi nanti tetap presiden.

“Makanya kalau istilah ganti presiden dengan sebutan orang mestinya berhenti begitu sudah ada definitive kedua calon presiden. Tapi kenapa mereka terus? Ya karena mau mengganti presiden. Dengan sebuah sistem baru,” tegas Gus Muwafiq

Dalam video singkat tersebut, Gus Muwafiq juga mengatakan jika seandainya dia adalah panglima angkatan bersenjata, maka akan menginstruksikan untuk menangkap kelompok yang menginginkan ganti presiden.

“Tidak ada wilayah demokrasi di situ. Wilayah demokrasinya adalah pilihan presiden. Ini orang bersembunyi di kalimat baru yang sesungguhnya mereka sudah mempunyai persiapan. Jangan salahkan kalau di Surabaya di tolak,” tandas Gus Muwafiq.


  • #muslimsejati

Senin, 03 September 2018

NADIRSYAH HOSEN JELASKAN SALAH KAPRAH KHILAFAH SEBAGAI SOLUSI



Jakarta, NU Online
Penulis buku Islam Yes, Khilafah No: Doktrin dan Sejarah Politik Islam dari Khulafa ar-Rasyidin hingga Umayyah, Nadirsyah Hosen menjelaskan bahwa anak-anak eks HTI kerap mendengungkan khilafah sebagai solusi. Termasuk kaitannya saat ini dengan anjloknya rupiah.

“Anak-anak eks HTI memang lucu-lucu. Rupiah anjlok, mereka bilang solusinya khilafah. Apa mereka sangka di masa khilafah zaman old itu nggak ada krisis ekonomi? Di masa khilafah semuanya makmur? Mimpi! Saya kasih dua fakta saja yah. Simak yuk,” ucap Nadirsyah dikutip NU Online, Senin (3/9) lewat akun twitternya.

Berikut penjelasan Dosen Senior Monash Law School ini terkait fakta sejarah yang dimaksud melalui akun twitternya:

1. Rakyat menderita pada masa Khalifah ke 22 Abbasiyah, Al-Mustakfi. Tidak ada makanan yang bisa mereka peroleh. Rakyat bertahan hidup dengan memakan apa saja, dari mulai rumput, sisa sampah, sampai anjing dan kucing liar.

2. Harga roti dikabarkan enam kali lebih mahal. Bahkan sejumlah perempuan terpaksa menjadi kanibal memakan daging dan tubuh mayat. Kondisi darurat! Bukan lagi sekadar krisis mata uang.  Mau ente sekarang makan bangkai anjing?

3. Sebelumnya, Khalifah ke 13 Abbasiyah al-Mu’tazz sukses bikin negara bangkrut. Untuk bayar gaji pasukan dia gak sanggup, maka dia minta ibunya keluarin duit. Namun ibunya menolak dengan alasan tidak punya uang. Imam Suyuthi dlm kitabnya meragukan jawaban ibunya Khalifah ini.

4. Ada laporan bhw ibunya memang enggan mengeluarkan 50 ribu dinar hasil korupsinya. Kegagalan al-Mu’tazz memenuhi permintaan militer ini fatal. Ini membuat semua fraksi militer (Turki, Faraghinah dan Magharibah) bersatu dan sepakat menyingkirkan Khalifah yang sudah bangkrut ini.

5. Maka pasukan menyerbu masuk dan menyeret Khalifah al-Mu’tazz keluar istana. Sambil mereka memukuli Khalifah yang saat itu masih berusia sekitar 24 tahun. Baju Khalifah koyak di sana-sini dan darah terlihat di bajunya. Sang Khalifah dijemur di panas terik mentari. Tragis!

6. Al-Mu’tazz kemudian dipaksa untuk menulis surat pegunduran dirinya. Dia tidak sanggup menuliskannya. Lantas surat dituliskan dan dia dipaksa menandatanganinya. Setelah itu dia dimasukkan ke dalam kamar tanpa diberi makan dan minum selama tiga hari. Akhirnya al-Mu’tazz dia wafat

7. Ini nasib tragis para khalifah Abbasiyah: Khalifah ke18 al-Muqtadir (dipenggal kepalanya), Khalifah ke19 al-Qahir (dicongkel matanya), Khalifah ke20 ar-Radhi (wafat sakit), Khalifah ke21 al-Muttaqi (dicongkel matanya), Khalifah ke22 al-Mustakfi (dicongkel matanya)

8. Ini sebuah fakta yg menyedihkan yang terjadi di masa khilafah. Jadi, ya biasa-biasa saja, dalam rentang waktu yang panjang ada kalanya kekhilafahan mendatangkan kemakmuran spt di masa Harun ar-Rasyid tapi ada juga periode dimana kemelaratan dan kemiskinan melanda kekhilafahan.

9. Masalahnya, eks HTI itu menyembunyikan fakta krisis dan kebangkrutan yg dialami khilafah zaman old, lantas menyerang demokrasi dan pemerintah RI seolah khilafah itu satu-satunya solusi utk Rupiah yg anjlok. Khilafah zaman old dulu pernah lebih parah lagi.

10. Modusnya eks HTI: menyerang kondisi sekarang dg kisah kejayaan masa silam. Ketika ditunjukkan fakta sejarah bhw khilafah dulu jg bermasalah, mrk ngeles bhw sejarah gak bisa jadi sumber hukum. Lha terus knp ente duluan ngutip sejarah masa lalu?

“Mau tahu lebih detail lagi kisah Khilafah era Abbasiyah? Nantikan buku Islam Yes, Khilafah Nojilid kedua yang akan segera terbit bulan September ini, Insyaallah,” tandas Nadirsyah. (Fathoni)

#muslimsejati

Minggu, 02 September 2018

Apel kebangsaan, Jepara Bumi Aswaja bukan "khilafah"

Jepara, NU Online
Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Jepara menyelenggarakan Apel Kebangsaan dan Doa Bersama 5000 Ansor Banser Se-Jepara yang berlangsung di Lapangan Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, Sabtu siang (1/9) kemarin. 

Dalam apel yang diikuti ribuan Ansor-Banser se-Kabupaten Jepara ini juga diikuti Pengurus PCNU, MWCNU, Banom NU, Koramil serta Polsek setempat. 

Ketua PC GP Ansor Jepara, H Syamsul Anwar bertindak inspektur apel. Dalam amanatnya dia menyatakan Jepara kondusif adalah harga mati pengabdian Ansor Jepara kepada masyarakat luas. Ansor katanya tidak diam jika potensi merusak kerukunan terjadi di Jepara. 

"Saya tegaskan, Ansor tidak pernah membubarkan pengajian, seminar atau bentuk pertemuan majelis belajar lainnya. Justru Ansor selalu menginisiasi digelarnya pengajian dengan perangkatnya, Rijalul Ansor," tandas Syamsul. 

Mereka yang menuduh Banser membubarkan pengajian adalah kelompok yang tidak berpikir persatuan. Mereka tidak berpikir bagaimana mengamankan masyarakat dari potensi kerusakan sosial dan politik yang memecah belah NKRI. 

Dilanjutkan dalam amanatnya, Ansor-Banser justru menyelamatkan pengajian agar berjalan lancar dan tertib. "Berpikirlah dewasa “Gereja saja dijaga, apalagi pengajian”. Tapi Ansor-Banser siap siaga jika ada potensi simbol gerakan radikalisme agama masuk wilayah damai seperti di Jepara," tambahnya.

Pihaknya menegaskan kepada semua kader  dan masyarakat luas, bumi Kartini Jepara adalah bumi aswaja. Bumi tempat disemayamkannya 500 lebih makam auliya’ yang harus dijaga dan dilestarikan. 

"Karenanya, kami tidak rela jika ada simbol-simbol atau lambang bendera ormas terlarang masuk ke Bumi Kartini, mengotori Bumi Kartini dengan ideologi yang sudah dilarang pemerintah, khilafah. Bumi Kartini bukan bumi khilafah. Bumi Kartini adalah bumi aswaja Nusantara," tandasnya. 

Dengan dalih apapun, dengan menunggangi pembicara siapapun, idelogi khilafah tidak pernah bisa direlakan tumbuh subur oleh Ansor-Banser Jepara.

"Kami tidak pernah menolak pendakwah dan pembicara dari manapun, dengan syarat mereka tidak membawa bendera khilafah serta tidak memprovokasi masyarakat Jepara dengan amaliyah-amaliyah furu’iyyah yang harusnya tetap dihormati, Apel Ansor Banser Jepara ini bukan ancaman bagi siapapun," tandasnya.

Dikatakan, apel ini juga bukan unjuk rasa, tapi bagian dari komitmen Ansor-Banser Jepara yang tetap berkontribusi membantu pihak keamanan, baik polisi maupun TNI, untuk menjaga Jepara tetap kondusif, aman, amin, sejahtera. 

"Kami tidak ingin Jepara diusik hanya karena ada satu dua orang yang tidak peduli atas keresahan kami sebagai warga negara yang baik. Pengalaman tragedi Dongos 20 tahun lalu cukup menjadi peringatan agar warga Jepara terus menjaga kerukunan dan kedamaian," pungkasnya.

Adapun sederet kegiatan yang berlangsung siang hingga sore tersebut di antaranya menyanyikan lagu Indonesia Raya, mars ya lal wathan, yel-yel, doa bersama dan istighotsah dipimpin Masrukin serta orasi kebangsaan oleh Abdul Wahab koordinator Forum Aswaja Nusantara (FAN). 

Di samping itu, ada yang menarik pula di event ini, yakni Bagana dengan dibantu CBP-KKP Jepara melakukan bersih-bersih sampah setelah  kegiatan rampung. (Syaiful Mustaqim/Muiz)
#muslimsejati #kontranarasi

Alasan NU bersikukuh pertahankan pancasila

Bekasi, NU Online
Di tengah kelompok yang sedang menggembor-gemborkan  ideologi khilafah di negeri ini, Nahdlatul Ulama (NU) tetap bersikukuh mempertahankan Pancasila. 

Dosen Institut Agama Islam Shalahuddin Al-Ayubi (INISA) Bekasi, Jawa Barat KH Ali Anwar mengungkapkan beberapa alasan NU menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Hal tersebut diungkapkannya saat memaparkan materi ke-NU-an dalam kegiatan Latihan Kader Muda (Lakmud) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), di Pesantren Al-Ajhariyah, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jum'at (31/8).

Dikatakan Kiai Ali Anwar, alasan NU menerima Pancasila adalah karena memiliki prinsip menolak kehancuran lebih diutamakan ketimbang memperoleh keuntungan.

"Kemudian, tidak ada satu pun sila dalam Pancasila yang melanggar syariat Islam," katanya di hadapan puluhan kader IPNU IPPNU Kabupaten Bekasi.

Lebih jauh, ia mengatakan bahwa semua semua sila sudah disepakati oleh para pendiri dan pemimpin bangsa terdahulu, salah satunya Bung Karno.

Pancasila, menurutnya merupakan janji warga negara sebagai bangsa yang harus ditepati. Sebab, umat Islam dilarang melanggar janji agar mampu menjadi teladan bagi semua orang.

"Dalam Islam, janji harus ditepati, kepada nonmuslim sekalipun. Karena yang terpenting dari janji adalah saling menguntungkan, win-win solution dan tidak untuk sebelah," kata Kiai Ali.

Selain itu, Kiai Ali Anwar menegaskan bahwa bangsa Indonesia harus saling menjaga toleransi terhadap bangsa-bangsa yang lainnya. Sebab, yang hidup di Indonesia tidak hanya umat Islam. "Begitu pula dengan yang memperjuangkan (Indonesia) dulu," ungkapnya.

Kiai Ali melanjutkan, sekalipun secara formal Indonesia tidak melaksanakan syariat Islam, tapi di negeri 
ini tidak pernah ada pelarangan ibadah kepada umat beragama. "Mau berapa rakaat kita shalat? mau berapa lama kita puasa? Tidak ada yang melarang," tegasnya.

Karenanya seluruh warga Indonesia, termasuk NU, harus menjaga NKRI, menerima Pancasila, dan UUD 1945. "Itu yang harus digarisbawahi, paling penting," tutupnya.

Sebagai informasi, Lakmud IPNU-IPPNU Kabupaten Bekasi yang bertema Menanamkan Jiwa Patriotik, Berorganisasi di Era Milenial ini berlangsung selama tiga hari, Jum'at-Ahad (31/8-2/9). Ada 40 peserta mengikuti Lakmud ini sebagai legalitas-formal menjadi seorang kader. (Aru Elgete/Muiz)

#muslimsejati #kontranarasi